Rujak Cingur Makanan Nostalgia Arek Perantau

Saya terbiasa bangun pagi-pagi sekali, dan aktivitas rutin yang selalu saya lakukan adalah membuka beranda facebook untuk mengecek rutinitas mahluk hidup dalam beragam keluh kesah. Dan entah apa sebabnya, tiba-tiba yang muncul pertama adalah foto sepiring rujak cingur oleh Pak Halili Hasan yang diposting dengan kata-kata yang bikin saya kangen suasana Jawa Timur. Bagaimana tidak? Rujak cingur merupakan makanan yang dianggap paling lezat oleh Bapak-Ibu saya, sehingga dari sejak kecil lidah ini diasupi rasa petis yang legit manis namun tak menghilangkan kepekatan gurih kental bau ikan.

Setelah cukup lama terdiam terbayang-bayang rumah saat melihat beranda foto rujak cingur, saya putuskan pagi itu untuk sarapan rujak cingur. Saya tidak peduli meski biasanya di waktu pagi perut wajib diisi beberapa sendok nasi. Yang ada dalam pikiran hanya rujak cingur karena lidah menelan ludah berulang kali.

Setelah bersolek, saya bergegas menuju warung yang sudah dipromosikan Pak Halili Hasan tersebut. Lumayan dekat dari indekos tempat saya, kira-kira sekitar tujuh menit jarak antara Asrama Haji Yogyakarta menuju Jalan Kaliurang Km 6 itu sampai tanpa terhalang macet.

Sesampainya di lokasi, warung tersebut ternyata bernama “Soto Suroboyo”. Saya tercengang, pikir saya kenapa soto? Setelah beberapa detik mengarahkan mata ke baris-baris menu yang disaji untuk memastikan tak salah warung, dan nah.. saya temukan: rujak cingur spesial, rujak cingur kupat, rujak cingur non kupat, rujak non cingur, dan rujak non cingur kupat. Saya kembali menelan ludah.

Daftar menu yang ditempel di tembok oleh warung "Soto Suroboyo" milik Ning Dewi.
Daftar menu yang ditempel di tembok oleh warung “Soto Suroboyo” milik Ning Dewi. | © Winna Wijaya

“Mau pesan apa?” sambut mbak-mbak berjilbab biru di seberang meja kasir.

“Rujak cingurnya satu ya,” kata saya sembari melihat-lihat piringan sayuran di etalase.

“Pakai kupat atau enggak?”

“Emm.. (karena makan kupat sama dengan makan nasi) pakai kupat ya.”

“Enggak pedas atau pedas?”

“Pedas banget, sekalian teh panas manis satu.”

Memang saya akui, di Jogja ini ada beberapa tempat yang menjual rujak cingur. Tetapi setelah empat tahun singgah di sini belum pernah saya menyicipnya. Barangkali disebabkan kurang pergaulan, atau memang selama ini tak terbersit sama sekali soal rujak cingur. Sementara ketika ada singgungan sedikit soal itu melalui sosmed, rasanya diri ini seakan terlempar ke masa-masa di mana rujak cingur pedas merupakan makanan masa kecil saya sehari-hari.

Rujak cingur pedas yang khas adalah cingur. Cingur yang kata Bapak saya diambil dari potongan hidung sapi. Awalnya orang selalu terbayang jorok di telinga orang-orang yang belum pernah mencobanya. Bahasa Jatimnya mbenyek, eh tapi bagi saya justru kenyal-kenyal berlendir alias mbenyek itulah yang menambah sensasi kelezatan rujak cingur. Dan yang jelas campuran petis hitam yang gurih-gurih asin bikin lahap menghabiskan sepiring.

Salah satu pelengkap menikmatinya adalah kerupuk. Yah, kerupuk seperti barang yang menjadi pengantar setelah beberapa sendok rujak masuk ke dalam mulut. Sembari mencecap nikmat pedas serta petis kecoklatan yang kenyal dengan cingur, kita tengahi dengan kriukan kerupuk.

Rujak Cingur seharga Rp 15.000 berisi cingur dan kupat yang saya nikmati. Teh panas manis dan kerupuk jadi pelengkap nikmat.
Rujak Cingur seharga Rp 15.000 berisi cingur dan kupat yang saya nikmati. Teh panas manis dan kerupuk jadi pelengkap nikmat. | © Winna Wijaya

Terlepas dari segala proses menikmatinya, warung yang bernama “Soto Suroboyo” telah berhasil menyajikan nostalgic culinary bagi perantau asal Jatim. Di tengah bejibunnya warung-warung makan, entah kita menyebutnya kedai, cafe, lesehan, restoran, dan istilah-istilah lainnya. Bagi saya keberadaan warung makan yang memiliki kekhasan yang akan selalu dicari.

Meski pada mulanya sempat berpikir, mengapa harus ada nama kota? Supaya lebih menguatkan identitas agar mudah diakui atau malah hanya tempelan saja? Kata “Suroboyo” sempat saya tanyakan kepada mbak-mbak yang berjaga di kasir, dengan tersenyum bilang, “Iya ini yang punya asli Surabaya, namanya Mbak Dewi.”

Kalau soal harga, lumayan buat ukuran anak muda yang ingin bernostalgia. Rujak cingur kisaran Rp 14.000 sampai Rp 21.000. Kalau tanpa kupat hanya Rp 14.000, dengan kupat Rp 15.000 disarankan bagi yang belum sarapan karena setara makan nasi. Dan yang Rp 21.000 itu level spesial. Saya belum mencoba yang spesial sih. Barangkali Anda berminat, silakan datang dan mencoba rasa spesial rujak cingur ini. Saya jamin Anda pasti ketagihan.

Winna Wijaya

Senang bersepeda, dan sehari-hari minum kopi.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405