Potum Ergo Sum di MIDB

Kami menyebutnya MIDB, bukan nama sebuah komunitas, tapi nama ini mewakili apa yang kami lakukan tiap malam Jum’at. MIDB adalah singkatan dari “Mencuri Ilmu Dari Buku”, yaitu semacam reading club atau diskusi buku. Tempat diskusi kami mempergunakan lantai atas dari sebuah gedung. Gedung yang sejatinya kantor Tupperware yang berada di belakang Ramayana Cilegon. Setiap malam Jum’at, tempat ini kami gunakan untuk diskusi. Ini semacam tempat pengasingan dari hiruk pikuk keseharian yang bising, sekaligus persiapan menghadapi akhir pekan yang kadang melenakan.

Kegiatan ini bermula sekira dua tahun yang lalu, dengan Kak Magda Suparlim sebagai salah satu penggagasnya. Beliau adalah maniak buku sekaligus owner dari Rumah Buku Cilegon. Suka berdiskusi tentang banyak hal membuatnya berinisiatif unutk membentuk semacam kelompok diskusi.

Kata bedah buku sepertinya selalu terlihat angker dan membosankan bagi kita. Itulah kenapa Kak Magda lebih memilih kata Mencuri Ilmu Dari Buku sebagai pengganti ‘’Bedah Buku’. Dan karena dilabeli mencuri, maka setiap orang yang bertugas sebagai pengisi atau pembedah buku lalu disebut sebagai Maling.

Genre buku yang dicuri ilmunya bermacam-macam, dari mulai sastra fiksi sampai non-fiksi. Dari yang kecil dan tipis sampai novel yang tebal layaknya bantal tidur. Sebut saja misalnya buku babon The Historian karya Elizabeth Kostova yang menceritakan muasal Drakula itu.

Koelit Ketjil (Topi Hitam) Dalam Diskusi MIDB
Koelit Ketjil (Topi Hitam) Dalam Diskusi MIDB | © Imam B. Carito

Dalam sesi mencuri semacam ini biasanya disambung dengan diskusi yang mencerahkan. Diskusi ini tentu saja berfungsi sebagai pendalaman pemahaman dua arah baik dari maling ataupun para peserta MIDB. Hal ini berfungsi sebagai bahan pengaya sudut pandang dan pengetahuan kita tentang suatu topik/tema dari sebuah buku. Karena seorang maling yang baik harus selalu serakah dalam mengambil sesuatu, termasuk ilmu dari sebuah buku.

Saya sendiri menyebut MIDB semacam detoks bagi kewarasan pikiran, setelah hampir sepekan pikiran berkutat dengan kesibukan rutinitas. Adanya MIDB pikiran kita direfresh oleh hal-hal baru. Momen ini bisa kita samakan dengan momen dimana kita merasakan secara nyata kata-kata Descartes yakni, Opto Ergo Sum, aku berpikir maka aku ada.

Konten Variasi

Pada tahun-tahun awal, konten MIDB memang tentang buku. Namun setelahnya kawan-kawan mengusulkan variasi konten. Ini dimaksudkan untuk mengatasi kejenuhan dan sekaligus memfasilitasi peserta dengan hobi dan passion selain buku. Maka dari empat pekan dalam satu bulan, biasanya selalu ada variasi konten.

Sesekali kegiatan MIDB diisi dengan menonton film dokumenter yang sedang ramai dibicarakan. Misalnya, ketika di ibukota ramai soal reklamasi, konten MIDB diisi acara menonton film Rayuan Pulau Palsu. Ketika media sedang ramai membicarakan rekonsiliasi 65, maka MIDB diganti dengan acara nonton bareng film Senyap. Atau seperti bulan lalu, ketika MIDB diganti dengan acara nobar film Sang Penari. Film yang diangkat dari novel Ronggeng Dukuh Paruk milik Ahmad Tohari.

Ketika dua bulan lalu Munir dikenang setelah 12 meninggal, MIDB juga memutar film In Memoriam Munir. Peserta yang hadir kala itu bukan main banyaknya, membludak, bahkan satu ruang MIDB hampir penuh. Dan yang menarik, pemutaran ini juga dihadiri oleh Aliyth Prakarsa, dosen Hukum yang juga seniman dengan nama pena Koelit Ketjil.

Maka tak heran jika di malam Jum’at tersebut, bada’ isya alunan musik Eye Feel Six, sudah menggema. Sayup sayup kawan-kawan mendengar penggalan liriknya; kebenaran jadi candu tak bisa dibungkam seribu peluru. Dan saat kamu sampai di ruangan, seseorang sudah asyik dengan seperangkat Mini DJ tools-nya.

Mang Aip dengan Mini DJ Tool
Mang Aip dengan Mini DJ Tool | © Imam B. Carito
Pose Merajut Cowok Macho
Pose Merajut Cowok Macho | © Imam B. Carito

Kami sering memanggilnya Mang Aip, yang selain jago nge-DJ, spesialisasinya di MIDB adalah Maling Luar Angkasa. Jadi, selain sebagai maling buku dan nobar, konten MIDB yang lain adalah jelajah pengetahuan luar angkasa. Dari mulai pengetahuan tentang multiverse, flatearth, sampai materi Tuhan (God Matter).

MIDB juga pernah diisi dengan Maling Punk. Ideologi yang sebenarnya memebebaskan dalam arti baik ini artinya menjadi sangat melenceng di mata masyarakat kita saat ini. Konten Knit (merajut) juga pernah menjadi salah satu konten MIDB. Sudah barang tentu di sesi ini kita bisa melihat cowok-cowok kece dan gagah perkasa memegang benang, jarum lalu merajut.

Sedangkan Jum’at pekan lalu, MIDB khusus membahas Open Source sebagai pengetahuan baru yang komplek tentang dunia komputer. Dan tentu saja materi seperti ini membuat kita sadar bahwa dibalik tampilan komputer kita yang asoy itu terdapat kerumitan luar biasa. Ini adalah tepat seri MIDB yang ke 25.

Potum Ergo Sum

Selain penggila buku, Kak Magda juga penikmat kopi, dan ini menjadi sisi menarik yang lain. Karena selain dapat mencuri ilmu, di sela-sela diskusi kita bisa menyeduh sendiri varian kopi koleksi Kak Magda. Atau sesekali ada juga para peserta yang membawa sendiri kopi kesukaannya untuk diseduh bersama.

Kopi di MIDB
Kopi di MIDB | ©Imam B. Carito

Maka sesekali kita jumpai kopi kupu-kupu asli Rangkasbitung. Sesekali juga kita bisa menemukan kopi Minang, Sumbar dan kopi Solok. Pekan lalu malah kopi Lanang, Lintong dan Flores masih kinclong dalam kemasan, tanda barang baru datang rupanya. Maka nikmat mana lagi yang perlu didustakan jika sudah demikian adanya.

Godaan berat semacam inilah yang kerap dialami manusia-manusia seperti saya. Niatnya dari rumah sudah berangkat dengan menerapkan falsafah ‘Opto Ergo Sum’. Tapi setelah sampai di lokasi malah berubah, bukan lagi Opto Ergo Sum tapi jadi Potum Ergo Sum, Aku Minum (kopi) Maka Aku Ada.

Imam B. Carito

Belum jadi apa-apa. Masih pengen jadi sesuatu. Suka membaca, masih belajar menulis. Suka kopi item, kopi susu dan kopi tahlil.