Pulang untuk Semangkuk Soto Lamongan

Sore itu, sehabis hujan membasahi tanah Jakabaring Sport Center, Palembang. Kami, rombongan Universitas PGRI Ronggolawe Tuban bertolak ke Bandara Sultan Mahmud Baharuddin, Pelembang untuk kembali ke tanah Tuban. Lelah, letih, dan senang bercampur menjadi satu. Pasalnya Kampus kami baru saja mengikuti Pekan Olahraga dan Seni Nasional Mahasiswa (PORSENASMA) III di Palembang.

Sesampainya di bandara, kami langsung mencari troli untuk mengangkut koper-koper kami, untuk segera di masukkan ke bagasi pesawat yang kami tumpangi. Setelah urusan koper selesai, kami menunggu pewasat yang mengantarkan kami ke Bandara Internasional Juanda, Surabaya. Perjalanan dari Palembang ke Surabaya menempuh kurang lebih 2 jam. Pesawat kami terbang sekitar pukul 19.00 WIB. Jadi, rombongan Universitas PGRI Ronggolawe Tuban sampai di Surabaya sekitar pukul 21.00 WIB.

Sesampainya di Bandara Internasional Juanda, Surabaya. Kami, rombongan langsung bergegas menuju tempat pengambilan koper. Setelah urusan koper selesai, rombongan bertolak ke luar bandara untuk menunggu mobil jemputan dari kampus.

Ada tiga mobil yang menjemput rombongan di Bandara Internasional Juanda, Surabaya. Tiap mobil diisi lima sampai enam orang. Mobil yang saya tumpangi diisi oleh lima orang: saya, Faris, Inna, Santi dan Pak Sopir. Setelah mobil yang menjemput kami tiba, saya langsung memasukkan koper ke mobil.

Hampir 15 menit perjalanan perut saya mulai keroncongan. Mulai butuh asupan makanan. Maklum, saya hanya makan roti saat menunggu keberangkatan di Bandara Sultan Mahmud Baharuddin. “Pak, nanti kita makan di Lamongan saja, ya. Soalnya saya tahu tempat makan yang enak di Lamongan.” Celetuk Faris ke pak Sopir. Pak Sopir pun mengiyakan. Saya yang mendengar ucapan itu langsung kegirangan, rindu saya akan tanah Lamongan pasti terbayar dini hari itu. Sebagai anak Lamongan, saya sangat mencintai makanannya. Tak terkecuali Soto Lamongan.

Setelah itu, lantas saya langsung tertidur pulas sampai tiba di rumah makan. Awalnya, saya kira rombongan sudah sampai di kampus, tetapi nampaknya rombongan berhenti di salah satu rumah makan di Lamongan, namanya Depot Asih Jaya (Pusat Soto Lamongan) di Komplek Pertokoan Lamongan Indah, Jalan Panglima Sudirman 75.

Kami pun turun dari mobil, saya yang masih tidak sadar dan masih sempoyongan masih belum sadar. Setelah kami masuk ke rumah makan. “Kalau pemain Persela Lamongan makan Soto itu disini, Wid.” Celetuk Faris ke saya. Saya pun hanya mengangguk saja.

Setelah kami duduk, tak lama pelayan rumah makan langsung menyodorkan menu di Depot Asih Jaya. Saya langsung memesan Soto Lamongan dengan nasi yang dipisah, dan minuman segelas susu putih hangat. Nampaknya Faris, Inna, Santi, dan Pak Sopir juga dengan pesanan yang sama, yakni Soto Lamongan. Setelah pesan makan, Saya mencoba mencari toilet untuk membasuh wajah yang masih dalam keadaan letih perjalanan jauh.

Di Depot Asih Jaya, bukan hanya ada Soto Lamongan saja. Tetapi ada banyak menu. Bakso, Rawon Sapi, Gado-Gado, Tahu Campur, Mie Goreng, Nasi Goreng, dan masih banyak menu yang lainnya. Tetapi yang terkenal di Depot Asih Jaya adalah Soto Lamongannya.

Sembari menunggu Soto Ayam datang, saya melihat beberapa pigura yang terpampang di dinding sebelah timur. Ternyata pigura tersebut adalah foto beberapa orang besar, selebriti yang pernah bersua untuk makan Soto Lamongan di Depot Asih Jaya. Ada Giring Nidji, Kiki Farrel, dan masih banyak lagi.

Setelah kami menunggu. Minuman dulu yang mendapat di meja kami. Selang beberapa menit, Soto Lamongan kami datang. Mata saya langsung fokus ke kuah Soto yang kental berwarna kuning bening.

Saya langsung mencoba 1- 2 sendok kuah Soto. Saya mencoba mengaduk, dan makan beberapa irisan ayam. Rasanya sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Kalian, para pembaca harus mencobanya sendiri. Hehehehe…

Saya juga memperhatikan teman saya yang langsung mencampur soto dengan kecap, sambal, dan koya. Oke, itu hak kalian. Namun bagi saya, ketika kita menikmati makanan yang berkuah ada baiknya kita mencoba satu hingga dua sendok untuk menikmati kuah dengan rasa orisinil. Bagi saya ketika kita langsung mencampur Soto dengan kecap dan sambal itu akan membuat cita rasa kuah yang jauh berbeda. Tetapi itu hak kalian.

Soto Lamongan di Depot Asih Jaya dibandrol mulai harga Rp. 22.000.

Tak pelak dini hari itu adalah obat kangen saya setelah enam hari di Palembang, dan harus makan dengan cita rasa orang Pelembang.

Awid Adi Cahyadi

Anak terakhir dari 8 bersaudara yang pernah ngatlet bulutangkis waktu mahasiswa.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405