Reuni Band: Antara Nostalgia dan Pundi Uang

Kla Project Reunion
Kla Project Reunion | © Liputan 6

“Ran, tolong carikan info soal tiket konser reuni KLa Project ya.”

Pesan pendek itu masuk ke ponsel saya. Pengirimnya adalah Mas Puthut EA. Dia bilang ingin menonton itu bareng istrinya. Saya mahfum. Dulu KLa pernah amat berjaya di era 90-an. Cocok buat penggemar musik pop yang agak “berkelas”. Kadang para laki-laki penggemar musik rock —Puthut mengaku dia adalah Slankers garis keras— tidak berkutik juga kalau diajak kekasihnya beli kaset KLa atau menonton konsernya.

Kisah soal reuni KLa itu terjadi beberapa tahun silam. Saya tak tahu apakah Mas Puthut jadi nonton KLa atau tidak. Tapi tahun ini, atau tahun depan, saya ingin sekali menonton reuni Guns N Roses. Ini bukan konser reuni biasa. Sebab melibatkan paling tidak 3 dari 5 orang personel awal. Axl Rose, Slash, dan Duff. Steven si penggebuk drum pernah ikut beberapa kali konser.

Reuni band-band tua sekarang menjadi tren. Mereka menggali lagi kenangan masa lalu. Tak sekadar untuk menyapa penggemar lama, tetapi juga untuk menambah pundi-pundi uang.

“Reuni itu seperti tidur dengan mantan istrimu, tapi tanpa berhubungan seks.”

Robert Plant mengatakan kalimat legendaris itu ketika ditanya tentang kemungkinan reuni bandnya, Led Zeppelin. Plant, sang vokalis, berkali-kali menolak tawaran reuni. Dalam sebuah laporan yang dilansir oleh BBC, Plant bahkan menolak bayaran 200 juta dolar untuk tur Led Zeppelin.

Semua bermula dari penampilan dua jam Zeppelin pada 2007, di konser penghormatan untuk Ahmet Ertegün, pendiri label Atlantic yang menaungi Zeppelin. Penampilan prima band yang aktif sejak 1968 dan bubar pada 1980 setelah meninggalnya drummer John Bonham, membuat banyak promotor tertarik mengundang mereka untuk reuni.

Para penggemar menyambutnya dengan gegap gempita. Pada konser reuni 2007 Zeppelin, ada 20 juta orang yang berebutan membeli 16.000 lembar tiket yang dijual seharga 250 dolar atau sekitar Rp3,3 juta.

Namun, Plant selalu menolak usaha untuk reuni. Menurut The Mirror, seorang promotor bahkan menawarkan 800 juta dolar, asal Zeppelin mau reuni dan tur sebanyak 35 kali penampilan. Tapi usaha ini juga menghasilkan respons yang tak kalah legendaris: konon Plant menyobek lembar kontrak itu.

Meski Plant membuktikan tak selamanya uang bisa membeli apapun, kita tak bisa memungkiri kalau reuni band adalah bisnis besar. Sangat besar. Apalagi kalau bandnya sebesar Led Zeppelin, yang memang sejak bubar tak pernah lagi tampil. Para penggemar pun rela membeli tiket mahal, rebutan pula.

Untuk kasus Zeppelin, harga tiketnya adalah 250 dolar. Dari 16.000 lembar tiket, ada 20 juta orang yang berebutan membeli. Dengan banyaknya peminat, wajar kalau ada aliran uang yang sangat besar dalam konser reuni.

Band rock The Police pernah melakukan tur reuni sepanjang 2007 hingga 2008. Dengan harga tiket berkisar 50 hingga 225 dolar, band asal Inggris ini berhasil menangguk pendapatan sebanyak 360 juta dolar. Band The Eagles juga melakukan reuni sepanjang 2008 hingga 2011 dan mengumpulkan pendapatan sebesar 250 juta dolar. Kelompok musik medioker yang hanya punya satu-dua lagu hits, seperti Steps atau Arkarna bahkan turut melakukan reuni karena sadar pendapatan besar menanti.

Guns N Roses pun demikian. Rujuknya Axl dan Slash anggap saja sebagai bonus. Alasan utama mereka reuni ya duit. Mereka sadar kalau fans mereka masih amat banyak dan mau mengeluarkan uang untuk menonton mereka reuni. Perihal uang ini pula yang bikin Izzy tak mau bergabung. Dalam sebuah wawancara, dia bilang kalau bayaran antar personel tidak sama. Tapi show must go on, bung.

Awalnya mereka bilang kalau reuni hanya akan diadakan keliling Amerika Utara saja. Tapi uang berbicara.

Konser mereka laris manis. Dari 25 konser di Amerika Utara, 12 konser sold out. Diperkirakan lebih dari sejuta tiket yang terjual, sekitar 90 persen dari total tiket. Hingga Juli, tur berjudul Not in This Lifetime ini sudah berhasil mengumpulkan lebih dari 1 juta dolar, hanya dari penjualan tiket saja. Karena itu, Guns N Roses mulai melebarkan tur reuni ini. Setelah Amerika Utara, mereka menjelajah ke Amerika Latin. Mereka mampir ke Peru, Argentina, Brasil, Kolombia, hingga Kosta Rika.

Guns N Roses
GnR | © Loudwire
GnR Reunion
GnR Reunion | © Telegraph

Reuni band ini juga terjadi di Indonesia. Ternyata pangsa pasarnya lumayan besar juga. Ada band-band besar 90-an yang melakukan beberapa reuni.

Dewa 19 misalkan. Band yang dibentuk di Surabaya pada 1986 ini sempat memecat vokalis aslinya, Ari Lasso pada 1999. Penggantinya adalah Elfonda Mekel. Karena banyak permintaan, band besutan Ahmad Dhani ini pun kerap melakukan reuni. Harga tiketnya pun tergolong mahal. Dalam sebuah konser reuni di Malang, harga tiketnya dipatok mulai Rp150 ribu hingga yang VIP seharga Rp1 juta.

Pada 2014, sebuah SMA di Makassar pernah mengundang Dewa 19 formasi reuni dengan tarif sebesar Rp850 juta. Padahal tarif normal Dewa 19 untuk sekali manggung hanya Rp300 juta. Karena beberapa kali manggung formasi reuni dan selalu berhasil, band ini mulai lumayan sering mengadakan tur dan konser serupa. Terakhir, mereka tampil di ajang Soundrenaline, September tahun lalu.

Tak hanya Dewa, Slank juga melakukan hal yang sama. Mereka beberapa kali mengadakan reuni, baik skala kecil maupun besar. Salah satu reuni terbesar mereka terjadi saat band yang dibentuk pada 1983 ini merayakan konser 30 tahun. Saat itu, dengan harga tiket dibanderol Rp50 ribu, ada sekitar 30.000 penonton yang hadir. Dengan kata lain, ada Rp1,5 miliar yang didapat dari penjualan tiket saja. Selain Dewa dan Slank, beberapa band Indonesia yang pernah melakukan konser reuni adalah Gigi, KLa Project, The Flowers, Base Jam, hingga Power Slaves.

Reuni Dewa
Reuni Dewa | © beritagar.id

Konsep reuni dan nostalgia ini juga pernah dibuat festival dalam The 90’S Festival. Konsepnya adalah menghadirkan band dan musisi yang pernah berjaya di era 90-an. Ada band yang sudah bubar, kemudian reuni untuk acara ini. Ada pula musisi yang sudah lama vakum, tampil kembali untuk para penggemarnya. Ada nama Neo dan Sweet Martabak, dua nama grup hip hop; kemudian Iwa K, ME, Coboy, Base Jam, KLa Project, Java Jive, bahkan grup luar negeri seperti Frente.

Berapa harga yang harus dibayar penonton untuk menyaksikan reuni dan nostalgia band-band itu? Tak murah. Berkisar antara Rp400 ribu hingga Rp1,4 juta.

Mungkin band-band yang pernah berjaya kemudian menurun dan terus bubar ini ingin membuktikan sesuatu: mereka masih bisa memainkan musik dengan baik dan memukau penonton. Para penggemar pun rela mengeluarkan uang banyak agar bisa menyaksikan idola mereka tampil, sekaligus bernostalgia. Di zaman yang serba terburu-buru dan artifisial seperti sekarang, siapa yang tak suka nostalgia sembari mengenang kejayaan dan kenakalan masa remaja.

Namun, tetap saja untuk mewujudkan reuni band itu butuh uang yang banyak. Ada kelakar menarik tentang reuni band-band tua ini: dinosaurus bisa dibangkitkan dengan cara rekayasa genetis. Untuk membangkitkan dinosaurus musik, yang kamu butuhkan adalah uang yang super banyak.

Nuran Wibisono

Penyuka jalan-jalan dan musik bagus.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405