Petani Kopi Rakyat Desa di Kayu Mas: Petani Arabika yang Tak Manja

Melaju di jalur Pantura, Tim Ekspedisi Kopi Miko melintasi Asembagus yang panas dan berdebu, sekitar 5 kilometer kemudian berbelok ke arah selatan. Tujuan kami adalah Desa Kayu Mas yang berada di ketinggian 760-1.550 mdpl di lereng utara Pegunungan Ijen. Kami terdampar di kediaman Haji Sutrisno (75) sesepuh desa. Ia salah satu petani kopi di sini.

Kediaman Haji Sutrisno berada di ketinggian sekitar 1.000 mdpl dengan dikelingi kebun kopi dan beberapa pohon cengkeh yang luar biasa lebat. Pria yang memiliki 4 putra ini telah menjadi petani kopi sejak berumur 20 tahunan. Mulanya ia membantu orangtuanya yang juga petani kopi rakyat di Kayu Mas. Tak seperti di kebun rakyat di Kabupaten Bondowoso yang baru ramai menanam kopi arabika sejak 2011, masyarakat di Kayu Mas telah menanam kopi arabika berpuluh-puluh tahun sebelumnya.

Pohon Cengkeh tumbuh lebat di depan halaman rumah Hariyono
Pohon Cengkeh tumbuh lebat di depan halaman rumah Hariyono | © Ananda Firman J

Dari perbincangan dengan Hariyono ternyata kopi arabika Kayu Mas sudah memasuki pasar luar negeri sejak 2002, jauh sebelum petani kopi arabika kebun rakyat di lereng Ijen lainya. Kopi Arabika Kayu Mas awalnya hanya dibeli oleh satu perusahan eksportir saja. Kini telah ada beberapa eksportir kopi yang tertarik dengan kualitas Kopi Arabika Kayu Mas.

Haji Sutrisno mulanya memiliki 4 hektar lahan sertifikat hak milik (SHM) yang ditanami kopi. Tetapi, sejak Perhutani memberi kesempatan masyarakat menanam kopi di antara tegakan pohon hutan, kini luas lahan dikelola menjadi 14 hektar. Lahan itu kini dikelola oleh Hariyono (40), putra dari Haji Sutrisno, generasi ketiga yang menjadi petani kopi arabika di Kayu Mas.

Tentu saja izin yang tertuang melalui Kartu Izin Garap (KIG) yang dikeluarkan Perhutani itu bukan gratis. Perhutani merupakan (Badan Usaha Milik Negara) mencantumkan persyaratan berupa kompensasi pembagian 30% dari hasil panen petani yang menanam di hutan lindung.

Adanya kesempatan yang diberikan Perhutani ini disambut antusias oleh masyarakat Kayu Mas dan sekitarnya. Efek adanya lahan sewa di hutan lindung banyak petani baru, hingga PTPN XII Kebun Kayu Mas menjadi kesusahan mendapatkan tenaga kerja harian untuk merawat kopi, dan akhirnya mendatangkan pekerja harian dari luar Kayu Mas.

Bangunan pengolahan kopi terintegrasi dengan gudang
Bangunan pengolahan kopi terintegrasi dengan gudang | © Ananda Firman J
Alat perlindungan diri telah tersedia di Unit Pengolahan Kopi
Alat perlindungan diri telah tersedia di Unit Pengolahan Kopi | © Ananda Firman J

Hariyono, pria yang sempat merantau ke Jakarta hingga 5 tahun ini, kini benar-benar giat mengelola kebun milik keluarganya. Selain mengelola kebun ia juga menerima pembelian kopi Gelondongan yang nantinya diolah di Unit Pengelolaan Hasil (UPH) di rumahnya dan kemudian dijual ke eksportir. Musim panen tahun ini ia telah menjual lebih 100 ton kopi dalam bentuk HS basah dengan harga Rp24 ribu/kg.

Hariyono juga mengolah produk kopinya menjadi kopi bubuk dalam kemasan. Kopi kemasan memang dipasarkan sementara hanya di seputar Kabupaten Situbondo dan Jember. Namun begitu permintaan kopi kemasannya mencapai 60kg/bulan.

Kopi Lanang hasil Kebun Kopi Kayu Mas, Situbondo milik Haji Sutrisno
Kopi Lanang hasil Kebun Kopi Kayu Mas, Situbondo milik Haji Sutrisno | © Ananda Firman J
Haji Sutrisno (memakai peci) dan Hariyono
Haji Sutrisno (memakai peci) dan Hariyono | © Ananda Firman J

Ketika ditanya perihal Kopi Arabika Java Ijen-Raung sebagai Indikasi Geografis (IG). Hariyono yang lahir di desa yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Sempol, Bondowoso, tak begitu memahami. “Kayu Mas bukannya gak ikut mendaftar, mas. Bondowoso yang mendaftarkan,” ujarnya. Ini dapat dikatakan sosialisasi IG belum sampai ke masyarakat petani kopi arabika tertua di lereng Pegunungan Ijen.

Kopi kemasannya memang tak tampak ada label Kopi Arabika Java Ijen-Raung seperti kemasan kopi rakyat di Bondowso. Hanya tulisan ‘Kopi Organik’, itu karena kebun keluarga Haji Sutrisno memang tak pernah menggunakan pupuk kimia untuk perawatan kebun kopinya dan memiliki sertifikasi kopi organik.

Padahal, Kopi Arabika Kayu Mas sama-sama di Pegunungan Ijen. Secara geografis termasuk dalam bagian IG Kopi Arabika Java Ijen-Raung. Namun pembinaan Pemda Situbondo tak seperti yang dilakukan Pemda Bondowoso yang benar-benar memanjakan petani kopi.

Kurangnya perhatian pemerintah membuat koperasi tak lagi aktif. Untuk permodalan petani kopi di Kayu Mas berusaha sendiri-sendiri. Permodalan didapat dari pinjaman bank dengan agunan sertifikat tanah. Dan pelunasan pinjaman dapat dibayarkan bila musim panen usai.

Ekspedisi Kopi Miko

Ananda Firman J

Bersama Rotan menjadi Volunteer Sokola Kaki Gunung di Jember.