Permenungan Secangkir Kopi Joss

Sajian kopi Joss di Mangunsari
Sajian kopi Joss di Mangunsari | © Fiskal Purbawan

Sebagaimana jenis waktu dalam konsep pemikiran Martin Heidegger, kopi juga memiliki dua jenis: sebagai minuman yang diracik dari biji kopi, dan kedua, sebagai perantara kontemplasi. Seseorang bisa menikmati kopi yang sama, di kedai yang sama, pada waktu yang sama, tetapi pengalaman kontemplasi di dalamnya bisa sangat berbeda. Senada dengan konsep waktu dalam Being and Time-nya Heidegger yang membagi dua jenis waktu: innerzeitigkeit (waktu objektif) dan zeitlichkeit (waktu subjektif). Seseorang berada dalam satuan waktu yang sama: detik, menit, jam, dan hari. Namun subjektivitas dalam mewaktu di dalam satuan waktu bisa berbeda-beda, tergantung pada kontemplasi orang per orang.

Tak ada yang berbeda antara kopi joss “Angkringan Lek Man” di stasiun Tugu, Yogyakarta dengan kopi di kedai kopi “Joss n Milk Mangunsari”, Kecamatan Gunungpati, Semarang. Tak pula berbeda sajian kopi yang saya teguk dengan pengunjung lain di depan saya. Kopi hitam ditubruk dengan air panas, lantas disajikan bersama arang menyala. Arang menyala itu dimasukkan ke dalam kopi yang segera akan menimbulkan suara percikan, lantas kopi ditutup dengan lepek selama dua menit. Angkat arangnya, dan kopi joss siap dinikmati. Tak ada yang beda bukan? Ya, sebab kopi “Joss n Milk” di Mangunsari juga terinspirasi dari kepopuleran kopi joss “Angkringan Lek Man” di Yogyakarta.

Apa yang menjadi pembeda kemudian adalah sajiannya. Tata bangunan, desain ruang kedai, ornamen, dan hiasan yang ditampilkan kedai ini bernuansa pedesaan. Perlu diketahui, semenjak Kelurahan Sekaran tumbuh menjadi pusat kota karena berdirinya Universitas Negeri Semarang (Unnes), ruang-ruang bernuansa pedesaan yang kerap dipakai kedai-kedai di seputaran situ lebih sering sekadar tempelan saja. Mata saya belum cukup rabun untuk melihat bahwa kedai-kedai di seputar Unnes dihimpit kos-kosan padat. Telinga saya belum cukup buruk untuk mendengar klakson saling serang dan deru mesin kendaraan. Hal ini berbeda dengan Kelurahan Mangunsari yang masih asri, sekitaran tujuh kilometer dari pusat Sekaran. Karena itu, kedai kopi “Joss n Milk”, sekalipun memakai konsep pedesaan dan alam, tak sekadar tempelan.

Di sana, alunan musik kalah nyaring dengan suara katak dan jangkrik. Di tengah kedai, air kolam sesekali berkecipuk oleh gerakan ikan. Deru kendaraan dan bebunyian klakson yang memekakkan telinga di Sekaran, sejenak teralihkan oleh nyanyi katak dan jangkrik itu. Lampu-lampu temaram, meja kayu yang dibiarkan memanjang tanpa didesain simetris, membawa pengalaman unik menikmati kopi joss ini.

Pengunjung mencelupkan arang ke kopi
Pengunjung mencelupkan arang ke kopi | © Fiskal Purbawan

Barangkali, kegirangan saya sudah seperti Marno dalam cerpen Seribu Kunang-kunang di Manhattan karya Umar Kayam. Narasi kegamangan seperti Marno, seorang laki-laki bernama khas Indonesia yang sedang berada di sebuah apartemen pencakar langit di Manhattan bersama Jane, kekasih gelapnya. Matanya melayangkan pandangan menembus kaca jendela. Di luar sana, dia melihat gemerlap lampu yang mengingatkannya pada kunang-kunang di kampungnya. Di tengah gemerlap kota modern, entah mengapa Marno justru rindu suara jangkrik dan kodok. Ah, begitu pula saya yang mulai gamang oleh sengkarut pertumbuhan kota,dan mengunjungi kopi “Joss n Milk Mangunsari” ini, adalah semacam terapi untuk sejenak kabur dari tekanan kota. Kembali bernostalgia dengan suasana kampung halaman.

Berseberangan dengan kedai ini, tembok setinggi satu meter membatasi pandangan pada kuburan. Kopi disesap berjarak lima–enam meter dari kuburan, perbatasan dunia ini dengan dunia antah berantah bernama akhirat. Pada tahun 1954, Sitor Situmorang menulis puisi sangat pendek berjudul Malam Lebaran. Penyair Batak tersebut hanya menulis: bulan di atas kuburan. Sitor menyejajarkan kuburan dengan bulan. Bila di sekolah kita diajarkan bahwa bulan memantulkan cahaya dari matahari ke bumi, kuburan memantulkan makna dari kematian kepada yang hidup.

Sayangnya, malam itu sehabis hujan. Bulan enggan muncul memantulkan cahaya matahari. Kuburan tetap diam, orang-orang yang berkunjung ke kedai barangkali tak sadar, kopi disesap hanya berjarak beberapa langkah dari muara kehidupan. Kita seringkali mendapat petuah; urip mung mampir ngombe–hidup hanya mampir minum. Hidup sejatinya hanya mampir minum, untuk kemudian bersua kematian. Apa yang kita minum akan menjadi apa yang kita bawa nanti. Apa yang kita lakukan selama di dunia ini, akan menjadi pertanggung jawaban di akhirat nanti. Kopi mengingatkan kematian!

Berbekal Rp8000,00 per cangkir, kopi joss membawa permenungan yang barangkali sulit didapatkan di tempat lain, sekalipun sajian kopi joss mudah ditemukan di tempat lain. Kopi tak terasa membawa saya bersua rumah di desa, juga rumah setamat kehidupan. Barangkali, kopi memang tak melalu soal rasa, namun juga permenungan yang membuatnya tak tergantikan. Ah, tiba-tiba saya ingin menggubah puisi. “Malam seusai hujan/ kopi terbakar di seberang kuburan.”

Fiskal Purbawan

Mahasiswa Ilmu Komputer Universitas Negeri Semarang (Unnes)