Romantisme Piringan Hitam, Buku dan Secangkir Kopi di Kota Kecil

Pemandangan di lantai dua, ditemani Bima di sana.
Pemandangan di lantai dua, ditemani Bima di sana.

Sebait sajak dari Sapardi Djoko Darmono yang berjudul “secangkir kopi” kubaca di atas meja kayu sederhana, bersebelahan dengan secangkir kopi yang uapnya sesekali mengganti peran oksigen yang kuhirup, letak mereka bersebalahan, untuk kemudian saling memaknai tanpa perlu saling berbicara.

Saat itu hujan baru selesai membasahi kota kecil yang sudah mulai dipenuhi ruko-ruko angkuh yang menjulang, menghapus jejak-jejak kenangan lapang bola yang saban sore kukunjungi, namun namanya kenangan masa kecil, ia tetap tinggal tanpa ikut menua. Kota kecil itu bernama Sukabumi.

Saat itu hujan baru selesai membasahi kota kecil tempat kelahiranku, dan kudapati diriku sendiri duduk manis dalam sebuah ruangan, di kedai kopi, yang sepi dari bunyi kendaraan bermotor.

Aku menemukan kedai ini, secara tak sengaja ketika sedang dalam perjalanan menuju rumah. Sebuah neon box berwarna kuning dengan logo pemutar piringan hitam membuat mataku tak bisa menolak untuk tak bertanya, “Tempat naon eta?” setelah makin dekat, ternyata sebuah kedai kopi. Sayangnya pada saat kulewati, kedai masih tutup. Maka, aku pun berniat untuk kembali lagi sorenya.

Sore pun tiba, waktunya menuntaskan rasa penasaran, pikirku.

Analog Koffiehuis
Analog Koffiehuis

Aroma kopi menyeruak saat aku memasuki ruangan. Kutemui sosok yang sepertinya tak asing bagiku, seseorang yang kadang kutemui dalam cuitan-cuitan khas-nya di @tweet_erland, dan ternyata ia lah yang saat ini mengelola Analog Koffiehuis.

Aku tak segan untuk segera mengajaknya berkenalan dan berbincang, belajar darinya tentang bagaimana awalnya analog Koffiehuis terbentuk, tentang ruang interaksi yang dilahirkan, termasuk piringan hitam, rak buku, kartu gapleh, sampai hajatan malam puisi dan record store day yang sempat ada di sana.

“Saya bisa dibilang nekat dan sok tahu membuka kedai ini”, Kang Erland mengutarakan tentang awak mula Analog Kopi dibentuk. Namun, menurutku, yang terpenting adalah bukan tentang siapa yang paling “pintar” meracik kopi. Tidak. Kopi selalu berhasil menemukan tempat di hati masing-masing peminumnya.

“Dari awal, Kedai ini memang segmented banget, seiring jalannya waktu, terlihat. Yang pengen ngopi sambil denger musik yang berbeda, sambil baca-baca buku, terlihat, mana yang bener-bener seneng ngopi. Tapi Wi-Fi suka jadi perdebatan bagi saya dan temen-temen, ada yang memang butuh, namun ada yang berpendapat, tidak ada wi-fi merupakan sebuah nilai tambah”, kang Erland menambahkan. Terkadang saya nyaman dengan beberapa hal tersebut, ketika lokasinya yang tidak terlalu dekat dengan jalan raya, terkesan sedikit sepi, namun memang menyediakan kehangatan dan keakraban di dalamnya. Terkadang apa yang diutarakan oleh Pak Yasraf Amir Piliang memang terasa olehku, saat kita sudah overdosis dengan segala kebergegasan, kecepatan, dan kesigapan dalam dromologi waktu, duduk di kedai kopi, dan merasakan bahwa waktu ditiadakan, terkadang menjadi kemewahan.

Aku bertanya, tentang pemilihan nama Koffiehuis. “Nama koffiehuis biar kebelanda-belandaan aja dan secara tidak sengaja, cat tembok pun berwarna oranye, Sejarah kopi di Nusantara kan awalnya dari Belanda, Belanda menyuruh penduduk Nusantara menanam Kopi itu ya Belanda, menanam kopi awal-awal di Sukabumi, kemudian Malabar”, katanya.

Sapaan dan Secangkir Kopi

Menyelami dan menikmati aroma, rasa , kepahitan, keasaman dan segala makna yang kau dapati dari secangkir kopi, itu adalah ritual wajib yang harus kulakukan. Bagiku, beragam rasa kopi seperti sebuah kolase dalam kehidupan yang kita alami. Menyelami, setiap karakteristik kopi tak lebih seperti menyelami karakteristik seorang perempuan yang kau cintai, kau perlu mengecupnya, menebak kemudian merasakan perasaan yang timbul, hingga muncul makna yang kau dapatkan dan kau ketahui bahwa dia adalah perempuan yang benar kau cintai. Begitu pula dengan kopi, bedanya, secangkir kopi tak pernah meninggalkanmu.

Secangkir Sunda Hejo kopi, yang kini menemaniku, adalah kopi manis. Rasa gulali memenuhi indera perasaku, dengan body yang tipis, nyaris tak meninggalkan kepahitan sedikit pun. Tak lama seorang yang kuceritakan tadi, datang, “Gimana, kopinya enak?” aku mengiyakan sambil sedikit menjelaskan tentang rasa yang kutemui dari secangkir kopi tersebut. Kemudian, Kang Erland menjelaskan tentang biji-biji kopi yang ada di kedai tersebut, lengkap dengan roasting, ditambah rencana me-roasting biji kopi yang berasal dari Sukabumi yang kemudian ia ingin coba eksplor nantinya.

Tak kan kau temui ruangan yang mempersilahkan sinyal kuat bagi gadget-mu. Agaknya memang bukan kebetulan, namun, itu adalah isyarat agar kau tak melulu menunduk memandangi layar handphone dan mengabaikan sekelilingmu. Di kedai ini, kudapati kehangatan dan keakraban. Sang pemilik kedai tak malu dan peduli terhadap pengunjung yang meminum kopi di tempatnya, ia melakukannya dengan cara yang paling sederhana: bertanya.

Piringan Hitam yang ikut menyapa secangkir kopi

Kedai Koffiehuis ramai dengan perbincangan manusia dengan beragam tema masing-masing, namun yang menarik ialah sepasang turntable dan jajaran piringan hitam koleksi Kang Erland yang menemani setiap keriuhan kedai dengan iramanya sendiri. Dari piringan itu, terdengar beberapa alunan musik: Gambang Kromong, Pink Floyd, The Police, Yes, Jazz Samba Encore, Ron Carter, Nirvana, Mocca, Pandai besi, dan beberapa nomor brazillian jazz seperti stan getz, hingga album almarhum Bang Benjamin Sueb pun ikut bercakap melalui piringan hitam yang terus berputar. Mau tidak mau, menikmati secangkir kopi memang harus memanfaatkan semua panca indera kita.

Piringan hitam yang tak berhenti berputar
Piringan hitam yang tak berhenti berputar.

Aku adalah seorang penikmat musik. Sama dengan perempuan, musik adalah hal yang membuatmu jadi mudah layu, atau jantungmu berdegup kencang, atau apapun yang kau rasakan. Ia adalah sesuatu yang dapat kita cintai dan mudah kita interpretasikan dengan khusyuk. Merasakan kopi dan mendengarkan musik yang mengalun adalah dua hal mutlak, yang harus kau dapatkan jika kau ingin membiarkan dirimu mengangguk tanpa alasan. Dan Kang Erland, rupanya menyadari hal ini. Ia tak hanya ingin membiarkan indera pengecap saja yang menikmati. Atas dasar kecintaan terhadap piringan hitam dan musik, ia pun ingin mempersilahkan pengunjung untuk berbagi kenikmatan telinga.

Jajaran piringan hitam yang mungkin ada beberapa yang lebih tua dibanding umurku, berbaris rapi di ujung sebelah kiri, jika mereka memiliki mulut, aku rasa, mereka akan selalu tersenyum pada setiap pengunjung, dan tak pernah merasa lelah meski terus bergantian diputar dari sore hingga menjelang tengah malam.

Buku yang tak kan membiarkanmu kesepian menemani secangkir kopi

Barangkali, setiap kita memiliki ruang masing-masing tempat menyimpan tumpukan buku dengan rapih, sebagai teman agar tak terlalu kesepian.

Begitupun kedai ini, rak buku yang dengan mudahnya kau lihat berdiri bersebelahan dengan tempat piringan hitam diputar. Kau akan mendapati beragam buku dari mulai tulisan mengenai Mao, Che Guevara, Tan Malaka, buku puisi dari Sapardi Djoko, komik Tintin dan Lucky Luke, hingga kumpulan majalah national geographic entah dari edisi kapan. Aku kira itu cukup untuk menjadi teman baikmu.

Tempat duduk favorit ketika datang sendirian, dekat dengan jenis biji kopi yang bisa kau pilih.
Tempat duduk favorit ketika datang sendirian, dekat dengan jenis biji kopi yang bisa kau pilih.

Begitupun aku, ketika datang ke kedai ini sendirian, selalu kuambil sebuah buku dari rak sana untuk kuajak berkencan agar aku tak terlalu kesepian.

Seperti sajak Sapardi Djoko Darmono, berjudul Secangkir Kopi

“secangkir kopi yang dengan tenang menunggu kauminum itu, tidak pernah mengusut kenapa kau bisa membedakan aromanya dari asap yang setiap hari kau hirup ketika berangkat dan pulang kerja di kota yang semakin tidak bisa mengerti kenapa mesti ada secangkir kopi yang tersedia di atas meja setiap pagi”

Dan yang aku tangkap dari percakapan yang singkat itu adalah tentang bagaimana kecintaan Kang Erland terhadap ruang interaksi yang dibangunnya melalui relasi antara piringan hitam, buku, dan tentunya Kopi itu sendiri.

* Foto-foto diambil dari akun twitter @analogkopi

Mochamad Andi Nurfauzi

Lelaki yang terkadang nulis Jazz, terkadang bekerja di NGO, seringnya berduaan sama istri.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405