Purnama di Puncak Guha

Ibu Kota selalu meningkatkan kadar stres. Rehat sejenak dari rutinitas agaknya selalu menjadi pilihan menarik di hari libur.

Garut kali ini menjadi tujuan saya dan beberapa teman, khususnya Garut Selatan, yang terkenal dengan bentangan pantainya. Saya rasa tempat itu akan menjadi obat mujarab untuk mengobati kerinduan pada alam bebas setelah saban hari hanya berkutat dengan rutinitas kantor dan sekat-sekat dindingnya yang menyesakkan dada dan kepala.

Setelah cukup lama menunda, perjalanan ini akhirnya terlaksana. Kami berenam berangkat dari Jakarta pukul 1 dini hari.

Cuaca akhir tahun sebenarnya sedang tidak bersahabat. Bagaimana tidak, hujan deras yang terus mengguyur saban hari, angin kencang, badai, banjir hingga longsor terjadi di beberapa daerah. Kondisi ini membuat kami awalnya sempat ragu untuk melakukan perjalanan. Tapi dengan modal nekat dan berdoa pada Tuhan, kami akhirnya tetap pergi.

Sepanjang perjalanan hujan menemani kami. Ditambah kami juga pergi saat weekend, alhasil meski dini hari, jalan tol tetap saja macet. Perjalanan Jakarta-Ciwidey (Bandung) nyaris kami tempuh 7 jam.

Kami terlebih dulu mampir ke Ciwidey. Kenapa ke Ciwidey? Pertama, Ciwidey adalah daerah rumah saya. Jadi, kami bisa beristirahat sejenak di sana. Kedua, jalan untuk menuju Garut Selatan memang lebih dekat melalui Bandung, yaitu jalur Banjaran-Pangalengan-Garut. Ketiga, ada beberapa alat kemah yang kami perlukan dan saya simpan di rumah.

* * *

Hari itu Ciwidey juga terus-terusan diguyur hujan sehingga cuaca sangat dingin. Suhu di luar ruangan mencapai 15 derajat. Walhasil, waktu istirahat kami menjadi lebih lama di rumah. Apalagi, Ayah dan Ibu saya juga sempat menahan untuk tidak melanjutkan perjalanan mengingat cuaca yang buruk. Meski akhirnya mereka juga mengizinkan dengan berbagai macam syarat yang harus kami penuhi.

Cuaca sempat membaik saat kami sampai Banjaran.Tapi itu tak lama, dan tiba-tiba kembali memburuk begitu memasuki Pangalengan. Hujan dan angin perlahan kembali berhembus hingga hujan cukup deras mengguyur ditambah kabut pekat yang membuat jarak pandang tak sampai 10 meter.

Namun, kabut tebal dan hujan tak menciutkan niat kami untuk melanjutkan perjalanan. Beberapa ranting bekas pohon tumbang di beberapa sisi jalan. Warung kopi pinggir jalan pun menjadi pilihan kami untuk singgah. Kondisi itu membuat kami beradu argumen hingga voting meski sebagian dari kami memilih “terserah” dan “bebas”.

“Udah kita jalan aja, Insyaallah aman. Ini sebentar lagi turun gunung jadi kabutnya enggakakan setebal ini,” kata-kata Fathra ini mengakhiri diskusi kami dan akhirnya melanjutkan perjalanan.

* * *

Kawan perjalanan
Kawan perjalanan | © Erika Hidayanti

Perjalanan Pangalengan-Garut Selatan didominasi oleh jalanan berkelok dan sempit. Terkadang, jalan kami juga diapit jurang dan tebing, dan perkebunan teh yang luas. Kami juga melewati beberapa danau di Pangalengan seperti Situ Cileunca dan Situ Cisanti.

Sekitar pukul 17.30 kami mulai memasuki kawasan Pantai Selatan Garut. Sebelum benar-benar sampai di tujuan, yaitu Puncak Guha, sepanjang jalan kami disuguhkan pemandangan laut yang terhampar luas di depan mata. Lautan itu terlihat seperti mengapung dari arah pandang kami, sangat biru dan menenangkan.

Kami tiba di Puncak Guha hampir gelap dengan disambut rintik hujan. Untuk memasuki kawasan ini kami cukup membayar Rp10 ribu per orang dan sudah termasuk izin kemah, cukup terjangkau bukan?

Hamparan pantai dilihat dari Puncak Guha. Puncak Guha adalah sebuah puncak dari guha kelelawar yang sangat besar
Hamparan pantai dilihat dari Puncak Guha. Puncak Guha adalah sebuah puncak dari guha kelelawar yang sangat besar. | © Erika Hidayanti

Di tengah gerimis, kami bergotong royong mendirikan tenda lalu memasak untuk menyiapkan makan dan minuman hangat. Suara ombak di tengah hujan menemani kami. Perlahan hujan lalu berhenti dan berganti purnama. Sungguh indah. Dari atas bukit Puncak Guha itu kami bisa melihat lautan lepas yang tersinari purnama.

Sebelum saya lupa, saya akan menjelaskan tempat seperti apa Puncak Guha. Puncak Guha adalah sebuah bukit atau puncak dari sebuah guha kelelawar yang besar. Karena sangat besar, puncak dari guha kelelawar yang juga ditumbuhi padang rumput hijau yang cukup luas itu bisa dijadikan tempat berkemah.

Dari atas sana kita bisa melihat laut Garut Selatan dengan pasir kehitamannya. Tepat dari atas sana kita juga bisa melihat muara sungai yang berbatasan dengan laut. Di situlah air asin dan air tawar bertemu. Benar-benar pemandangan ciamik.

Pertemuan air laut dan sungai yang terlihat dari Puncak Guha
Pertemuan air laut dan sungai yang terlihat dari Puncak Guha | © Erika Hidayanti

Bukan hanya laut, di sisi yang lain kita juga bisa langsung melihat jajaran pegunungan Sunda. Lengkap sudah pemandangan yang disuguhkan: mulai dari laut, sungai, hingga gunung. Beruntungnya lagi, semua itu bisa kami nikmati keesokannya saaat hari cerah.

Saya berani menjamin, Anda yang suka berkemah akan sangat menikmati kemah di Puncak Guha. Sebab di sini, Anda akan mendapat pemandangan laut dan pegunungan sekaligus. Udaranya juga tak begitu panas seperti pantai pada umumnya, masih ada angin sepoi yang menyejukan.

Kalian patut mengunjunginya bersama sahabat terbaik kalian!

Erika Hidayanti

Indonesia asli, darah campuran Sunda-Jawa-Bugis yang senang mencuri waktu untuk ngopi dan nulis di samping jendela kamar.