Perkara Rindu dan Sagu bagi Masyarakat Papua

Forno yang dipanaskan di atas tungku
Lihat Galeri
7 Foto
Bibi Tini sedang menyiapkan sagu untuk diayak
Perkara Rindu dan Sagu bagi Masyarakat Papua
Bibi Tini sedang menyiapkan sagu untuk diayak.

© Annisa Sofia Wardah

Sagu diayak oleh Bibi Tini
Perkara Rindu dan Sagu bagi Masyarakat Papua
Sagu diayak oleh Bibi Tini

© Annisa Sofia Wardah

Forno yang dipanaskan di atas tungku
Perkara Rindu dan Sagu bagi Masyarakat Papua
Forno yang dipanaskan di atas tungku.

© Annisa Sofia Wardah

Forno didinginkan
Perkara Rindu dan Sagu bagi Masyarakat Papua
Forno didinginkan

© Annisa Sofia Wardah

Bibi Tini memasukkan butiran sagu ke dalam forno
Perkara Rindu dan Sagu bagi Masyarakat Papua
Bibi Tini memasukkan butiran sagu ke dalam forno.

© Annisa Sofia Wardah

Setelah masak dan diasap, sagu dibersihkan dengan cara digosok-gosok menggunakan kulit pari
Perkara Rindu dan Sagu bagi Masyarakat Papua
Setelah masak dan diasap, sagu dibersihkan dengan cara digosok-gosok menggunakan kulit pari.

© Annisa Sofia Wardah

Sagu yang siap disantap dengan kopi
Perkara Rindu dan Sagu bagi Masyarakat Papua
Sagu yang siap disantap dengan kopi.

© Erlyana

Adoooh, Mama lihat sa pu hati su tatinggal di gunung-gunung, di lembah-lembah, di Papua…
Adooh, Mama Lihat sa pu hati su tenggelam di dasar pasir, di laut biru, di Papua ….

Pace Nogei dengan lagu indahnya, “Tatinggal di Papua” selalu setia menjadi teman kala duduk ditemani buku sambil menyeruput kopi hitam. Memandang mesra wajah-wajah lugu, manis, hitam, kriting dari layar laptop. Akhirnya, untuk ke sekian kalinya, kedua kelopak mata tidak bisa berbohong, tidak bisa diajak kerjasama untuk menahan tetesan air bening. Sambil menatap wajah mereka, hatiku berteriak “Ibu rindu, Nak”

Sudah hitungan bulan, aku jauh dari sekumpulan anak-anak penggila buku dan kopi itu. Jika menyeduh kopi, ada wajah-wajah mereka yang bermunculan di cangkir kopi yang aku seduh. Bukan karena kopi yang hitam yang menyerupai kulit murid-murid aku yang legam itu, bukan! Ada hal menggelitik tentang kopi dan anak-anakku. Satu bungkus kecil Kopi Senang (kopi khas Papua), dituang ke dalam teko plastik berukuran besar, diaduk bersamaan dengan gula yang sudah diisi sebelumnya. Suasana itu, juga aroma Kopi Senang yang sudah tercium akan membuat mata anak-anak keriting itu berbinar.

“Heh, ko kenapa kopi senang yang kecil itu satu, memang terasa kah?” tanyaku ragu, normalnya satu bungkus kecil diseduh untuk 2-3 gelas dan mereka membuatnya ke dalam satu teko plastik besar.

“Tenang Ibu Guru, ini pu rasa enak apaaa. Jadi, kitorang bisa minum sama-sama mo” Ilham sang komandan bocah kriting menjawab dengan penuh semangat, “Tenang bu, ini rasanya enak banget! Jadi, kita bisa minum bersama yang lain”.Aku hanya menimpali dengan senyum.

Kopi Senang paling enak dinikmati dengan sagu. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, belasan tahun lalu, Ibu Guruku sering bicara tentang makanan pokok. Dan Papua memiliki makanan pokok berupa sagu dan umbi-umbian. Lantas, bagaimanakah sagu Papua? Apakah sama dengan sagu-sagu di Pulau Jawa?

Sagu Papua yang memiliki bau tajam, berbentuk stick yang seukuran jengkal tangan, rupanya kini menjadi makanan yang kalah pamor dengan nasi. Sebelum ke kampung Beo, distrik Tiplol Mayalibit, Kabupaten Raja Ampat, aku dan teman di situ sudah menyiapkan persedian beras, mie, dan terigu. Khawatir di kampung nanti lidah belum terbiasa dengan makanan pokok mereka, sagu.

“Sa deng keluarga toh Kakak Guru, di sini semua toh makan nasi. Dorang pemerintah ada kasih kitorang. Kalau trada nasi, baru tong cari sagu”. Kedua mata saya mengerjap-ngerjap. Sejak SD guruku sering bilang, sagu adalah makanan pokok bagi masyarakat Papua. Itu dulu. Kini, Pemerintah daerah setiap tiga bulan sekali memberikan subsidi beras untuk warga Papua. “Kalau trada nasi, baru tong cari sagu (kalau tidak ada nasi, baru kita cari sagu),”ucap Mama yang memanggiliku Kakak Guru. Kini, di kampungku, Beo, Sagu sudah bukan lagi makanan pokok.

Pekan depan anak-anak yang berseragam merah putih akan berjuang dengan UTS (Ujian Tengah Semester). Anak-anakku yang di pedalaman sana dengan pakaian seadaanya apa kabarnya ya? Di Raja Ampat, jika liburan panjang datang seusai pelaksanaan ujian sekolah, dan bosan dengan rutinitas memancing dan berenang, aku dan teman seperjuangan mencoba membantu Mace Tini mengolah sagu.

Sabtu, 16 April 2015. Mace Tini yang sering dipanggil Bibi Tini, tengah sibuk di dapurnya yang mengepul.

“Sini Ibu Guru! Tarapapa, masuk sudah. Jangan malu hati mo,” Bibi Tini mengajak ramah sambil kuat menggoyangkan ayakan.

Naluriku yang dulu pernah menjadi freelance wartawan di salah satu media lokal, keluar tanpa direncanakan. Pertanyaan 5W+1H lontarkan padanya. Rumit memang, sama rumitnya kesimpulanku setelah menyimak Bibi Tini menjelaskan bagaimana membuat sagu yang baik dan benar.

Langkah pertama untuk mendapatkan sagu yaitu dengan “Tokong Sagu,” suatu kegiatan memperoleh sagu, dengan menebang pohon sagu lalu dikelupas kulitnya, dan diambil isinya. Satu pohon sagu bisa dikerjakan 4-6 orang. Tokong Sagu, sudah dilupakan oleh warga di kampungku. Untuk memperoleh bahan mentah sagu, Bibi Tini harus ke kampung sebelah, Kabilol, 30 menit perjalanan. Butuh perjuangan memang untuk mendapatkan bahan mentah sagu.

“Dulu toh, trausah beli, tinggal tokong sendiri mo,” ada raut kecewa tergambar di wajahnya. Dulu, Beo hanya memiliki satu kampong. Namun sejak 2006 ada pemekaran, sehingga ada sebutan kampung lama dan kampung baru. Sebelum kampung baru ada, di sana terdapat puluhan pohon sagu dan tempat khusus untuk menokong sagu. Namun kini, hanya rumah-rumah kayu memenuhi tanah luas dekat bukit.

Selanjutnya, setelah mendapat bahan mentah sagu dari tokong sagu—yang satu karung sagu dihargai Rp. 100.000—sagu dicuci berkali-kali dengan air tawar. Syukur jika musim penghujan, jika kemarau? Sungguh sangat merepotkan, karena harus mendayung perahu untuk mendapatkan beberapa ember air tawar. Pencucian bahan sagu mentah ini dilakukan berkali-kali, hingga sagu berwarna putih.

Sagu yang sudah berwarna putih, harus dijemur untuk memudahkan tahap selanjutnya yaitu disaring. Penyaringan sagu memerlukan keahlian khusus, 3-4 penyaringan patokannya. Pasalnya, meski sudah 4 kali disaring, sagu belum tentu sempurna. Bibi Tini bilang harus benar-benar halus, tidak boleh basah dan kering. Oalah, di sini saya dibuat bingung. “Tidak boleh basah dan kering?”

Setelah diayak berkali-kali, dan sampai halus menurut Bibi Tini, maka sagu baru siap untuk dimasak. Bukan dengan oven, melainkan dengan tanah liat yang dicetak berbentuk kubus yang di dalamnya terdapat ruang-ruang tempat sagu dimasak. Alat ini disebut dengan Forno. Memasak sagu tidak boleh langsung di atas tungku. Namun terlebih dulu Forno dipanaskan di atas tungku, hingga berwarana merah menyala akibat panas yang dihasilkan oleh api kayu bakar. Berbekal lap, Bibi Tini mengangkat Forno. Melihatnya membuatku mengigit bibir. Bagaimana jika Forno yang beratnya 2-3 kilo itu jatuh lalu mengenai kaki?

Forno yang sudah diangkat, kemudian ditunggu agar tidak terlalu panas. Lalu butiran-butiran halus sagu dimasukkan ke dalam ruang-ruang kosong. Alat untuk memasukkan butiran halus sagu terbuat dari benda yang ditemukan alam Kampung Beo, yakni berupa daun sagu dan bilah bambu yang sudah dibersihkan sebelumnya. Ketika ruang-ruang Forno sudah terisi oleh butiran halus sagu, maka Forno yang terbuka ditutup oleh seng yang ditimpahi batu.

Lagi-lagi, butuh insting yang kuat untuk mengatahui apakah butiran halus ini mencair lalu membentuk sesuai cetakan dan mengeras. Pengalaman Bibi Tini yang telah bertahun-tahun mengolah sagu, membuatku terpukau. Tanpa ragu, Bibi Tini membuka tutup seng itu, lalu diambilnya menggunakan capitan yang terbuat dari pilah bambu.

Ketika diangkat, sagu sudah tidak berbentuk butiran halus, melainkan berupa persegi padat dengan pinggiran yang berwarna hitam. Hingga itu, sagu masih belum bisa dinikmati, harus ditaruh di atas perapian lebih dulu. Bukan untuk dibakar, namun agar mendapat asap dari api di tungku.

Setelah sagu semakin menghitam karena pengasapan, sagu kemudian diangkat dan dibersihkan agar bersih dari bekas pengasapan dan dioven tadi. Pembersihan noda hitam pun tidak memakai alat sembarangan, bukan sikat atau pisau, melainkan dibersihkan menggunakan kulit ikan pari. Itu pun tidak semua jenis ikan pari dapat digunakan. Harus melalui serangkaian proses lebih dulu. Kulit ikan Pari yang sudah didapatkan, dijemur lalu dibalutkan mengeliingi tongkat kecil. Permukaan ikan kulit ikan pari yang bergerigi, memudahkan untuk membersihkan noda hitam.

Sudah siap disantap? Belum! Sagu yang sudah dibersihkan, harus didiamkan semalaman smapai esoknya dapat dipotong sesuai selera. Sudah bisa dinikmati? Masih belum bisa. Setelah dipotong sesuai ukuran yang diinginkan, sagu-sagu dijejerkan dijemur di bawah panas terik matahari selama berhari-hari, paling cepat tiga hari. Rumit bukan? Butuh kesabaran tinggi untuk mendapatkan sagu terbaik, prosesnya begitu sangat lama. Harus bersabar untuk bisa menikmati sagu bersama teh, kopi atau kamu, eh.

Ceritanya ku sungai yang deras, ceritanya ku pu hutan yang luas, tempat matahari selalu menyanyi.

Yang membuatku lebih rindu pada secangkir kopi dan sebatang sagu, adalah keseruan menghidangkan kopi bersama anak-anak kriting, lalu menyeruputnya secara berjamaah. Setiap teguknya, hatiku berlirih, agar mereka menjadi penerus Bibi Tini selanjutnya. Bukan hanya ahli membuat sagu, namun juga mencintai budaya dan tanah leluhur mereka.

Annisa Sofia Wardah

Wanita biasa yang mencintai sastra, anak-anak dan perjalanan.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405