Pulang untuk Semangkuk Mie Pitik

Apa yang sering diingat jika bicara soal Surabaya? Panas? Tentu! Lalu jika bicara soal kulinernya? Kebanyakan orang menjawab, Rujak Cingur, Tahu Tek, atau Lontong Balap yang segar dengan potongan lento yang kemripik itu?

Sederet makanan tadi memang telah menjadi citra Surabaya. Olahan makanan yang di dalamnya turut disemarakkan dengan bumbu petis pekat yang rasanya tajam dan nendang. Namun makanan khas Surabaya juga tak melulu yang berbau petis. Banyak juga kok makanan yang dijumpai di sudut-sudut kota Surabaya yang begitu memorable bagi lidah masing-masing, termasuk saya.

Dan jika muncul kembali pertanyaan, “Ketika sedang kelaparan dan kamu terlempar di Surabaya, apa yang ingin kamu makan?”, mudah saja menjawabnya, “Mie Pitik”.

* * *

Saya besar selama 18 tahun di Surabaya meski kini sudah enam tahun lebih tinggal di Malang. Enam tahun tentu bukan waktu yang singkat. Karenanya, saya kadang sering kikuk ketika diminta pulang ke kota kelahiran saya. Itu tak lain ya, karena saya memang jarang pulang. Bagi saya Malang lebih menyenangkan: udaranya yang dingin, makanannya yang enak-enak, apalagi kini saya juga tengah fokus mengejar jodoh gelar sarjana.

Karena itulah, meski sedang pulang karena memenuhi kewajiban, hari-hari saya lebih banyak di rumah. Walhasil, jika ingin sekadar mencicip cafe gaul atau cafe anyar, saya bingung setengah mati untuk memutuskan uang segepok ini ingin dibuat menyantap makanan model apa. Palingan ujung-ujungnya saya makan di rumah atau warteg dan segepok uang tadi saya simpan sebagai modal kawin wirausaha.

Lalu hingga pada suatu hari yang malas, saya yang sedang leyeh-leyeh di rumah diajak paksa seorang kawan untuk menemaninya makan siang. Saya hanya mengiyakan saja dan memintanya memilihkan tempat makan, asal bukan cafe. Akhirnya kami janji bertemu di tempat yang sebetulnya tak asing buat saya, Aiola Eatery. Tempat itu tak asing karena lokasinya berada di komplek SMA tempat saya menuntut ilmu sekaligus menikmat masa-masa abege.

Bangunan Aiola Eatery bergaya arsitektur Belanda yang lokasinya berada di Jalan Slamet. Dulu, rumah makan ini adalah sebuah distro. Karena pelatarannya yang luas, tiap akhir pekan sering digelar acara musik, khususnya band-band indie. Tapi itu dulu, saat saya masih SMA dan masih ranum-ranumnya.

Bangunan Aiola Eatery
Bangunan Aiola Eatery | © Wikimapia.org
Interior Aiola Eatery
Interior Aiola Eatery | © Indah Ciptaning Widi

Sekitar lima tahun yang lalu, tempat ini kemudian menjadi sebuah tempat makan. Konsepnya bukan tempat makan seperti cafe atau restoran, melainkan menerapkan sistem foodcourt.

Memasuki pelataran Aiola, saya memilih meja di bagian luar agar bisa leluasa merokok. Tak jauh dari di sekitaran itu, terdapat beberapa stand ala pedagang kaki lima atau biasa disebut rombong yang berjajar rapi dan teratur. Mereka mulanya adalah para pedagang kaki lima yang membuka lapak di sepanjang jalan Slamet. Oleh pihak Aiola, mereka kemudian disediakan tempat di sekitaran tempat makan itu. Pantas saja saya tak begitu asing.

Melihat para pedagang itu menarik ingatan saya kala SMA dulu. Tiap kali pulang sekolah, perut biasanya mendadak diserang rasa lapar karena usai dihajar habis belajar delapan jam mata pelajaran. Maka bergerilya untuk mengisi perut sudah pasti dilakukan hampir saban sore. Dan tentu saja kami mendatangi para pedagang kaki lima itu.

Jenis makanan yang dijajakan saat itu cukup variatif. Mulai dari soto ayam, nasi goreng, bakmi goreng, bakso, dan gado-gado. Namun, karena selera lidah saya yang muskil didustai ini, akhirnya selalu melabuhkan pilihan ke makanan favorit saya, Mie Pitik.

Rombong-rombong yang menyediakan bermacam makanan
Rombong-rombong yang menyediakan bermacam makanan | © Indah Ciptaning Widi
Suasana pengunjung yang sedang menikmati makanannya atau sekedar nongkrong
Suasana pengunjung yang sedang menikmati makanannya atau sekedar nongkrong | © Indah Ciptaning Widi

Sebagian dari Anda mungkin terdengar asing. Tentu saja, karena jenis mie ini lazimnya memang disebut Mie Ayam. Tapi kan yah sama saja, Ayam yang dalam bahasa Jawa disebut Pitik, Pitik yang dalam bahasa Indonesia disebut Ayam.

Bahkan hingga saya menulis ini, dengkul saya gemetar menahan liur-liur yang siap tumpah. Karena saya hampir tak pernah lupa rasa dari semangkuk mie yang semasa SMA dulu hampir tiap hari mewarnai hari saya lebih-lebih dari (mantan) pacar saya sendiri.

Rasa semangkuk mie itu bagi saya tak sama seperti mie ayam kebanyakan. Bahkan ketika sekian lama saya merantau di Malang, tak pernah ada mie ayam serupa yang mampu menandingi rasa Mie Pitik Bang Azat ini

Sebetulnya tak ada yang berbeda dari cara mie pitik dimasak dengan mie ayam kebanyakan. Mie dengan ukuran sekepalan tangan direbus bersama potongan sawi hingga didapatkan tekstur mie yang kenyal, tak alot juga tak lembek. Setelah beberapa menit, mie ditiriskan kemudian ditumpahkan ke dalam mangkuk yang telah berisi racikan bumbu seperti garam, merica, penyedap rasa, saus ini dan kecap itu yang jelasnya hanya Bang Azat dan Tuhan yang tahu.

Setelah dicampur merata, guyuran satu-dua sendok sayur berisi kaldu ayam berminyak berwarna kecokelatan dengan irisan daun bawang itu seketika menenggelamkan sebagian mie yang masih kepal-kepul mengeluarkan asap tanda masih panas-panasnya.

Sang juru masak, Bang Azat, punya istilah sendiri untuk ukuran kuah mie pitik pelangganya. Pelanggan bisa minta mie “nyemek” atau mie “banjir”. Begitu istilah yang ditujukan jika ingin semangkuk mie penuh dengan kuah gurih yang disebut “banjir”, dan yang tak begitu suka mienya tenggelam dalam kuah disebutnya “nyemek” yang bisa diuraikan lagi artinya tak kering juga tak terlalu basah.

Lalu yang paling mahadewa adalah bubuhan toping di atasnya, yakni olahan ayam cincang basah yang empuk bak melumer saat dikecap bersamaan dengan bumbu asin, manis dan gurih yang menendang langit-langit mulut. Dan terakhir diberilah itu satu-dua sendok acar mentimun segar.

Itu baru sajian semangkuk Mie Pitik yang biasa. Seringnya saya meminta ekstra toping, pilihannya bisa ditambahkan dengan ceker, sayap, kepala, telur puyuh atau bakso.

Soal harga, Bang Azat cukup bersahabat dengan kantong anak sekolah seperti saya. Dulu, untuk semangkuk mie pitik dihargai mulai Rp 6000 sampai Rp 10.000, tergantung tambahan topingnya. Nah, kalau sekarang harganya jelas lebih mahal, berkisar Rp 13.000-Rp 23.000, karena menyesuaikan tempat yang lebih kekinian, higienis dan tertata apik.

Hingga kini, kesukaan dan selera makan saya pada mie itu tak berubah. Termasuk saat saya mengunjunginya sore itu. Tak banyak perubahan dari wujudnya. Mulai dari mangkuk, susunan toping ayamnya yang hampir menyelimuti mie, dan yang paling penting tentu cita rasanya yang tetap nikmat.

Semangkuk Mie Pitik dengan tambahan dua sayap mengkel-mengkel itu saya pesan “nyemek” dan pedas sekali. Bang Azat nampaknya juga mengikuti tren makanan pedas beberapa tahun belakangan ini. Dan benar saja Mie Pitik dengan tampilan warna merah pada kuahnya sedikit menggertak lidah dan setelah merasakan seujung sendok ternyata rasa pedasnya tak abal-abal.

Rombong Mie Pitik Bang Azat
Rombong Mie Pitik Bang Azat | © Indah Ciptaning Widi
Semangkuk Mie Pitik dan sepiring Nasi Cumi Hitam
Semangkuk Mie Pitik dan sepiring Nasi Cumi Hitam | © Indah Ciptaning Widi

Tak lama pesanan makanan kawan saya datang. Saya yang jarang pulang ke Surabaya, tentu kegirangan saat semangkuk Mie Pitik itu sudah mendarat di meja depan saya. Sementara teman saya memesan sepiring Nasi Cumi Hitam.

Arom cumi hitamnya yang tajam itu tak sengaja terendus, “Hm sedap juga sepertinya”. Serundeng kelapa, mie dan sambal pencit yang mendampingi cumi tersebut juga nampak kompak untuk bersamaan menggulung lidah.

Saya memang belum pernah mencobanya, namun akan kutuntaskan dulu kerinduan pada semangkuk Mie Pitik ini. Baru kalau Nasi Cumi Hitam ini nantinya mampu memikat lidah dan bisa melekat di ingatan, maka tak ada salahnya nanti saya pulang ke Surabaya dengan alasan sepiring Nasi CuHiMa, begitu makanan ini biasa disingkat.

Memang akan selalu ada alasan bagi anak rantau untuk pulang. Bahkan jika hanya untuk sepiring nasi dan sepotong tempe yang digoreng oleh Ibumu yang cita rasanya sudah kadung melekat di dalam lidah dan ingatan Anda. Bukan begitu?

Indah Ciptaning Widi

Menulis, melamun dan mencinta dalam sekali waktu.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405