Sajian Krempyeng Melintas Zaman

Semakin modern sebuah wilayah, semakin cepat pula perputaran ekonomi turut bergerak. Pasar-pasar semakin kompetitif demi memenangkan jumlah konsumen sebanyak-banyaknya. Motif ekonomi dikedepankan, fasilitas dan pelayanan serba teknologis, ritel modern dengan jam buka 24 jam, hingga pasar yang disokong sarana jejaring maya semakin tumbuh subur bak cendawan di musim penghujan. Pasar tradisional, kian hari kian tersisihkan. Mekanisme pasar sebagai penyokong pertumbuhan ekonomi rakyat berubah menjadi cawan keuntungan bagi pemilik modal besar.

Pedagang modern tampil dengan wajahnya yang bersih, strategis, murah, mudah, dan terjangkau membuat masyarakat beralih ke pasar modern. Tawaran produk diskon dan hadiah bagi pembeli seringkali membanjiri di hari-hari besar. Pasar bergerak sepenuhnya atas dasar kepentingan meraup profit sebesar-besarnya, hingga beragam cara pemasaran dan aneka produk untuk diperjualbelikan. Pasar modern perlahan mengubur kultur sosial di dalam pasar tradisional yang masih bertumpu pada prinsip rugi tuna sathak, bathi sak sanak—rugi sedikit, tapi untung bersaudara.

Pun juga di Sekaran, Gunungpati, Semarang, pasar-pasar modern tumbuh subur. Ritel-ritel modern berdiri mengangkang di tepi jalan di tiap-tiap ruas jalan utama. Jasa pengiriman barang juga tumbuh, menandakan aktivitas jual beli melalui sarana jejaring internet turut tumbuh seiring makin meleknya masyarakat dengan teknologi. Hingga tersisa satu pasar tradisional yang terus bertahan melintas zaman, tak sedikit pun kekurangan peminat. Pasar terkenal di sekitar wilayah Sekaran yang menjadi tempat bagi warga sekitar dan mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) berburu kudapan. Pasar itu bernama Pasar Krempyeng.

Keramaian pasar krempyeng
Keramaian pasar krempyeng | © Lala Nilawanti

Pasar Krempyeng sebenarnya bukan nama yang menandai sebuah pasar selayaknya Pasar Johar di daerah Kauman, Semarang atau Pasar Bulu, di dekat Tugu Muda. Krempyeng sendiri lebih condong pada jenis pasar yang ditandai dengan waktu buka. Pasar Malam misalnya, yang merujuk pada malam hari di mana pasar itu dibuka. Pasar Krempyeng justru kebalikannya, yakni pasar yang dibuka pagi buta—biasanya sehabis subuh—hingga ditutup kembali siang tengah hari. Dari salah satu penjelasan pedagang yang cukup lama ada di sini, nama “krempyeng” berarti “sekali habis”, mengacu pada cepat habisnya produk yang dijual di sini, bahkan sebelum matahari berada di atas ubun-ubun.

Pasar Krempyeng didominasi produk jualan berupa makanan kecil, sarapan, sayur-mayur, serta buah-buahan. Sedikit sekali pedagang yang menggelar produk pakaian sebagai jualannya. Dalam salah satu pameran fotografi yang menghadirkan foto-foto lawas di sekitaran Unnes, tampak Pasar Krempyeng dulu belum memiliki bangunan permanen. Para pedagang masih membawa keranjang dari anyaman bambu dan menggelar dagangannya di jalan Taman Siswa dekat lapangan Banaran. Bergeraknya waktu, pemerintah setempat akhirnya membuatkan bangunan sederhana agar para pedagang terlindung dari panas dan hujan.

Para pedagang sudah bersiap sedari pukul 05.00 WIB. Mereka mulai menata barang dagangannya. Jajanan khas di pasar ini adalah sarapan nasi dengan lauk urap sayur, mie goreng, mihun, dan tempe kering, yang ditaburi remahan rempeyek. Para pembeli biasa menyebut makanan itu krempyengan, merujuk nama pasar tersebut. Harganya cukup terjangkau untuk kantong mahasiswa dan warga sekitar, yakni Rp 3.000,-. Sebagai tambahan ada gorengan, martabak, sate telur, bacem tempe-tahu, dan ayam goreng. Selain krempyengan, ada pula penjualan makanan khas desa seperti cenil, jadah, gethuk, dan jenang merah. Menu lengkap dengan harga murah ini banyak menyelamatkan perut-perut mahasiswa yang tengah dilanda krisis keuangan karena kiriman orang tua belum kunjung datang.

Pasar Krempyeng kini makin inovatif lewat kehadiran menu-menu baru. Di sepanjang tepi pasar, mulai padat oleh penjual dengan varian produk seperti sate ayam, roti bakar, roti kukus, bubur ayam, hingga jus buah dan es campur. Pengunjung pun makin ramai, dan pasar ini tetap eksis di tengah geliat pertumbuhan ekonomi di Sekaran. Sekalipun sederhana, Pasar Krempyeng tetap menawarkan hal yang sulit digapai di pasar-pasar modern saat ini.

Menurut penuturan Siti Rofikoh yang sudah berjualan sejak 2006, nasi krempyeng, baceman, gorengan, dan jajanan khas lainnya adalah warisan nenek moyangnya yang terus menghidupi keluarganya. Saat ditanya apakah ada ketakutan Pasar Krempyeng akan tutup, Rofikoh yakin pasar ini akan bertahan. “Pasar ini semakin dijaga pemerintah, Mbak. Karena Krempyeng sangat dibutuhkan masyarakat sekitar.”

Seporsi nasi krempyeng
Seporsi nasi krempyeng | © Doni
Bu Rofikoh sibuk melayani pesanan
Bu Rofikoh sibuk melayani pesanan | © Lala Nilawanti

Yang unik, sekalipun jualan mereka sama, mereka tak menganggap liyan sebagai musuh yang harus disingkirkan. Mereka justru saling tebar sapa dan obrolan. Pedagang di Pasar Krempyeng menganggap diri mereka adalah keluarga. Mereka tidak menganggap sebagai persaingan satu sama lain. Andai dagangan lapak satu sudah habis, maka penjual akan meminta di lapak satunya untuk menyediakan permintaan si pembeli. Siti Rofikoh menuturkan, ia berdagang tidak berdasar cari untung sebesar-besarnya. “Di sini, saling melengkapi. Tidak jarang pedagang satu dengan yang lain saling tukar dagangan.”

Ciri pasar tradisional, salah satunya, adalah terbentuknya hubungan sosiokultural pedagang dan pembeli. Aktivitas jual beli tak sekadar bermotif ekonomi, namun juga bermotif sosial. Di Pasar Krempyeng, obrolan pasar dan bersua kabar masih dapat dijumpai, senyum sumringah penjual, dan kegembiraan kecil pembeli karena diberi bonus makanan. Filosofi yang mengakar urat dalam ruang pasar di Jawa itu tetap hidup. Tak mengapa rugi beberapa uang, tetapi untung kekerabatan.

Krempyeng memang sederhana, tetapi di sisi lain telah membuktikan diri, ia dapat nguri-nguri kebudayaan yang telah berurat akar di masyarakat. Nilai kebudayaan dan sosial yang harmonis tercipta antar pedagang, dan antar pembeli. Saya jadi teringat buku Outliers karya Malcolm Gladwell. Sebagai pembuka kisah, dihadirkan kondisi masyarakat Roseto dari salah satu wilayah Amerika Serikat. Mereka mengonsumsi apa yang juga dikonsumsi masyarakat di luar wilayah itu, mereka bekerja juga sama seperti masyarakat di luar wilayah itu. Namun, mengapa tingkat kematian masyarakat Roseto nyaris tanpa sebab sakit jantung sebagaimana yang terjadi di wilayah-wilayah tetangga? Gladwell menemukan, bahwa interaksi sosial yang akrab antar sesama penduduk di wilayah tersebut adalah pembeda dari wilayah-wilayah lain. Interaksi sosial yang akrab berimplikasi kuat menunjang kesehatan individu. Barangkali, para pedagang di Pasar Krempyeng tidak tahu hal itu. Namun, mereka tahu, relasi kekerabatan jauh lebih mahal harganya daripada sekadar segepok uang.

Lala Nilawanti

Mahasiswa Sastra yang Tengah Berusaha Mencintai Sastra