Rimbun di Tengah Padang dan Rimbun di Atas Bukit

Rimbun kopi di teras Rimbun
Rimbun kopi di teras Rimbun. | © Allan Arthur

Kota yang berkuah kental, seperti kulinernya yang terkenal penuh dengan santan. Kota terbesar di ujung paling barat Indonesia, matahari selalu terbenam di sini, senja selalu melankolik dengan cahaya jingganya. Dan Samudra Hindia Indonesia menghampar luas, menampung segala keluh-kesah lebih kurang 1 juta penduduknya.

Kota Padang. Siapapun akan mencari tempat yang rimbun untuk berteduh dari terik matahari di sini, dengan suhu rata-rata 28⁰C. Di tengah-tengah kota itu, memang ada Rimbun, Rimbun Espresso and Brew Bar tepatnya. Memilih lokasi juga di salah-satu jalan yang rimbun, Jalan Mangunsarkoro. Jalan yang berada di pusat kota Padang, namun jangan bayangkan jalan ini penuh dengan kendaraan yang beringsut karena macet dan bunyi klakson kendaraan yang kejepit.

Saya memilih duduk di salah satu meja bundar di teras kedai kopi ini. Ada dua meja bundar di teras ini sebenarnya, satu di sisi dinding sebelah kanan dan satu lagi di sisi dinding sebelah kiri, mengapit dua daun pintu masuk yang lebar. Memandang lurus ke jalan adalah suatu pemandangan yang sejuk bagi mata. Hanya sesekali kendaraan lalu-lalang, walaupun Jalan Mangunsarkoro ini tepat berada di persimpangan Jalan Sudirman —jalan protokol di kota Padang. Walau sore masih terik, mata telah dibuat rimbun. Garis-garis cahaya matahari masuk melalui celah dahan Mahoni, angin sepoi datang membelai kulit.

Begitulah sore, duduk di teras ini tidak hanya terasa rimbun, namun juga selalu ditemani dengan aroma kopi yang terpanggang. Asapnya mengepul dan menyatu dengan udara, keluar dari cerobong pipa yang bersumber dari dalam kedai. Saya menengok ke dalam lewat kaca jendela, seseorang tengah duduk di depan sebuah mesin besar, tengah meroasting kopi. Inilah uniknya kedai kopi Rimbun yang tidak saya temukan di kedai-kedai kopi mana pun. Ketika menguak dua daun pintu masuk yang lebar itu, kita langsung disambut oleh mesin roasting kopi, yang persis terletak di sisi kanan masuk. Baru setelah itu coffeebar menanti, menyambut para pelanggan.

Kerimbunannya tidak hanya ditawarkan dengan sebatas tempat, namun juga dengan soal menu. Di ujung coffeebar mereka. Buku menu besar sudah menanti dengan berbagai varietas kopi arabika lokal Minang sebagai basic espresso. Pelanggan boleh memilih dengan menunjuk salah-satu varietas kopi yang sampelnya dipajang di dalam toples di ujung coffeebar ini. Ada arabika Minang Solok, Surian, dan sesekali Situjuh atau Salimpauang.

Roasting di depan coffeebar
Roasting di depan coffeebar. | © Allan Arthur
Perimbun di coffeebar Rimbun
Perimbun di coffeebar Rimbun | © Allan Arthur

Rimbun Espresso and Brew Bar bisa dikatakan punya misi untuk membangkitkan kembali kopi lokal Minang, khususnya saat ini kopi dengan varietas arabika, yang lama terkubur dalam tanahnya sendiri. Rimbun bisa dikatakan sebagai pelopor. Kopi arabika lokal kembali menggeliat, kedai-kedai kopi di Kota Padang, atau pun di kota-kota lain di Sumatra Barat kembali menaruh kopi arabika ini di menu mereka —yang selama ini hanya dikuasai oleh varietas kopi dari daerah lain, semisal Gayo, Mandailing, Kintamani, atau Toraja, bahkan Malabar pun ada di sini.

Dan, bicara tentang kopi arabika lokal, yang dinamakan dengan Kopi Minang, bukanlah pembicaraan sesruput kopi, perlu bercangkir-cangkir kopi untuk membicarakan ini, karena memang sejarahnya tidaklah pendek. Sebuah sejarah panjang membentang. Mitekopi.com, sebuah laman yang berusaha untuk mengubak sejarah yang berkulit tanduk ini pernah menuliskan di salah-satu artikelnya, bahwa kopi arabika varietas Minangkabau ini pertama kali muncul pada pasar kopi di Bandar Padang pada tahun 1790 dan untuk pertama kalinya diekspor dua tahun kemudian, 1792. Lalu setelah itu, setelah cultuurstelsel pemerintah kolonial Belanda habis dan Nusantara ini bernama negara baru, Indonesia, ke mana kopi arabika varietas Negeri Minangkabau ini? Pertanyaan itulah yang berusaha dijawab Rimbun.

“Kopi itu masih ada dan kami menjadikannya sebagai kopi utama pada menu basic espresso!” Jelas Yogi Artha, manajer Rimbun Espresso and Brew Bar Padang.

Rimbun Espresso and Brew Bar berdiri dua tahun lalu. Kedai kopi ini merupakan reinkarnasi dari Rumah Kopi Nunos yang berdiri pada tahun 2011. Awalnya berdiri di Kota Bukittinggi tahun 2014, enam bulan kemudian baru menyusul berdiri di Kota Padang. Dua tahun, memang umur yang belia, namun apa yang dilakukan Rimbun dengan komitmennya sudah menjadi suatu kerja yang luar biasa di tengah timbul tenggelamnya kedai-kedai kopi di daerah ini. Apalagi, dapat dikatakan bahwa Rimbun dapat menjadi inspirasi dan pioner kedai-kedai kopi di daerah ini yang juga mulai menaruh kopi arabika varietas Minang, terutama Kopi Minang Solok di kedai-kedai mereka.

“Semangat itu terus dijaga dan ditularkan. Kalau dapat Kopi Minang kembali punya tempat pada kopi dunia, dan jalan itu masih panjang.” Tambah Yogi Artha.

Cita-cita yang digantung setinggi-tingginya, seperti Jembatan Limpapeh yang tergantung di puncak Kota Bukittinggi. Seperti ingin menggapai Jembatan Limpapeh jika tengah duduk di beranda lantai dua Rimbun Espresso and Brew Bar Kota Bukittinggi.

Rimbun di Bukittinggi
Rimbun di Bukittinggi | © Allan Arthur

Memang, suasana Rimbun Espresso and Brew Bar Kota Bukittinggi jauh berbeda dengan suasana yang ada di Kota Padang. Jika di Kota Padang menawarkan kerimbunan di tengah padang yang berdengkang, maka di Bukittinggi, di kota yang seperti namanya —angin pegunungan yang tenang dan seringkali dingin memagut— maka kopi adalah penawar yang lain untuk sebuah kehangatan.

Apalagi Rimbun persis berada di celah lembah dua bukit yang menjadi puncak dari kota ini. Satu bukit tempat benteng Fort de Kock tertanam dan satu bukit adalah sebuah taman pada masa kolonial yang sekarang menjelma menjadi kebun binatang di kota ini. Kedua bukit tersebut terhubung oleh sebuah jembatan gantung, yang disebut dengan Jembatan Limpapeh. Persis di bawah jembatan gantung itulah Rimbun Espresso and Brew Bar berada. Menempel di sisi dinding tebing bukit tempat taman kolonial itu berada dan menghadap ke benteng Fort de Kock yang masih kokoh berdiri. Celah bukit yang dibelah jalan raya itu, bagi penduduk Bukittinggi disebut dengan Kampung Cina, dengan deretan ruko-ruko peninggalan kolonial yang masih bertahan.

Duduk di terasnya, seperti dihempaskan pada masa lalu, pada sejarah panjang kopi arabika varietas Minang, apalagi disuguhkan dengan secangkir kopi arabika Minang Solok. Masa lalu yang manis, sekaligus pedas. Masa lalu yang mendekam di kepala. Menjadi hangat, sehangat kafein yang terasa mengalir di dalam tubuh, seiring kota ini gerimis tiap sebentar turun.

Pinto Anugrah

Menulis sastra, berasal dari dataran tinggi Minangkabau. Kegemarannya untuk menggali cerita masa lampau Minangkabau secara tidak sengaja telah membawanya masuk pada sempilan-sempilan cerita tentang kopi yang ikut membangun peradaban Minangkabau. Saat ini sedang bersitungkin dengan situsweb mitekopi.com.