Rumah itu Bernama Omerta Koffie

Suasana kekeluargaan diantara pengunjung Omerta Koffie
Suasana kekeluargaan diantara pengunjung Omerta Koffie | © Dadang Maranata

Kau tidak butuh membawa teman ke dalam tempat ini. Di sini, adalah tempat di mana berbagai kisah orang dewasa yang selalu singgah untuk pulang. Kau datang sendirian, kau pulang dengan impian. Itu sajian selain kopi yang selalu mereka tawarkan. Omerta Koffie, kedai yang beralamat di jalan Wahid Hasyim No. 9 kota Medan ini kerap menjadi rumah kedua bagi mereka yang haus akan kopi. Seolah sudah jadi mandat, tanpa basa basi untuk segera diteguk. Tak jadi soal beberapa banyak cairan yang tertuang di cangkir, yang terpenting adalah melepas candu menyegarkan raga.

Dalam waktu sekejap kopi akan mencairkan suasana tegang, hingga tak sadar beribu kisah sudah dibagikan dengan atau tanpa pamrih menjelang. Tak perlu takut kalau banyak waktu yang terbuang rugi di sini, di tempat ini; Omerta Koffie. Karena waktu yang berputar di sini bukanlah waktu yang merenggut kesibukan, tetapi memberikan waktu yang sepadan dengan sebuah lepas kesengajaan. Melepas rindu kadang perlu, bukan karena alasan yang menggebu tapi karena hati dan pikiran sedang beradu. Kopi dan jemari terkadang menjadi kombinasi yang pas untuk menghabisi hari yang telah berotasi. Jika tidak memiliki waktu untuk rehat sejenak, jangan harap kita mendapatkan hasil yang dikisahkan. Karena di sini kita tidak perlu untuk bicara bertahan hidup atau mati, kau hanya perlu menikmati.

Ketika mendaratkan kaki pertama kali disini, yang perlu kita perhatikan adalah ubinnya. Terasa hangat mengingatkan suasana rumah jengki di masa lalu. Langit-langit yang menjulang tinggi didampingi lampu gantung yang menyelaraskan cahaya pendar manja kelabu. Jendela yang sejajar dengan pintu, mereka merupakan magnet yang kuat untuk memanggil setiap pengunjung

Memasuki Omerta Koffie, ada properti kayu yang menemani kita duduk dan sanggahan tangan pada mesin jahit yang disulap menjadi meja. Memberikan sensasi multitasking; yang ketika kita berbicara, mendengar, memperhatikan dan menyeruput kopi tak pernah lupa untuk mengayunkan kaki pada pedal yang tersedia. Tak ada jam dinding di sini untuk mengingatkanmu pulang. Jika kau hendak melupakan sesuatu lalukanlah distraksi dengan membaca puluhan novel fiksi yang tersusun rapi di lemari salah satu sudut kedai ini. Bahkan ketika menerawang setiap sudut kedai ini selalu terbesit ingatan akan rumah yang selalu menyediakan pintu yang mengundangmu datang dan pintu yang menantimu pulang.

Ada pun rumah adalah tempat pengaduan segala penat dan rasa lelah tercurahkan. Segala yang mengembara di luar sana membawanya ke dalam dekapan dan lindungan dalam sebuah ruang yang punya sudut keindahan seperti dapur dan kasur.

Masing-masing kita tentu punya cara sendiri mendeskripsikan rumah. Ini bukan soal kumuh atau megah. Sederhana atau bergelimpah. Pernah kita keluar dari rumah. Entah itu karena berbagai anugerah, kalah, resah, mencari nafkah, sampai alasan menikah. Tapi kita tetap menyadari, seindah apapun kehidupan di luar rumah, kita tetap yakin hidup di luar rumah hanya untuk sekadar singgah. Meski satu waktu kita sudah merasa betah dan sudah berlimpah. Apalagi hanya karena selembar ijazah yang membuat kita jauh dari “rumah” karena sedang sekolah atau kuliah.

Begitulah rumah, di kasus yang berbeda kita rutin menyaksikan ratusan ribu hingga jutaan orang selalu terlihat antusias di perantauan kala hari Lebaran atau Natal/Tahun Baru tiba. Bekerja sepanjang tahun di Ibu kota dengan harapan bisa mudik hanya untuk menikmati roti nastar, roti salju atau jenis kacang-kacangan di rumah. Tak hanya itu, banyak orang di seluruh pelosok negeri ini menjadikan mudik sebagai jalan menerobos kerinduan sajian terhangat penuh kerinduan seperti; lontong sayur, opor ayam, rendang dan berbagai sirup yang selalu tersedia di rumah. Tak jarang seduhan kopi di rumah selalu menjadi magnet tersendiri untuk memaksa kita pulang.

Rumah selalu menjadi tempat kita pulang, menerima kita dengan segala kekurangan, memperbaiki kesalahan dan menikmati suasana apapun itu. Pun selalu jadi penghubung antara diri, emosi, rutinitas dan simpati. Rumah, adalah tempat yang selalu kita ketahui segala sebab. Tempat dimana segala pergi dielukan untuk kembali. Tempat untuk berbagi dengan siapa saja dalam sebuah cerita. Di sini, di Omerta Koffie, kita akan mendapatkan paket lengkap sebuah dekapan rumah yang kita butuhkan selama ini.

Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Lampu jalan depan Omerta Koffie belum mengantuk, terlihat masih melek dan bercahaya. Suasana kedai ini pun masih saja ramai, padahal ini akhir pekan, hari Sabtu yang seharusnya mereka menapaki kaki di sebuah peristirahatan, berkumpul bersama keluarga atau sedang kencan. Tapi Omerta Koffie selalu menyajikan keindahan yang selalu dibutuhkan oleh mereka yang lelah dalam perang batin kebutuhan dasar.

Di luar kedai, gemerlap cahaya bintang-bintang bermunculan pertanda tak akan datang hujan. Di sebuah sudut berjarak dengan meja, barista Omerta Koffie pun dengan asyik meracik pesanan pengunjung. Pada pintu masuk kedai ini, terlihat hiruk pikuk keramaian yang menciptakan kehidupan lain yang tak disangka siapa saja. Di antara sekian wajah letih, penuh sesak, yang dapat disimpulkan bahwa ada sebuah ketegangan yang dibiasakan pada rutinitas manusia kontemporer yang penuh kesibukan mengejar uang. Sebuah ketidakberesan yang rutinitas yang penuh kebosanan merengggut kenyamanan hidup.

Di salah satu sudut kedai ini pun terlihat Denny Sitohang, pemilik Omerta Koffie sedang asik meroasting kopi segar yang baru datang. Bagi Denny, yang dulunya seorang mantan jurnalis di sebuah harian media cetak terkemuka di kota Medan, kopi adalah rumah pikiran yang penuh ketulusan, keilkhlasan dan kenyamanan. Ia akhirnya meninggalkan pekerjaannya sebagai seorang jurnalis dan memilih kopi sebagai tempat pelabuhan hatinya. Mendirikan rumah bernama Omerta Koffie dengan segala filosofinya. Karena baginya kopi sangat berbeda dengan dengan tebu atau madu, yang sekeras apapun kita berusaha tak akan pernah menghilangkan sisi pahitnya. Berbeda dengan tebu atau madu yang selalu terlihat manis, tapi menyisihkan rasa yang tabu.

Berbagai jenis kopi nusantara
Berbagai jenis kopi nusantara | © Dadang Maranata

Hal paling unik dari Omerta adalah kedai kopi ini tak mainstream sebab di sini kita tidak menemukan plank kedai ini bertuliskan “Omerta Koffie” sebagai tanda pengenal. Pun layaknya kedai kopi mainstream lain yang mengandalkan wi-fi untuk memikat hati pengunjung terutama kalangan muda-mudi yang kerap manjadi “fakir” Wi-fi. Di Omerta Koffie justru tak ada Wi-fi yang berpotensi akut menyebabkan rasa egois dan apatis karena dunia tak lagi nyata tapi maya.

Filosofi Omerta Koffie sendiri diinspirasi dari Novel yang di tulis oleh Mario Puzzo yang berjudul “Omerta”. Novel ini berkisah tentang kehidupan mafia asal sisillia di Amerika yang menjunjung tinggi solidaritas, penuh dedikasi dan kesetiaan. Jadi menutup mulut dari segala hal yang merugikan komunitas Omerta adalah prinsip yang harus dipegang teguh. Para anggota mafia harus pula menjauhkan diri dari segala niat pengkhinatan dengan membocorkan rahasia organisasi, sebab bagi Omerta, komunitas sudah seperti keluarga sendiri. Tak boleh saling menyakiti, apalagi mengkhianati.

Layaknya kisah di novel, Omerta Koffie adalah kedai kopi lokal modern yang tidak meninggalkan esensi tradisional kedai kopi itu sendiri. Sebab, di sini kita dituntut untuk saling berbicara satu sama lain, bukan komunikasi satu arah yang mereka sajikan, namun 2-3 arah telah berhasil mereka sepakati tanpa harus memberi informasi kepada seluruh konsumen kopi baik atau buruk harus dikatakan dengan penuh kejujuran.

Lebih lanjut, jam buka kedai ini adalah senin sampai sabtu pukul 16.00 sampai 23.00. Artinya tak ada Omerta di hari minggu. Lebih lanjut, Omerta Koffie sendiri mempekerjakan empat orang karyawan yaitu Kadir, Joseng, Mas Kur dan Yumi yang keseluruhannya bisa menyeduh kopi. Solidaritas mereka sangat kuat hingga kemampuan menjadi barista mampu dikuasai mereka berempat dengan mahir, sebab menjadi barista adalah soal kebersamaan yang bisa di akses siapapun. Tentu Omerta Koffie berbeda dengan kedai yang lain yang kerap membagi tugas dengan keahlian masing-masing. Di Omerta Koffie, kebersamaan adalah sesuatu yang sangat penting.

Di Omerta Koffie berbagai kopi nusantara dari Aceh, Kabupaten Gayo, kabupaten Simalungun, Sidikalang, Kabupaten Karo, Lumban Julu hingga Flores, Nusa Tenggara Timur tersedia lengkap. Kita pun bisa melihat sendiri proses pengolahan kopi tersebut dari kopi yang masih ada kulitnya kemudian green bean, diroasting lalu berbentuk bubuk hingga siap saji. Penyajiannya tergantung selera pengunjung, berbagai seduhan seperti; espresso, latte, americano, V60 dan tubruk. Segelas kopi dihargai Rp10-15 ribu. Selain tentu saja, ada beberapa menu cemilan lain seperti burger, mie instan, hingga ayam penyet.

Benar bila mengupayakan hal-hal kecil itu sulitnya minta ampun. Tapi untuk mencoba hal-hal yang baru di luar “rumah”, kenapa tidak? Mari kosongkan cangkirmu untuk sebuah pengalaman baru yang menjanjikan seru kala senja hadir di kota Medan. Pun ketika ketika matamu mulai terbuka dari tidur panjang di sudut terindah di rumah bernama kasur, lalu rasa enggan menyelimutimu untuk menutup mata kembali. Temukan kopimu di Omerta Koffie sebelum kopi menemukanmu. Sebab, ada Omerta yang menantimu datang, Ada Omerta yang menantimu pulang.

Rani Tambunan dan Anwar Saragih

Rani Tambunan adalah seorang Penyuka Espresso, Crafter dan Facilitator bisa dihubungi via twitter @ibumimpi. Anwar Saragih adalah Penulis dan Peminum kopi bisa dihubungi via twitter @anwargigi.