Review Film Filosofi Kopi: Sinematografi Apik, Skenario Kurang

Film Filosofi Kopi
Film Filosofi Kopi

Saya punya ekspektasi tinggi ketika melihat trailer film Filosofi Kopi berseliweran di linimasa Twitter. Apalagi melihat nama sutradaranya: Angga Sasongko, sutradara film Cahaya Dari Timur: Beta Maluku yang baru saja memenangkan penghargaan Film Indonesia Terbaik di ajang Piala Citra.

Begitu pula deretan aktornya. Sangat menjanjikan. Chicco Jerikho, menurut saya, salah satu aktor terbaik di generasinya. Sedangkan Rio Dewanto adalah aktor yang sangat luwes dan bisa mendalami karakter. Sedangkan Julie Estelle berperan sangat baik dalam film terakhirnya, The Raid 2.

Dengan kombinasi sutradara yang mumpuni, aktor-aktris terbaik, serta adaptasi dari cerita pendek terkenal, tentu ekspektasi siapa pun akan tinggi.

Angga Sasongko sendiri berhasil menerjemahkan kata adaptasi dengan sangat baik. Ia tak sekedar menempelkan karakter dalam buku ke dalam film. Lebih jauh, ia mengembangkannya ke karakter yang kompleks.

Film ini dimulai dengan adegan di suatu pagi yang ceria. Kedai Filosofi Kopi sedang ramai seperti biasa. Seorang pelayan dengan tersenyum memandang review kedai Filosofi Kopi yang ditulis, “…menghidupkan kembali Melawai.”

Lalu tampak Ben (Chicco Jerikho) berdiri dengan apron cokelat andalannya, rambut gondrong terikat, dan topi yang selalu ia pakai saat sedang membuat kopi. Ia dengan lihai menceritakan filosofi setiap jenis kopi pada pelanggan. Ini termasuk merayu konsumen perempuan dengan menggunakan filosofi cappucino: keindahan yang mirip kamu.

Sedangkan Jody, sejak awal sudah diplot sebagai karakter yang dinamis. Jika tak bisa dibilang pragmatis dan agak sedikit kikir. Ia, sebagai pemilik Filosofi Kopi, harus pusing dengan hutang yang membengkak. Sedangkan Ben terus merengek untuk membeli biji kopi terbaik yang berharga mahal.

Pertentangan antara Ben dan Jody sudah ditampilkan sejak awal. Ben muncul sebagai sosok barista yang handal, peduli pada mutu biji kopi, memusuhi wifi, dinamis, flamboyan, tapi angkuh luar biasa kalau bicara soal kopi.

Sedangkan Jody lebih ke tipikal pemilik kedai yang harus memutar otak agar kedai tetap bisa berjalan dan hutang bisa dicicil. Ia, misalkan, ngotot mau memasang jaringan internet nirkabel, meski ditentang oleh Ben. Menurut Jody, internet nirkabel bisa mendatangkan pendapatan dua kali lipat.

Jody juga tak setuju dengan adanya jam istirahat makan siang, karena itu adalah jam ramai konsumen. Jody yang lulusan sekolah luar negeri ini juga berulang kali mengemukakan ide agar Filosofi Kopi buka selama 24 jam. Lagi-lagi, ide ini ditentang Ben yang lebih santai.

Film Filosofi Kopi
Film Filosofi Kopi
Film Filosofi Kopi
Film Filosofi Kopi

Filosofi Kopi sedang dalam masa genting karena belum bayar cicilan 3 bulan. Harga bahan baku sedang tinggi. Sedangkan konsumen banyak yang kabur karena tak ada jaringan nirkabel, plus jam buka yang relatif singkat.

Saat itu lah, datang seorang om-om-tipikal-om-girang-banyak-duit, dengan sekretaris berwajah binal yang genit. Tanpa angin tanpa hujan, si Om ini menawarkan tantangan pada Ben: buatlah kopi terbaik, kalau berhasil maka 100 juta rupiah akan jadi milik Ben dan Jody. Tantangan ini untuk memuluskan tender yang sedang digarap oleh si Om.

Jody yang pusing memikirkan hutang, mengiyakan tantangan itu. Ben, masih berpikir. Beberapa hari kemudian, mereka berdua mendatangi si Om yang sampai akhir film tak dijelaskan siapa namanya itu. Ben malah menantang balik: kalau Filosofi Kopi berhasil menyajikan kopi terbaik, maka hadiahnya 1 milyar rupiah.

“Kalau gagal?”

“Kami yang akan membayar anda 1 milyar,” kata Ben.

Om setuju. Jody kelimpungan. Ben meminta Jody waktu 2 minggu untuk menyiapkan kopi terbaik.

Maka dengan serius Ben menyiapkan kopi. Ia mengurung diri selama 2 minggu di ruangan, lengkap dengan aneka macam peralatan kopi. Hingga akhirnya ditemukan metode yang menghasilkan kopi terbaik, menurut Ben. Kopi itu dinamakan Ben’s Perfecto.

Semua bergembira dengan Ben’s Perfecto. Dengan segera, kopi ini menjadi buah bibir para pecinta kopi di Jakarta. Gema itu akhirnya sampai ke telinga El Deschamp, food blogger sekaligus Q-grader yang punya kualifikasi internasional.

El yang tinggal di Perancis sedang berada di Indonesia untuk menuliskan buku tentang kopi. Ia lantas mampir ke Filosofi Kopi dan mewawancarai Jody. El menanyakan tentang makna perfecto.

“Ya kesempurnaan.”

“Jadi anda berpikir perfecto ini adalah kopi paling enak di seluruh dunia?”

Maka Ben segera menyajikan Ben’s Perfecto. Disambut dengan tatapan dan perkataan dingin dari El: masih ada kopi yang lebih enak dari ini.

Jody terkejut. Ben, apalagi. Ia tak terima kopinya punya pesaing. Apalagi setelah El bercerita bahwa kopi yang lebih enak adalah Kopi Tiwus, kopi dari Ijen. Kopi dari desa dengan penyajian yang sederhana.

Di sini, penonton seperti diajak menyaksikan “benturan” yang kerap terjadi di dunia kopi. Antara metode canggih dan mewah milik Ben, melawan cara seduh kopi paling tua dan sederhana di dunia: tubruk. Begitu pula soal biji kopi. Single origin dengan harga mahal, melawan biji kopi yang ditanam di pekarangan sendiri.

Bagaimana selanjutnya? Saya menyarankan anda menyaksikan sendiri. Film ini lumayan berbeda dengan versi cerita pendeknya. Bagi yang mengharapkan kesamaan, saya menjamin pasti akan terkejut.

Film Filosofi Kopi
Film Filosofi Kopi

Filosofi Kopi secara visual sangatlah indah. Cara menyeduh kopi. Pewarnaan yang cantik. Hingga lansekap perkebunan teh dan kopi. Dari segi penceritaan, Angga Sasongko berhasil meramu kisah yang kompleks, tapi bisa dituturkan dengan sangat baik.

Tapi film ini memiliki banyak sekali lubang dan kekurangan, tentu saja. Yang paling mencolok tentu adalah akting beberapa karakter. Seperti karakter si Om yang, uhm, sedikit tidak penting dan kaku. Lalu kenapa ia sampai harus pergi ke Ben? Apakah hanya karena artikel di koran belaka?

Untuk tujuan besar, memuluskan tender, kenapa ia tak langsung menyewa barista kelas internasional agar hasilnya sudah pasti. Atau paling tidak, barista juara nasional? Tapi ini bisa sedikit dipahami kalau mengacu pada penceritaan di cerita pendek, yang memang tak dijelaskan penyebabnya.

Karakter Ben cukup meyakinkan. Walau sedikit membuat dahi berkernyit. Saat ia mendatangi Ijen dan menemui pemilik kopi tiwus, sikapnya terlalu berlebihan. Pernah melihat orang bersikap kasar di hadapan orang tua yang dihormati namun baru dikenal? Saya rasa tidak.

Lalu karakter El yang terasa kurang berkembang. Harusnya sebagai Q-Grader, ia bisa menjelaskan kenapa Ben’s Perfecto itu kalah enak ketimbang Tiwus. Apakah persoalan biji? Cara sangrai? Atau sekedar hambar dan terasa tanpa jiwa? Sayang, sebagai karakter yang digambarkan sebagai penilai kopi kelas internasional, ia malah sama sekali tidak mengeluarkan ilmunya.

Yang paling mengganggu tentu adalah dialog yang terkesan dipaksakan. Seperti saat Jody mendatangi kampung halaman Ben. Mereka berdua ngopi bareng. Lantas suasana syahdu. Jody merayu Ben untuk kembali ke Jakarta.

“Gue baru sadar, kita ini kayak kepala dan kaki (atau hati? Saya lupa). Tanpa lu, gue gak lengkap,” kata Jody.

Ugh! Ini sebenarnya sangat aneh. Saya lelaki. Dan sama sekali tidak pernah menemui adegan dan percakapan macam ini di persahabatan antara lelaki. Apalagi mereka yang sudah bersahabat selama 18 tahun. Mungkin Jenny Jusuf sebagai penulis skenario kurang memahami kultur persahabatan lelaki ini. Ups, tapi ini sama sekali bukan seksis lho.

Persahabatan lelaki yang sudah terjalin lama biasanya malah lebih lekat dengan makian dan pisuhan. Kalau gak percaya, coba saja tanya geng lelaki yang anda kenal.

Tapi film ini tetap patut mendapat pujian untuk sinematografi yang brilian, dan cerita yang berhasil dikembangkan dengan sangat baik. Sama sekali tidak terjebak dengan cerita pendek yang sudah terkenal dan begitu membekas itu. Apalagi bagi para pecinta kopi, film ini masuk kategori wajib tonton.

Nuran Wibisono

Penyuka jalan-jalan dan musik bagus.

  • ari

    mas Nuran.

    Bukankah apa yang dari hati memang sulit untuk dijelaskan?

    😀