Persoalan Kopi Kita

Bahwa kopi arabika itu mahal, hampir semua orang yang suka kopi pasti tahu. Tapi apakah semua petani kopi kita yang menanam kopi arabika menikmati harga tinggi tersebut? Belum tentu. Kenapa?

Menurut pengalaman saya menjelajah ke berbagai tempat penghasil kopi di Indonesia, ada beberapa hal yang membuat petani kopi arabika tidak bisa menikmati hasil yang memadai ketika menanam kopi bercitarasa paling kaya tersebut.

Kopi arabika memerlukan perawatan ekstra dibanding kopi robusta. Tentu karena jenis kopi ini lebih rentan terserang penyakit. Sehingga jika para petani kopi yang menanam kopi arabika tidak menikmati harga yang lebih tinggi maka mereka cenderung malas merawat kopi arabika. Kalau harga sama kenapa harus lebih mengeluarkan tenaga? Begitu kira-kira pikiran mereka. Sungguh pemikiran yang wajar.

Kopi Kerinci
Para aktivis petani di Kerinci yang belajar dari dasar mulai mengenal ciri arabika, melakukan petik merah dan menjemur dengan model natural-kering. © Puthut EA

Ada beberapa kasus yang saya dapatkan kenapa di lahan pertanian mereka ada kopi arabika lalu tidak “dipelihara”. Pertama, petani asal menanam bibit saja. Sehingga dalam hamparan tanaman kopi muncul beberapa kopi arabika. Harus diakui banyak petani kopi yang tidak bisa membedakan tanaman kopi arabika dan robusta.

Kedua, mereka sengaja menanam kopi arabika dengan informasi awal bahwa harga kopi ini cukup tinggi. Namun setelah ditanam dan mulai berbuah, ternyata dihargai sama oleh tengkulak. Jika hal ini yang terjadi, maka petani cenderung untuk membiarkan tanaman arabika lalu merawat alakadarnya. Atau kemudian mereka mengganti dengan tanaman robusta.

Lalu kenapa mereka menanam arabika dalam jumlah besar? Kasus yang saya temukan di lapangan macam-macam. Ada yang karena program pemerintah daerah, tapi terlihat tidak dipersiapkan betul sampai pascapanen. Ada juga program dari LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat). Sama juga. Tidak dipersiapkan dengan baik. Hanya tanam dan tanam. Sekadar program belaka.

Jadi untuk kasus nomor dua, kadang yang salah bukan tengkulak. Misalnya di daerah tersebut mereka hanya butuh kopi robusta, ketika ada petani yang menjual arabika tentu mereka tidak mau. Mau dijual ke mana? Banyak tengkulak kopi yang tidak terhubung dalam sistem perdagangan arabika.

Ada juga tengkulak yang nakal. Mereka tahu kopi arabika, tahu bahwa harganya mahal, terhubung dalam sistem perdagangan arabika walaupun tidak permanen. Ketika petani arabika menjual hasilnya, mereka tahu kalau petani tidak akan tahan menyimpan lama dan tidak punya akses menjual ke tempat lain. Maka sekalipun dibeli dengan harga murah, petani pada akhirnya pasrah.

Karut-marut semakin tak karuan kalau kemudian kita lacak ke sistem budidaya. Banyak penyakit kopi yang tidak tertangani. Belum lagi pengetahuan pascapanen yang memprihatinkan. Kopi arabika, kita tahu, adalah jenis komoditas yang pascapanennya harus saksama sebab jika tidak akan menimbulkan kecacatan besar yang berpengaruh pada harga. Cara petik yang keliru dengan dirontokkan, tidak petik merah, bersama gagangnya, dan lain-lain. Belum lagi cara menjemurnya yang juga tidak sesuai standar: menyentuh tanah, misalnya. Sampai saat kupas kulit bahkan pemeraman dan penyimpanan yang dilakukan dengan tidak memperhatikan standar yang dibutuhkan oleh sistem perdagangan arabika.

Bagi beberapa pencinta kopi arabika Indonesia, problem di atas bukan hanya getir tapi sekaligus harus diatasi. Maka banyak penggila kopi yang terjun ke lapangan, mengajak para petani belajar bersama terutama pengolahan pascapanen sampai menghubungkannya dengan perdagangan kopi yang lebih sehat.

Jika Anda mengaku mencintai kopi, laku sosial di atas, akan membuat Anda semakin nikmat saat menyeruput kopi. Percayalah!

Puthut EA

Anak kesayangan Tuhan.

  • Lany Wijaya

    oleh karena itu para petani harus di bekali pengetahuan tentang membedakan mana kopi arabica dan mana yang robusta. para tengkulak juga harusnya bisa berbuat adil, sudah tau arabica harga lebih mahal tapi masih di hargai sama dengan robusta, sama saja mereka kembali ke jaman penjajahan yang harus di wajibkan menanam kopi tanpa bisa menikmati hasil yang lebih…
    http://www.mrocoffee.com