Riuh yang Asyik!

Suasana riuh sekali. Beberapa kelompok anak muda tertawa keras. Beberapa lain saling terlibat dalam pembicaraan yang hangat. Sesekali para pengantar makanan-minuman dengan nampan yang mereka bawa ikut nimbrung di meja-meja pelanggan. Riuh yang menyenangkan.

Bjonk, nama kedai kopi yang saya datangi ini. Tempatnya asyik, dengan sebagian kursi dari kayu dan sisanya terbuat dari bambu. Ada satu tempat spesial di sisi depan kedai, berupa gazebo yang tepat berada di atas pintu masuk. Gazebo tersebut terbuat dari bambu juga, menambahkan kesan asyik pada keseluruhan penampilan Bjonk.

Saya memilih tempat yang paling dekat dengan dapur. Beberapa orang di balik meja kasir sedang cekatan meracik menu yang dipesan pelanggan. Ketika saya sudah mendapat tempat duduk dan selesai memesan, nampak para pengunjung datang tak habis-habis.

Bjonk
Seperti ngopi di rumah kawan © Eko Susanto

Kopi yang saya pesan tergolong unik: Mint Coffee. Ketika pesanan tersebut datang, saya langsung mencoba menyeruputnya. Hmm… rasa pahit kopi dan semriwing dingin daun mint menyusup ke kerongkongan saya. Dengan sebatang rokok yang sudah tersulut sedari tadi, ini merupakan perpaduan yang cantik.

Kopi yang saya pesan memang cuma kopi reguler, tapi dengan daun mint yang dicampurkan ke dalamnya ketika air mendidih, aroma yang keluar menjadi lebih halus dan manis. Berbalik 180 derajat dari kopi yang dicampur dengan alkohol. Saya kira, selain sebuah pelukan lembut dari orang terkasih, yang bisa menyuntikkan semangat jenis ini adalah Kopi Mint dari Bjonk, yang saya rasakan malam ini.

Salah satu orang yang ada di balik Kopi Mint dan serangkaian jenis kopi yang tersedia di Bjonk adalah Bariek Ahmad Hasan. Bariek adalah seorang pemuda berusia 24 tahun yang masih berkuliah di YKPN Yogyakarta. Ia masuk YKPN setelah pada tahun 2009 menyelesaikan kuliah Diploma 3 Jurusan Akuntansi di UGM.

Bariek menjelaskan, sebelum berdiri di tempatnya yang sekarang, Bjonk sejak 2007 berdiri di lahan yang persis berada di sebelah tempat Bjonk sekarang. Lahan itu kini cuma berupa tanah kosong yang seolah tak bertuan.

Bariek mengungkapkan, awalnya dulu sebelum pindah Bjonk ingin menyewa kedua lahan yang bersebelahan itu untuk perluasan lahan Bjonk juga. Namun sayang, pihak Bjonk dan pemilik lahan tak mencapai kesepakatan harga.

“Kalau di sini, mas, istilahnya saling kenal semua,” tutur Bariek menjelaskan riuh yang sedari tadi bertebaran di Bjonk, “Hampir semua pelanggan rutin datang tiap malam ke sini. Jadi ya kita kenal semua. “Bjonk itu tempat ngopi yang gak mahal, enak buat nongkrong. Kami punya tagline: Ngopi Di Rumah Kawan.”

Sekali lagi saya membuktikan perkataan Bariek. Beberapa kali para pegawai Bjonk duduk bersama para pelanggan lalu bercanda seru. Tak ada sekat dan tak ada batas diantara para pengunjung dan pegawai.

Situasi ini dirangkum oleh Bariek dengan satu kalimat yang sekaligus menjelaskan konsep dasar Bjonk, “Di sini gak formal banget.”

Selain tak ada formalitas, harga kopi di Bjonk juga menunjukkan keasyikan khas anak muda yang nongkrong di Bjonk. Rata-rata harga yang ada di Bjonk berkisar antara Rp 3.000,- hingga Rp 10.000,-. Hanya menu-menu tertentu yang melewati angka sepuluh ribu rupiah.

Dua hal itulah yang saya kira menjadi daya tarik utama hingga Bjonk memiliki pelanggan tetap yang terus-menerus datang setiap malam. Bahkan Bariek mengatakan, ada peristiwa yang agak aneh terjadi di Bjonk. Saat itu ada seorang pengunjung yang bertahan hingga 24 jam lebih di Bjonk, sekalipun pada pagi hari Bjonk tutup. Peristiwa aneh ini tak hanya terjadi sekali, tapi dua kali.

“Yang pertama ada orang yang suka main game online. Dia main mulai malam sampai malam lagi. Jadi di sini waktu kami buka, tutup, buka lagi, hahaha,” tutur Bariek sambil tertawa ngakak, “yang kedua ya sama. Cuma berkelompok, main kartu. Kurang kerjaan paling ya.”

Awak Bjonk memang tak mempermasalahkan adanya pelanggan yang demikian, yang sanggup bertahan bahkan ketika mereka telah tutup. Karena ketika pagi, ada warung nasi yang buka menggantikan Bjonk.

Ketika saya telisik lebih lanjut mengenai kopi yang digunakan oleh Bjonk, Bariek hanya menjawab, “Kita pakai satu jenis kopi saja.” Saya kejar terus, memakai jenis biji kopi apakah Bjonk, Bariek tak bisa menjawab. Meskipun menurut saya agak aneh, saya mengangguk saja saat Bariek berujar, ia tak tahu jenis biji kopi apa yang dipakai.

Selain Kopi Mint yang saya pesan, Bjonk juga menyediakan berbagai jenis menu berbahan dasar kopi lain. Seperti tentu saja kopi hitam. Di sela saya menikmati Kopi Mint yang sudah sampai setengah, Bariek mengakui kalau menu andalan Bjonk tak hanya kopi, melainkan juga coklat.

Salah satunya adalah Brotherhood. Menu ini adalah menu khas Bjonk yang merupakan kombinasi dari cokelat dengan campuran lain. Satu lagi, ujar Bariek, “Karena yang punya Bjonk itu orang asli Magelang, jadi ada menu es tape dan tape susu.” Sayang sekali ketika saya datang, pemilik Bjonk yang bernama Ronni Matuda sedang teramat sibuk hingga tak bisa diajak nongkrong barang sejenak.

Bjonk
On table © Eko Susanto

Untuk menghindari kebosanan para pelanggan yang kerap datang, Bjonk sering juga menambah atau mengurangi menu. Brotherhood dulu juga pernah ditampilkan, namun kemudian ditarik karena jarang yang memesan. Belakangan Bjonk mengeluarkannya lagi dan laris.

Tentu saja selain sambungan internet nonstop, Bjonk juga memberi tambahan fasilitas kepada para konsumennya agar tak lari. Salah satunya adalah menampilkan talenta-talenta muda yang pandai bermusik.

Bjonk memiliki daftar tetap tampilnya kelompok musik atawa band-band ini, yakni pada senin dan rabu malam sejak pukul 20.00 WIB. Sedang khusus untuk Jumat malam, akan ada penampilan spesial dari grup musik yang beraliran blues.

Satu lagi, Bjonk jua tak ketinggalan ikut menyiarkan siaran langsung pertandingan sepak bola di tengah dan akhir pekan. Bisa dipastikan, jika sedang mengadakan nonton bareng, Bjonk akan penuh sesak.

Saya baru tahu belakangan kalau banyak Milanisti (para pendukung tim AC Milan) yang sering berkumpul di Bjonk. Maka jika AC Milan bertanding, Bjonk pasti membuka layar yang diletakkan di tengah-tengah ruangan kedai dan menyiarkannya secara langsung. Kalaupun AC Milan bertanding di luar jam kerja para awak Bjonk, Milanisti tak perlu khawatir. “Kalau di luar jam kerja, bisa ditayangin, yang penting pesan dulu ke kita biar disiapin peralatannya,” tutur Bariek.

Ketika saya akan berpamitan untuk pulang, tiba-tiba sang pemilik yang dari tadi dinanti muncul. Dengan senyum mengembang Ronni mengeluarkan kata-kata yang tak begitu saya dengar.

Bariek tertawa lalu membalas ucapan Ronni dengan sindiran yang tak kalah jenaka. Ronni pun tertawa. Saya juga ikut tertawa. Tak lama kemudian, kelompok orang di meja sebelah juga melempar bahan bercanda kepada keduanya, Ronni dan Bariek, lalu mereka tertawa bersamaan.

Saya merasakan kerenyahan dan kehangatan yang khas. Bariek mengetahui kalau saya masih tersenyum. Sambil kemudian menyalami saya, ia berdiri dan berkata. “Di sini biasa, mas, bos ngece (bercanda) pegawai, pegawai juga biasa ngece bos,” tuturnya sambil tertawa yang lalu diikuti tawa pengunjung lain.

Artikel ini tersaji atas kerja sama dengan Klinik Buku EA sebagai dokumentasi kedai-kedai kopi di Yogyakarta.
Klinik Buku EA adalah sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang perbukuan. Klinik Buku EA antara lain melayani konsultasi pembuatan buku, penulisan buku, penyuntingan buku, fasilitator workshop menulis, penelitian kualitatif, pembuatan naskah film dan naskah drama.

Arys Aditya

Penerjemah lepas dan sampai sekarang bergelut di Kelompok Belajar Tikungan Jember, Jawa Timur.

  • Riko

    halah ngapusi. tulisane wae angel di woco