Ruang Putih, Ruang Bermain dan Belajar

Workshop Bass oleh bassist jazz kondang Indro Hardjodikoro
Lihat Galeri
6 Foto
Suasana konser di Ruang Putih, halaman Tikalika Gallery
Ruang Putih, Ruang Bermain dan Belajar
Suasana konser di Ruang Putih, halaman Tikalika Gallery

© Ruang Putih

Konser Bonita & the hus BAND
Ruang Putih, Ruang Bermain dan Belajar
Konser Bonita & the hus BAND

© ESP+ Photography

Rull Darwis
Ruang Putih, Ruang Bermain dan Belajar
Rull Darwis

© Ruang Putih

Workshop Bass oleh bassist jazz kondang Indro Hardjodikoro
Ruang Putih, Ruang Bermain dan Belajar
Workshop Bass oleh bassist jazz kondang Indro Hardjodikoro

© Ruang Putih

Workshop Harmonika bersama legenda Kang Hari Pochang.
Ruang Putih, Ruang Bermain dan Belajar
Workshop Harmonika bersama legenda Kang Hari Pochang.

© Ruang Putih

Workshop Gitar oleh Ginda Bestari
Ruang Putih, Ruang Bermain dan Belajar
Workshop Gitar oleh Ginda Bestari

© Ruang Putih

Oktober 2014, saya mengikuti kursus privat komposisi bersama Bapak Musik Kontemporer Indonesia, Slamet Abdul Sjukur selama 5 hari. Kala itu, Beliau menyuruh saya membuat sepotong ‘lagu’ dari 1 oktaf diatonis. Tanpa bantuan alat musik, saya harus menuliskan notnya dalam 10 menit. Selesai itu, saya ‘mendendangkan’ musik tanpa lirik tersebut. Hasilnya, cupu abis. Lalu beliau mencontohkan, humming sepenggal musik. Terdengar seperti musik Gregorian.

“Mas (beliau nyentrik sekali, usia 79 ngotot dipanggil “Mas”), kok kayak Gregorian? Itu juga termasuk kontemporer?”

“HANYA ADA DUA JENIS MUSIK DI DUNIA INI: MUSIK YANG ENAK, DAN MUSIK YANG NGGAK ENAK.”

Lima hari yang sangat berkesan — meskipun saya nggak serta-merta jadi komposer jago setelah itu. Lima bulan kemudian, 24 Maret 2015… beliau wafat.

Pernyataan beliau itu yang saya pegang: saya berusaha belajar menikmati semua jenis musik. Lho, kenapa harus belajar? Suka ya suka, nggak suka ya ngggak suka. Saya nggak sependapat. Saya meyakini semua jenis musik lahir dari cinta (cinta pada musiknya, maksud saya). Dan cinta itu universal.

Semua jenis musik, dari barok sampai dangdut, mencatat segelintir seniman-seniman yang luar biasa. Yang tidak melulu bertarget uang dan selera pasar. Menariknya, pemusik yang bagus nggak selalu pemusik yang terkenal. Saya sangat suka dikejutkan dengan itu: mendengarkan sesuatu yang membuat saya spontan berhenti beraktifitas, lalu menikmati hempasan perasaan “bawalah aku ke hatimu…”. Dan itulah yang terjadi di Ruang Putih, kemarin.

Tempat duduk Ruang Putih di kala senja.
Tempat duduk Ruang Putih di kala senja © Ruang Putih

Saya mengenal Ruang Putih lebih dari 5 tahun lalu. Ruang Putih awalnya hanya galeri mebel art deco bernama Galeri Tikalika, di Jl. Bungur 37, Karangsetra, Bandung. Pemiliknya, Macky Hikmatin Wargahadibrata, adalah pecinta musik blues. Dari relasi temannya teman, saya beberapa kali datang untuk nonton ataupun ikutan main. Tiap acara musik reguler, selalu diakhiri dengan jam session.

Sebelum membuka Ruang Putih, tahun 1998 Kang Macky pernah membuka Café Concordia di klub dan restoran peninggalan jaman Belanda, Bumi Sangkuriang. Di sana ia dekat dengan almarhum Harry Roesli. Dari situ, Kang Macky mengenal banyak pemusik lain segala genre.

Tahun 2010, diadakan reguler blues pertama di Ruang Putih. Reguler sebulan sekali. Sebagai generasi kelahiran 80an, saya nggak mengalami masa keemasan musik blues. Tapi saya belajar menikmati. Ada beberapa jenis musik yang pusat daya tariknya terpadat pada chord, ada yang pada melodi, pada ritme, pada aransemen, lirik, emosi, atau yang paling gila adalah gabungan semuanya. Nah, kekuatan paling menonjol dari blues, yang saya tangkap, adalah pada emosi.

Ada beberapa pemain blues Bandung yang saya suka. Nomor satu adalah idola saya, Mbak Imelda Rosalin (kakaknya Mbak Dewi Lestari dan Arina ‘Mocca’). Mbak Imel adalah pianis sekaligus vocalis (selain juga arsitek handal). Beberapa alat musik lain pun bisa ia mainkan dengan mencengangkan, seperti akordeon, pianika, juga flute. Itu yang saya pernah nonton. Tiap kali nonton dia main dan nyanyi blues-jazz, saya seringkali pulang dengan sedih: kenapa saya nggak bisa bermain seperti dia.

Pemusik blues lain yang mengejutkan saya adalah, Ginda Bestari (Ginda & The White Flowers). Saat itu saya baru selesai ikutan main 2 lagu dengan grup lain, lalu mengobrol di pinggir. Saat diumumkan reuni band yang akan main, saya nggak memperhatikan, karena memang nggak pernah dengar. Sepuluh detik setelah mereka main, saya justru lari ke dekat panggung.

Kemarin, ada grup reguler baru: Folk Night. Definisi folk sendiri memang susah untuk dipagari. Kalau saya buka di Youtube, lagu-lagunya gabungan unsur ballad, country, blues, irish (atau etnik lain), dan entah apa lagi. Biasanya dimainkan dengan alat musik akustik minimalis — gitar yang paling sering.

Konser Duo Ari Reda
Konser Duo Ari Reda © Ruang Putih

Bulan sebelumnya, Folk Night menghadirkan duo Ari Reda. Ari Malibu adalah personel grup Pahama yang cukup terkenal di akhir tahun 70an. Tapi empat grup yang main kemarin malam, tidak ada yang saya kenal. Meski demikian, saya datang juga. Tanpa ekspektasi, berharap dikejutkan.

Adalah penampil kedua, Rull Darwis. Laki-laki usia 50an, dengan rambut dan jenggot abu-abu dan berkacamata, main gitar sendirian sambil bernyanyi. Beberapa lagu berlalu, saya mendengarkan sambil melihat-lihat foto Ruang Putih di gawai. Lagu ke sekian (saya gak ingat judul yang dia sebutkan, hanya sekilas mendengar bahwa itu lagu tentang anak lelakinya)… tiba-tiba telinga saya membawa saya menengadah dan menutup gawai yang saya pegang.

Tak lama, saya merasa tenggorokan saya tercekat — padahal saya gak dengar jelas liriknya apa. Ajaib! Kejutan yang menyenangkan.

Itulah yang membuat saya ketagihan menonton konser. Telinga saya nggak terlalu mahir mencerna kerumitan chord, melodi, aransemen, atau lirik sekalipun. Pemusik yang saya suka adalah, yang entah bagaimana bisa mengejutkan saya. Bahkan dengan pemusik yang sama, nggak setiap kali ia berhasil. Juga nggak setiap lagu dari penyanyi itu: kadang lagu A kali ini ‘kena’, kali lain yang kena lagu B, kadang nggak ada yang kena sama sekali.

Pemusik paling favorit adalah yang paling konsisten membuat saya happily surprised.

Screening Film Blues
Screening Film Blues © Ruang Putih
Workshop Bedah Gitar, oleh Amar Chaniago
Workshop Bedah Gitar, oleh Amar Chaniago © Ruang Putih

Selain tempat konser, Ruang Putih juga tempat belajar. Mereka rutin mengadakan workshop, juga menonton dan membedah film musikal. Yang paling sering adalah workshop tentang gitar dan harmonika — komunitas yang paling rajin nonton reguler. Dulu pernah diadakan reguler musik jazz dan reggae, namun yang sekarang rutin diadakan adalah reguler musik blues, folk, dan saya dengar bulan depan akan mencoba country. Konsernya… GRATIS.

Ruang Putih mendapatkan keuntungan dari penjualan makanan dan minuman. Ada menu Indonesia dengan harga yang sangat murah untuk dapat bonus nonton konser dan ikutan jam session. Mie Tek tek, Rawon, Nasi Goreng Roa, dan Sotomie Bogor, semua dibandrol 29K. Untuk minuman, ada cingcau hijau, bermacam teh dan kopi, plus minuman favorit yang belakangan jadi langka di Bandung karena aturan pemerintah, bir.

Oh iya, Ruang Putih juga menyewakan studio musik dengan harga 50 Ribu perjam.

Dulu Bandung terkenal dengan stok pemusik segala genre, namun kini sudah memudar. Sebabnya: Semakin sedikit ruang apresiasi. Café-café memilih untuk memakai hiburan gratisan, yaitu anak-anak SMA / kuliahan non-profesional yang mau main tanpa dibayar, berbekal skill minim, dan kotak sumbangan. Hotel-hotel berbintang memangkas anggaran reguler musik karena kalah bersaing dengan penginapan Bed & Breakfast baru yang menjamur. Orang-orang marketing perusahaan, ketika membuka tender grup entertainment, juga tidak bisa mengapresiasi musik — mereka hanya bisa mengapresiasi harga murah. Tidak ada lagi pasar untuk adu skill dan kreatifitas konsep. Hanya tinggal perang harga dan persaingan keindahan visual (muda, cantik, ganteng, seksi). Seperti juga yang terjadi di acara-acara televisi kita.

Semoga akan tumbuh lagi ruang-ruang lain di Bandung seperti Ruang Putih, di mana kami bisa bermain dan belajar menyelami musik, menyelamatkan jiwa kami dari komersialisme dan pembunuhan karakter — eh, nggak terlalu gombal kan?

Fransisca Agustin

Pemusik kuli yang masih terus berusaha menggabungkan antara jurus-jurus Kungfu Hustle dengan David Foster.