Review Musical Theater Tin Republic: Bold, Loud, and Proud karya Teater Psikologi UI

Pertunjukan Tin Republic dari Teater Psikologi UI (TekoUI)
Lihat Galeri
4 Foto
Pertunjukan Tin Republic dari Teater Psikologi UI (TekoUI)
Review Musical Theater Tin Republic: Bold, Loud, and Proud karya Teater Psikologi UI
Pertunjukan Tin Republic dari Teater Psikologi UI (TekoUI)

© ninonirmolo

Pertunjukan Tin Republic dari Teater Psikologi UI (TekoUI)
Review Musical Theater Tin Republic: Bold, Loud, and Proud karya Teater Psikologi UI
Pertunjukan Tin Republic dari Teater Psikologi UI (TekoUI)

© ninonirmolo

Pertunjukan Tin Republic dari Teater Psikologi UI (TekoUI)
Review Musical Theater Tin Republic: Bold, Loud, and Proud karya Teater Psikologi UI
Pertunjukan Tin Republic dari Teater Psikologi UI (TekoUI)

© ninonirmolo

Pertunjukan Tin Republic dari Teater Psikologi UI (TekoUI)
Review Musical Theater Tin Republic: Bold, Loud, and Proud karya Teater Psikologi UI
Pertunjukan Tin Republic dari Teater Psikologi UI (TekoUI)

© ninonirmolo

“Berita, kami butuh berita!
Berita lebih dari sekedar cerita
Berita, kami butuh berita!
Siapa, siapa punya berita”

Begitulah penggalan nyanyian Tin Republic di awal adegan pertunjukan. Media kuning dari suatu desa ini sedang mengarungi masa krisis kekurangan cerita yang baru, beda, dan kuat untuk ditampilkan menjadi berita di halaman pertama. Kepala Redaktur (Muhammad Ihsan) yang biasa dipanggil dengan Pak Kepala ini selalu mengingatkan kepada para Juru Cerita dan Juru Ketiknya untuk selalu menyuarakan kebenaran dengan bukti kuat dan tanpa membubuhkan nama. Cukuplah Tin Republic sebagai identitas penyebar berita kebenaran.

Di waktu yang bersamaan, Jony Latuputty (Ais Nur Ardhy) dan Gaby Martiny (Nabila Putri Utami) adalah Juru Ketik dan Juru Cerita nomor wahid andalan Pak Kepala telah sukses mendapatkan bukti penting setelah melakukan investigasi siang dan malam mengamati rumah Kepala Desa. Investigasi ini untuk membuktikan rahasia umum tentang kemungkinan isu perselingkuhan Kepala Desa. Kinerja baik Jony dan Gaby ternyata tak cukup membuat Pak Kepala puas. Tin Republic membutuhkan cerita lain yang lebih heboh dari perselingkuhan Kepala Desa agar media kuning ini dapat selalu dipercaya dan dibeli oleh masyarakat.

Pak Kepala mengutus Jony dan Gaby untuk pergi ke Diamond City untuk meliput berita kriminal besar dengan kemampuan investigasi mereka yang tak usah diragukan lagi. Kepergian Jony dan Gaby dilepas oleh Tin Republic dengan suka cita sebagai modal semangat dan tambahan motivasi untuk mencari berita yang lebih heboh dan joss, ketimbang di desa. Jony sangat bersemangat dalam mengemban tugas ini, tetapi ada hal yang masih disembunyikan Gaby kepada Jony mengenai kemurungan dirinya melaksanakan tugas ini.

Setibanya Jony dan Gaby di Diamond City, mereka bertemu dengan Raga (Redha Taufik Ardias) dan Nada (Dea Puspitasari) kakak beradik yang juga kawan lama Gaby. Raga dan Nada mengajak Jony dan Gaby berkeliling kota untuk berkenalan dengan Diamond City. Jony terperangah dengan keadaan kota itu. Suasana kota yang aman, nyaman, dan bahagia yang selalu ia jumpai di setiap sudut kota. Ia mengumpat karena kesulitan untuk membuat berita kriminal dari kondisi yang seperti ini.

Jony bertanya pada Raga mengapa semua warga di kota ini bahagia dan apatis terhadap berita keburukan. Rada dan Nada memberitahu kehadiran “Walikota O Walikota”. Walikota O Walikota (Kevin Febriano Bukit) yang setiap pagi menyebarkan kabar-kabar baik melalui flyers dengan bantuan pengawal-pengawalnya. Kabar yang memberitakan dipanggilnya warga Diamond City untuk pindah ke ibu kota sabagai hadiah dari Walikota O Walikota. Serta uang yang dibagikan cuma-cuma kepada warga semakin membuat Walikota O Walikota sangat dihormati dan diagung-agungkan. Melihat fenomena ini, Jony pusing tujuh keliling, bagaimana bisa di sebuah kota tidak memiliki berita miring. Jony menilai ada suatu kejanggalan di Diamond City.

Melihat Jony yang uring-uringan menggerutu tiada henti, Gaby letih dan membongkar rahasia yang selama ini dia simpan bersama Pak Kepala. Gaby mengaku bahwa Ia menyadari kepergian Ayah dan Ibunya beberapa puluh tahun yang lalu ke ibu kota atas perintah Walikota, bukanlah sebuah hadiah, melainkan penculikan dan tindakan kriminal. Namun, belum ada bukti yang cukup untuk menguatkan cerita ini menjadi berita. Inilah sebab Pak Kepala mengutus Gaby dan Jony ke Diamond City.

Mengetahui cerita ini, Jony mendampingi Gaby untuk terus fokus dan serius mencari fakta dan membongkar kemuslihatan Walikota O Walikota. Rentetan peristiwa dalam melaksanakan investigasi dan jatuh bangun usaha mereka dalam melantangkan kebenaran mereka lalui bersama. Mulai dari ditolak oleh warga, mendapat dukungan mereka hadapi upaya menjadikan cerita ini berita yang kuat yang dapat dipercaya masyarakat.

Ada yang menarik dari Pertunjukan Tin Republic dari Teater Psikologi UI (TekoUI) yang baru-baru ini dihelat di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Melihat fenomena mudahnya masyarakat kita yang mudah termakan berita palsu (hoax), yang kemudian menjadi opini kelompok, lalu berhasil menjadi opini publik yang cukup kuat karena diserap dengan perasaan, bukan logika.

Berita hoax yang kerap membanjiri layar smartphone kita, biasa dipublikasikan oleh oknum tak bertanggung jawab. Dengan judul yang menarik, memancing tawa, hingga tak sedikit yang mampu menumbuhkan benih kebencian. Berita hoax kadang mampu membutakan mata dari fakta yang ada.

Satu medium berita memang tidak bisa menjadikan pegangan kuat akan isu yang ditonjolkan. Kebenaran bisa dimanipulasi dengan opini. Dimana kebenaran yang hakiki? Jika kebenaran bisa dibayar pakai uang.

Pertunjukan Tin Republic sangat menarik untuk dinikmati di setiap adegannya. Dialog yang sederhana, koreografi tari yang memanjakan mata, serta lantunan musik yang membangkitkan suasana sukses memberikan kenikmatan bagi siapa saja yang menontonnya. Intrik-intrik komedi yang disisipi juga tidak berlebihan. Adegan percikan romansa hubungan Gaby dan Jony juga disajikan apik dan manis. Tak ayal, kerap terdengar suara penonton yang terhanyut dalam suasana.

Pementasan besar kedua karya TekoUI ini pun berhasil menyampaikan pesan agar kita dapat dengan cerdas menemukan fakta di balik opini dan mengajak kita untuk berani melantangkan suara kebenaran. Usaha kepedulian yang cerdas agar masyarakat tidak berlama-lama mudah percaya dengan zona nyaman yang semu, berita palsu.

Radinal Kharismaputra

Fotografer, Public Speaker, Penikmat Seni