Pohon Kopi

Pohon Kopi yang saya maksud kali ini bukan sebuah tanaman. Ini adalah nama sebuah kafe kecil di Nginden, Surabaya. Dekat dengan kampus Untag (Universitas Tujuh Belas Agustus). Letaknya tidak strategis, tidak berada di pinggir jalan utama, masuk ke jalan kecil sehingga tidak terlalu mencolok.

Saya beberapa kali mampir di sini. Suasananya hangat dan tenang. Tiap saya ke sini selalu ada 3-4 pengunjung, tapi tak pernah sampai penuh. Saya terbiasa dengan warung kopi yang rame, sesak, penuh asap rokok, orang ngobrol dan bercanda dengan suara keras. Dan di sini, saya menemukan kenyamanan tersendiri. Tidak terlalu rame tapi juga tidak sepi.

Terdapat tiga ruang untuk menikmati minuman dan makanan Pohon Kopi. Ruang outdoor yang terletak di bagian depan, ruang utama dan lantai 2. Di lantai 2 terdapat ruangan kecil yang dilengkapi proyektor.

Pengunjung yang masuk akan disambut cat warna krem yang memberi kesan hangat. Kursi dan meja kayu sengaja tidak dicat untuk menampilkan warna asli kayu. Pada salah satu bagian dinding terpajang foto-foto pengunjung kafe disertai catatan singkat. Oh iya, AC-nya dingin, cocok sebagai tempat melarikan diri dari Surabaya yang panas.

Gelas Saji di Pohon Kopi
Gelas Saji di Pohon Kopi | © Hafiiz Yusuf

Pada kunjungan sebelumnya saya memesan americano (kopi hitam). Tapi kali ini saya ingin sesuatu yang lain. Di papan menu saya liat single origin dan berbagai jenis kopi. Ada Toraja, Papua, Preanger, Karo dan lain-lain.

Saya mencoba Karo Ajijihe. (Bagi orang yang awam perkopian, ini asal pilih saja, saya juga tidak paham apa maksudnya single origin. Mungkin artinya single yang masih orisinal, karena ada juga single tapi sudah tidak orisinal).

Saya duduk sebentar. Pesanan tak lama datang. Yang dibawa pelayan bukan secangkir kopi, dia meletakkan semacam papan plastik di meja. Oh, ternyata itu timbangan digital. Bentuknya kotak pipih menyerupai talenan dengan layar kecil. Lalu di atas timbangan tadi ditaruh sebuah gelas kaca. Mirip tabung labu seperti di laboratorium. Dan di atas tabung itu ada wadah dengan saringan kertas, yang berisi bubuk kopi. Lalu pelayan balik lagi.

“Hah, ini trus diapain?” pikir saya.

Kemudian pelayan datang lagi dengan membawa teko mengepul berisi air mendidih. Dengan gerakan mantap, teko air mendidih tadi dituang perlahan-lahan di atas kertas saringan. Sari kopi tanpa ampas melewati saringan kertas mengalir menuju ke tabung labu.

Sedikit demi sedikit tabung terisi, sampai kira-kira 3/4 tabung. Rupanya timbangan digital itu untuk mengukur jumlah air secara tepat. Pelayan kemudian menyajikan gelas kecil, kecil sekali, seukuran gelas untuk minum air zam-zam ketika ada tetangga yang pulang haji. Dan juga segelas air putih.

“Wah sudah siap diminum ini, hei, tapi mana gulanya??..”

Saya menunggu, mungkin pelayan akan mengambilkan gula, tapi ternyata tidak. Single Origin disajikan tanpa gula.

Nah, kopi pahit ini. Saya menuang cairan kopi dari tabung labu ke gelas kecil. Sruput.. srupuut.. hemm.. ada rasa asam, ada rasa pahit, dan sedikit tercecap jejak manis. Aromanya harum. Rasa kopi ini kuat, menyentak syaraf sensitif di lidah. Membuat saya beberapa kali berkecap-kecap.

Jadi, seperti ini rasanya minum kopi tanpa gula. Tidak terlalu pahit ternyata, masih lebih pahit ucapan dosen killer. Kopi ini saya habiskan pelan-pelan, lebih lama dari saya biasa minum kopi dengan gula. Sepertinya saya lebih cocok minum kopi bergula.

Selain kopi, di sini disajikan pula berbagai minuman non kafein seperti susu, milkshake, coklat, dan teh dengan berbagai rasa. Untuk makanannya ada makaroni, spaghetti, kentang goreng dan beberapa makanan ringan lain.

Mengakhiri coretan singkat ini, saya kutip catatan Facebook Profesor Nadirsyah Hosen, “Sesempurna apapun racikan kopimu, pasti masih ada rasa pahitnya, hey.. bukankah begitu juga dengan kehidupan..”

Hafiiz Yusuf

Mahasiswa STIEUS Surabaya