Petik Merah Bukan Biru

Pohon kopi robusta di kebun Pak Alex. Menunggu tua sebelum dipetik
Pohon kopi robusta di kebun Pak Alex. Menunggu tua sebelum dipetik | © Nody Arizona​​

Di rumah Haji Rosid, di Desa kemiri, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember, terdapat sebuah bangunan kecil sebagai tempat penyimpanan kopi. Di depan bangunan itu terdapat dua truk dan sejumlah pekerja yang sedang istirahat sembari minum kopi. Satu truk itu baru tiba dari perjalanan mengantar kopi ke Bandung, sedangkan satu truk lagi akan digunakan oleh Pak Fauzi, adik dari Haji Rosid, untuk pergi menjemput kopi ke Bondowoso.

Aktivitas sangat padat di sana. Terlebih panen kopi berlangsung serempak. Aktivitas panen kopi itu baru akan berkurang ketika sudah memasuki akhir bulan September. Gudang yang hanya berukuran sekitar 4 x 6 meter itu tidak bisa menampung banyak kopi. Jadi begitu biji kopi menumpuk, maka kopi akan segera didistribukan ke pembeli atau distributor.

Kakak-beradik ini merupakan pengepul kopi yang membeli kopi dari petani. Mereka membeli kopi apa saja, baik jenis arabika dan robusta. Jika petani kopi tidak memiliki modal untuk memupuk dan melaksanakan petik kopi, maka mereka menyediakan pinjaman kepada petani. Namun akadnya, kopi yang dibiayai dari pinjaman tersebut disetorkan kepada mereka.

Di Desa Kemiri, Kecamatan Panti, terdapat beberapa orang yang melakukan praktek seperti Haji Rosid dan Pak Fauzi. Mereka yang menjadi penghubung antara petani kopi dan pabrik pengelolaan kopi di luar kota. Selain itu, mereka memiliki peran untuk ‘memaksa’ petani melakukan petik merah.

Hal ini dibenarkan oleh Pak Alex, petani kopi di Dusun Krajan. “Petik mira, benni biru,” katanya dalam bahasa Madura, maksudnya petik merah bukan biru. ‘Biru merupakan bahasa Madura untuk menyebut warna hijau. Namun, orang-orang Madura ini, utamanya ketika diajak bicara dalam bahasa Indonesia, mereka akan tetap menggunakan ‘biru’ untuk menyebut warna hijau. “Kalau tidak petik merah, tidak ada yang mau membeli kopi,” tambah Pak Alex.

Pak Alex bukan termasuk petani kopi yang menyetorkan kopi kepada Haji Rosid. Dia menyetorkan kopi kepada pengepul lain, karena harga biji kopi robusta kupas kulit, dihargai lebih mahal yakni Rp24 ribu per kilogram. Sedangkan Haji Rosid menghargai Rp23,5 ribu per kilogram.

Para kuli sedang mengangkut kopi ke truk. Kopi robusta ini nantinya akan dibawa ke Dampit, Kabupaten Malang
Para kuli sedang mengangkut kopi ke truk. Kopi robusta ini nantinya akan dibawa ke Dampit, Kabupaten Malang | © Nody Arizona​​

Untuk pemasaran kopi arabika dari lereng selatan Pegunungan Argopuro, Haji Rosid dan Pak Fauzi, memiliki jalur yang beragam. Seperti yang kemarin, diantarkan ke Bandung merukapan jenis kopi arabika. Biji kopi arabika kupas kulit dari lereng selatan Pegunungan Argopuro dihargai Rp80 ribu per kilogramnya. Itu sudah termasuk biaya kirim ke Bandung. Biji kopi arabika yang disebut sebagai ‘kopi thailand’ paling banyak didapatkan dari petani kopi di daerah Durjo.

Pasar kopi arabika, lebih terbuka. Dalam arti, mereka bisa menyetorkan kopi itu kepada siapa saja bila menawarkan harga yang lebih baik dari pembeli di Bandung. Bahkan beberapa pembeli, biasanya pemilik kedai kopi, datang langsung ke tempatnya dan membeli kopi arabika.

Sedangkan untuk kopi robusta, dua bersaudara ini mendapatkan kopi dari petani di sekitar Kecamatan Panti. Untuk yang di luar daerah, biasanya diperoleh dari petani kopi di Garahan (perbatasan Jember-Banyuwangi) dan Bondowoso. Namun, untuk kopi robusta itu, mereka tidak punya banyak pilihan untuk mendistribusikan kopi. Kopi-kopi robusta disetorkan ke Dampit, di Kabupaten Malang. Untuk memenuhi kuota kopi yang melimpah di sana.

Ekspedisi Kopi Miko

Nody Arizona

Penikmat kopi, tinggal di Jember.