Rehat sejenak di Lhokseumawe

Pagi ini langit mendung. Sudah dua hari ini hujan turun, setelah sebelumnya langit tiada berawan sama sekali. Terik. Hampir sepuluh hari saya berada di Blang Lancang, Lhokseumawe untuk mengawasi perbaikan mesin-mesin tua, mesin fasilitas produksi gas alam yang usianya melebihi seumur hidup saya. Sebelumnya sudah beberapa kali saya berkunjung ke kota Lhokseumawe yang terletak di pesisir Aceh Utara. Bedanya kali ini saya menginap di Guest House Arun yang artinya saya harus mencari menu makan sendiri. Dari mulai sarapan pagi, makan siang hingga makan malam. Beruntung saya ditemani oleh driver perusahaan.

Saya tidak keberatan sama sekali dengan pengaturan jadwal makan sendiri ini. Justru dengan begini saya bisa mengeksplorasi lebih banyak soal kuliner khas Aceh, mengecap makanan yang tidak kita temukan di daerah asal.

Untuk mencapai Lhokseumawe kita harus menempuhnya dengan dua kali penerbangan. Yang pertama dengan penerbangan komersial dari Jakarta menuju ke Medan dengan waktu tempuh 2 (dua) jam. Selanjutnya dari bandara Kualanamu kita berganti pesawat dengan tujuan Lhokseumawe. Perjalanan akan memakan waktu 1 (satu) jam saja. Hanya ada dua maskapai penerbangan yang beroperasi di jalur Lhokseumawe – Medan. Selain itu hanya ada satu kali penerbangan ke Lhokseumawe tiap harinya. Kedua maskapai memiliki tipe yang sama, pesawat penumpang jarak pendek dengan mesin twin-turbo propeller. Pesawat ini memiliki kapasitas penumpang 70 orang saja. Oleh karena itu kita perlu reservasi tiket beberapa hari sebelumnya supaya tidak kehabisan. Kalaupun tidak berhasil mendapatkan tiket, masih ada alternatif angkutan lain yakni dengan bus malam. Tentu dengan konsekuensi waktu tempuh yang lebih lama.

Sarapan Nasi Gurih
Sarapan Nasi Gurih | © Rulli Rachman
Makan siang Kare Kambing
Makan siang Kare Kambing | © Rulli Rachman

Saya lanjutkan perihal kuliner Aceh di Lhokseumawe. Pertama untuk sarapan pagi saya rekomendasikan menyantap nasi gurih. Sebenarnya rasa nasi gurih ini tidak banyak berbeda rasanya dengan nasi uduk. Nasi gurih biasa dihidangkan dengan bumbu rendang, sambal, sayur dan lauk yang beraneka ragam. Kita bisa pilih telur dadar, telur mata sapi, gulai ayam, rendang usus atau daging dan sebagainya. Yang berbeda adalah mereka tidak biasa menyajikan aneka gorengan bala-bala (bakwan), tempe atau tahu sebagaimana lazimnya kita jumpai di warung nasi uduk Betawi.

Momen sarapan ini adalah momen dimana saya mendobrak kebiasaan di tempat asal. Jika biasanya saya memilih teh manis sebagai minuman utama, maka selama di Lhokseumawe ini saya justru memilih kopi. Biasanya saya pesan kopi hitam dengan sedikit ditambahkan susu kental manis. Sedikit saja. Seperti kita ketahui bersama bahwa Aceh terkenal dengan kopi sebagai salah satu komoditas andalannya. Sehingga kok rasanya mubazir apabila kita tidak menikmati kopi selama tinggal di sini. Apalagi Lhokseumawe terkenal dengan warung-warung kopinya yang tersebar sporadis dimana-mana.

Untuk makan siang anda jangan sampai melewatkan sajian Kare Kambing. Ada banyak pilihan warung makan yang spesialis menyediakan menu ini, tinggal anda pilih mau yang mana. Saran saya anda harus bertanya pada warga lokal untuk mengetahui warung Kare Kambing mana yang recommended. Sudah dua kali saya merasakan kare kambing di warung yang berbeda, dan rasanya pun hampir sama. Lazis. Dagingnya empuk dan tidak berbau amis. Oh ya, jangan lupa pesan minuman jus timun. Konon menurut warga setempat, minuman ini manjur untuk mereduksi kadar kolesterol yang naik sebagai efek makan daging kambing. Konon katanya begitu, saya belum membuktikannya secara klinis.

Mie Rumbia
Mie Rumbia | © Rulli Rachman

Malam tiba, saatnya makan lagi. Untuk menu makan malam, tentu saja kita harus mencoba menu kuliner Aceh yang tersohor, Mie Aceh. Untuk menyantap mie ini memang banyak pilihan yang tersedia. Warung-warung pinggir jalan pun rata-rata menyediakan menu ini. Saya rekomendasikan anda untuk mengunjungi Mie Rumbia yang berlokasi di jalan Darussalam. Rata-rata pendatang banyak yang mengetahui warung mie ini. Sudah beberapa kali saya berjumpa dengan rombongan lain yang berasal dari Jakarta dan pilihan mereka pun sama, warung Rumbia ini.

Untuk mie aceh ada beberapa pilihan cara memasak. Ada mie goreng, rebus atau tumis. Untuk minuman tersedia aneka ragam. Yang pertama ada kopi saring. Kopi ini diseduh dengan air mendidih. Seduhan ini akan disaring berulang kali dengan saringan yang terbuat dari kain dan dituangkan dari satu ceret ke ceret yang lain. Beberapa kali. Kopi yang dihasilkan berwarna hitam pekat dan tanpa ampas. Kemudian tersedia juga kopi sanger, kopi yang dicampur dengan susu. Biasanya saya memilih Teh Tarik sebagai teman mie aceh. Sembari menunggu mie matang, anda bisa ngemil martabak canai telur.

Selesai makan malam lalu pulang? Tunggu dulu. Seperti yang saya paparkan di awal, Lhokseumawe terkenal dengan warung kupinya yang tersebar dimana-mana. Anda bisa memilih untuk nongkrong di warung konvensional atau yang bergaya modern. Apabila anda suka yang kedua, saya rekomendasikan kafe Black Castle. Kafe dengan pengaturan interior masa kini ini berlokasi tepat di seberang Islamic Centre. Pertama kali saya berkunjung ke kafe ini, alunan lagu Chainsmokers featuring Halsey, Charlie Puth dan Ed Sheeran menyambut saya. Otomatis saya pikir kafe ini menjadikan pemuda zaman now sebagai segmen pasarnya. Ternyata tidak juga. Di sana banyak juga pengunjung dari berbagai usia, muda sampai tua. Menurut penuturan pegawai Black Castle, kafe ini buka hingga tengah malam. Oh ya, jangan lupa untuk mencicipi Kuah Tuhe Duren, semangkok ketan putih atau ketan hitam yang diguyur kuah santan dilapisi durian. Yummy.

Kafe Black Castle
Kafe Black Castle | © Rulli Rachman
Kupi dan Kuah Tuhe Durian
Kupi dan Kuah Tuhe Durian | © Rulli Rachman

Dinas keluar kota selalu saya anggap sebagai rehat dari kepenatan kerja. Karena dengan berkunjung ke daerah-daerah, kita akan dimanjakan oleh pemandangan yang mustahil kita jumpai di ibu kota. Jalanan yang lengang tanpa disertai kemacetan, jarak tempat tinggal yang tidak sepadat rumah-rumah di perkotaan dan sebagainya. Selain itu berbagai cerita bisa kita dapatkan dari obrolan warung kopi. Dari mulai mengetahui kosa kata tertentu seperti galon untuk sebutan SPBU, atau kereta untuk sebutan sepeda motor, kemudian mengerti bagaimana efek tsunami yang melanda Aceh pada tahun 2004 silam, sampai bertanya soal proyek kereta api yang terbengkalai.

Pagi ini langit mendung. Saya sedang mengemasi barang-barang untuk persiapan kembali ke Jakarta, tempat dimana keluarga tercinta sudah menanti di rumah. Selain itu, ada satu benda yang sudah menunggu saya. Yakni timbangan berat badan yang menuntut untuk dikembalikan jarum penunjuknya ke arah sebelah kiri.

Rulli Rachman

Bola, buku, kopi, movie