Pisang dan Babi: Harta Karun Desa Munduk

Kedatangan tim Ekspedisi Munduk ke Bali Utara, pada dasarnya, memang untuk belajar dengan petani cengkeh dan kopi. Namun, tentu tak ada salahnya berkenalan, sekaligus menikmati produk budaya yang disajikan desa yang sejuk ini. Salah satunya adalah kuliner. Harta karun yang tak boleh, tak diburu.

Salah satu yang membuat Ekspedisi Munduk berjalan dengan mulus adalah amunisi yang menghangatkan perut. Segala macam menu masakan, dari yang ringan, hingga yang ehem “haram”, bisa menjadi petualangan yang mendebarkan. Mungkin, lain kali, perlu diadakan Ekspedisi Kuliner Desa Munduk. Ringan hati ini menyambut imajinasi itu.

Setidaknya ada tiga jenis makanan yang begitu berkesan di perut saya. Siapkan tisu untuk mengelap air liur Anda yang terproduksi setelah membaca tulisan wangi ini.

Pisang Ketip

Pisang Goreng Ketip Warung Bu Putu Asih
Pisang Goreng Ketip Warung Bu Putu Asih | © Yamadipati Seno

Hari kedua berada di Munduk, tepatnya pukul lima pagi, bersama Aditia Purnomo, saya berjalan kaki ke pasar setempat. Kepala Suku Mojok berpesan secara khusus kepada kami: “Harus dapat pisang ketip!”

Saya sempat ingin bertanya, namun saya urungkan. Bagaimana jika di pasar sedang tak ada pisang ketip? Pagi itu, saya sudah menyiapkan diri untuk mencuri di kebun tetangga, apabila di pasar tak ada pisang yang kurang ajar betul ajaibnya.

Begini, malam hari setelah tiba di desa ini, secara khusus, Putu Ardana, Kepada Adat Desa Munduk, menghidangkan pisang ketip dengan cara digoreng. Pisang ketip goreng itu polos saja, hanya menggunakan sedikit tepung. Warnanya cokelat terang, menyenangkan untuk dipandang. Namun, jauh lebih menyenangkan ketika mulut ini mulai menggigit pisang ketip goreng.

Pisang itu masih sedikit panas ketika saya mendekatkannya ke hidung untuk mengejar aroma. Namun, yang saya temui hanya aroma yang samar. Tak sebegitu harum, tapi ada sedikit aroma yang tercium. Seperti tertahan, aroma itu tak mau lepas dari tubuh pisang ketip goreng ini.

Fisik pisang ketip goreng ini sedikit kaku, kenyal, dan sepertinya tak mudah rusak, baik ketika digoreng atau dikukus. Dan, sebuah kejutan menendang ringan rongga mulut saya. Aroma samar yang tercium sebelumnya memang benar-benar menipu. Menyembunyikan rasa manis seperti madu yang datang begitu tiba-tiba.

Manis pisang ketip goreng ini tak menyengat. Manisnya ramah, dan seperti saya bilang sebelumnya, seperti madu. Sejauh pengalaman saya mengganyang pisang goreng, bahkan yang paling enak buatan Ibu saya sendiri, tak pernah saya menemukan rasa manis madu yang disembunyikan di dalam tubuh pisang.

Malam itu, setelah kenyang makan malam ditemani sambal bongkot, saya habis tiga glundung pisang ketip goreng. Rasa kenyang minggat ketika sedikit demi sedikit pisang ini asyik di dalam mulut saya. Jika ingin lebih manis, Anda bisa mencocolnya ke larutan gula jawa, yang biasanya menjadi teman makan pisang ketip goreng.

Pisang Ketip Goreng Tepung dengan Saus Gula Jawa
Pisang Ketip Goreng Tepung dengan Saus Gula Jawa | © Yamadipati Seno
Hasil belanjaan saya di pasar pagi bersama Aditia Purnomo
Hasil belanjaan saya di pasar pagi bersama Aditia Purnomo | © Yamadipati Seno

Kembali ke perjalanan saya dan adit ke pasar setempat. Ternyata, tak sulit untuk membeli pisang ketip. Memang, Anda harus bertanya kepada pedagang terlebih dahulu. Karena, terkadang, si penjual, akan menyimpan pisangnya di belakang. Mungkin sudah disiapkan untuk pembeli khusus, tim ekspedisi yang pagi itu kelaparan seperti saya ini.

Pisang ketip lebih mahal ketimbang pisang jenis lain. Satu tandan bisa dibanderol hingga, paling mahal, 35 ribu. Pagi itu, saya mendapatkan potongan harga. Satu tandan menjadi 20 ribu saja. Saya beli dua tandan, dan si ibu pedagang masih menambahkan pisang susu sebagai bonus. Luar biasa, hari pertama ke pasar langsung mendapat rezeki.

Setelah misi tuntas dan saya tak perlu repot mencuri pisang ketip di kebun tetangga, kami berdua mampir di sebuah warung, melting pot, tempat banyak orang berkumpul untuk menyeruput kopi dan bertukar salam. Namanya Warung Bu Putu Asih, diambil dari nama ibu yang berjualan. Dan di sini, kembali, saya menemukan pisang ketip yang diolah dengan cara berbeda, meski masih digoreng.

Jadi, sebelum dicelup ke dalam tepung, pisang ketip diiris tipis, sebesar ibu jari orang dewasa. Kecil saja, dan bisa langsung dilahap sekali jalan. Dan sama, seperti semalam, pengalaman menemukan kejutan manis madu hadir kembali. Sebuah perasaan yang menggugah, sangat wajib untuk terus dikejar. Pisang ketip mini goreng, dengan secangkir kopi robusta lokal. Pagi saya menjadi paripurna.

Iga Babi Bakar Don Biyu

Iga Babi Bakar Khas Resto Don Biyu
Iga Babi Bakar Khas Resto Don Biyu | © Yamadipati Seno

Sebelum Ekspedisi Munduk resmi dimulai, sejak jauh-jauh hari, Kepala Suku Mojok sudah bercerita kepada saya perihal kuliner pusaka Desa Munduk. Tepatnya di resto Don Biyu, kepunyaan Putu Ardana. Iga babi bakar, kata Kepala Suku, harus saya cicipi.

Namun kurang ajar betul Kepala Suku, saya baru boleh mencicipi ketika ekspedisi memasuk hari-hari terakhir. Katanya, saya mesti menyelesaikan sebagian besar tugas ekspedisi. Masih, katanya lagi, ini semacam ospek. Namun, bagi saya, masa menunggu seperti masa penyucian diri. Apalagi setelah bersentuhan badan dengan iga babi yang…ah, saya sulit betul untuk menggambarkannya.

Gambarannya begini saja.

Putu Ardana sempat berujar bahwa, salah satu temannya yang sudah menjadi vegetarian selama 11 tahun bertekuk lutut di hadapan iga babi bakar yang luhur ini. Pun salah satu temannya yang lain lagi, kita sebut saja Kaq A, yang baru saja menikmati iga babi bakar di salah satu restoran tersohor di Denpasar.

Begini ceritanya. Jadi malam itu, Kaq A berkunjung ke Bali Utara setelah baru saja menyantap iga babi bakar di salah satu restoran yang kondang dengan iganya di Denpasar. Kaq A ingin memesan menu andalan di Don Biyu. Putu Ardana lantas menawarkan iga babi bakar untuk malam itu. Namun, Kaq A menolak. Kurang lebih begini kata-katanya:

“Jangan, Bli Putu. Saya baru saja makan iga babi bakar di resto X di Denpasar. Nanti iga babi bakar Don Biyu kebanting rasanya.”

Mendengar ucapan itu, seutas senyum nakal tersungging di bibir Bli Putu Ardana. Ia menimpali, “Ya kita taruhan saja. Kalau iga babi bakar Don Biyu kalah enak, Kaq A tak perlu membayar.” Kaq A menyambut tantangan itu dengan senang hati. Kesempatan makan iga babi secara gratis mungkin sudah terbayang di benaknya.

Ketika Kaq A makan, Bli Putu Ardana sempat cemas juga. Iga babi miliknya tengah dibandingkan dengan iga babi sebuah restoran yang sudah terkenal.

Dan ketika Kaq A sudah selesai makan, dengan hati-hati, Bli Putu Ardana mendekat. “Bagaimana?” tanya Bli Putu singkat saja. Ada hening sejenak sebelum Kaq A menjawab, “Bli, saya minta iga babi bakar ini lagi. Tiga ya, untuk dibungkus,” jawab Kaq A sambil tersipu.

Cerita di atas mestinya sudah cukup untuk menggambarkan betapa luhurnya menu yang haram untuk saudara-saudara Muslim. Namun bagi saya, yang sudah gemuk, kafir lagi, Iga Babi Bakar Don Biyu adalah puncak sajian kuliner, bersandingan dengan Sop Empal Muntilan.

Jika ingin masih penasaran, silakan kunjungi tulisan saya yang lebih detail menggambarkan ibadah saya dengan iga babi bakar di situsweb munduk.co. Anda bisa membacanya di sini.

Dua menu di atas adalah harta karun yang begitu meresap, begitu berkesan untuk saya. Pisang Ketip dan Iga Babi Bakar, sepanjang hayat akan saya kenang.

Ekspedisi Kopi Miko

Yamadipati Seno

Editor, writer, dan chef @arsenalskitchen

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com