Perjalanan Ngopi di Kedai Cokelat Klasik

Ruang Depan Kedai
Lihat Galeri
8 Foto
Kedai Cokelat Klasik Malang
Perjalanan Ngopi di Kedai Cokelat Klasik
Kedai Cokelat Klasik Malang

© Muhammad Azamuddin Tiffany

Ruang Depan Kedai
Perjalanan Ngopi di Kedai Cokelat Klasik
Ruang Depan Kedai

© Muhammad Azamuddin Tiffany

Tempat Ngopi Teras Bawah
Perjalanan Ngopi di Kedai Cokelat Klasik
Tempat Ngopi Teras Bawah

© Muhammad Azamuddin Tiffany

Diskusi dan Ngopi
Perjalanan Ngopi di Kedai Cokelat Klasik
Diskusi dan Ngopi

© Muhammad Azamuddin Tiffany

Berdiskusi di bawah cahaya
Perjalanan Ngopi di Kedai Cokelat Klasik
Berdiskusi di bawah cahaya

© Muhammad Azamuddin Tiffany

Daftar Menu Kedai Cokelat Klasik
Perjalanan Ngopi di Kedai Cokelat Klasik
Daftar Menu Kedai Cokelat Klasik

© Muhammad Azamuddin Tiffany

Daftar Menu Kedai Cokelat Klasik
Perjalanan Ngopi di Kedai Cokelat Klasik
Daftar Menu Kedai Cokelat Klasik

© Muhammad Azamuddin Tiffany

Daftar Menu Kedai Cokelat Klasik
Perjalanan Ngopi di Kedai Cokelat Klasik
Daftar Menu Kedai Cokelat Klasik

© Muhammad Azamuddin Tiffany

Siang itu, saya menerima pesan pendek dari Indah, kawan lama saya. Dia mengajak mencari tempat untuk menghabiskan akhir pekan: Alun-Alun Batu, salah satu tempat yang bisa dibilang cukup romantis, ramai dan dingin. Pasangan muda-mudi biasanya banyak yang menghabiskan waktu berdua di sini, terutama di sore hari.

Tapi tujuan utama kami bukan alun-alun Batu. Tepat di depannya ada kedai kopi yang cukup terkenal, yakni Kopi Letek. Kopi Letek, tempat ngopi yang mungil mempunyai lebar ruang muka 2 meter namun menjulang empat lantai. Tempat nongkrong ini bisa dibilang lain, karena ruangannya yang sengaja tidak dibuat lebar dan rooftop sebagai tempat unik karena bisa melihat pemandangan alun-alun Batu dari atas.

Kami rombongan mengajak enam kawan lain, dengan mengendarai satu mobil Avanza. Sayangnya ketika sampai di sana, kami sedikit datang lebih lambat dari satu rombongan yang sudah datang dan mengantri di depan kasir Kopi Letek ini, setelah bernegosiasi dan nampaknya kami harus menunggunya jika memang ingin ngopi di tempat ini, kami memutuskan untuk mencari tempat lain, masih di sekitar alun-alun.

Keberuntungan mungkin belum berpihak kepada kami, Kedai ketan yang terletak di barat Alun-Alun pun sudah tutup.

“Cari tempat dimana lagi kita?” Tanya Indah kepada yang lain.

“Turun saja wes, Cokelat Klasik, Cokelat Klasik.” Jawab saya.

“Tapi kita keliling alun-alun dahulu satu kali, terus kita turun.” Saran Indah kepada kami.

“Ayo wes!” Kami kompak menjawab.

Satu kali berkeliling alun-alun Batu sore hari, nampak ramai, apalagi jika hari-hari ramadan, tidak hanya pasangan muda-mudi, orang tua dan anak-anak pun ikut menghabiskan waktu menjelang berbuka atau istilahnya ngabuburit di sini. Banyak orang jualan mulai dari gorengan kopi, bakso, jagung bakar, jagung rebus dan lain sebagainya.

Hanya sekali saja kami berkeliling, kemudian kami memutuskan untuk langsung kembali turun ke Malang, menuju kedai Cokelat Klasik. Di dalam mobil kami bercerita panjang dan masih berdiskusi panjang perihal tempat mana yang akan kami singgahi.

TJ, TJ.” Slamet teman yang seringkali garing ketika berkomedi ini memberi saran.

Wani thok.” Saya mencoba setuju.

Wetengku gak penak e tapi, piye lek nggolek mangan sek.” Slamet saran untuk kedua kali.

Wani thok.” Kawan lain menimpali.

“Cari tempat makan aja lho, tapi dimana ya?” Indah bertanya.

TJ, TJ, sekalian ngopi.” Sekali lagi Slamet memberi saran.

Soto Babat Joyogran ae lho.” Ucap Idzul, yang sembari tadi duduk di depan.

Wani thok.” Saya menjawab sambil terkekeh.

Buk Seh ae, Buk Seh.” Nanda yang menjadi sopir ikut bicara.

Wani!” Sekali lagi saya menimpali.

Iyo wes setuju. Ndang Budal.” Slamet nampaknya sudah tidak tahan, dengan perutnya yang lapar.

Kami akhirnya memutuskan untuk mampir dahulu ke warung Soto Daging Babat Joyogran, tepatnya di pertigaan Jalan Joyosari, Malang. Soto daging babat ini cukup terkenal di kalangan masyarakat Joyogran sendiri. Maklum karena memang warungnya ada dan satu-satunya warung soto yang buka sore hingga malam, tergantung porsi soto yang tersedia.

Dengan harga Rp. 9000,- kami sudah mendapatkan soto potongan daging yang terlihat penuh di atasnya. Slamet terlihat orang yang paling lapar, dan menghabiskan semangkuk soto dengan singkat, ditambah beberapa kerupuk yang tak terhitung jumlah yang sudah diembatnya.

Setelah makan, kami menuju kedai cokelat klasik yang tak jauh dari tempat warung soto Babat.
Kami datang sekitar pukul 20.00 WIB, parkiran sudah tampak ramai dengan puluhan motor yang terjejer rapih dan beberapa mobil. Dan sekali lagi, tempat sudah penuh oleh beberapa pasangan muda-mudi dan beberapa orang yang duduk kelompok sembari menikmati minuman cokelat dingin atau panas yang menjadi minuman andalan. Kami beruntung, setelah lima menit sabar dan menunggu, satu rombongan pulang, kami mendapat tempat.

Kedai ini buka mulai pukul 08.00-22.00 WIB. Buat yang tinggal di sekitar Malang, kedai Cokelat Klasik ini terletak di antara perumahan Joyogran dan Villa Bukit Tidar. Tempat ini di konsep natural etnik dengan interior yang sebagaian besar tebuat dari kayu, mulai dari kursi hingga lukisan dinding.

Kedai ini menyuguhkan berbagai menu andalan original recipes seperti aneka minuman soda, susu, kopi, dan cokelat. Selain menyediakan menu andalan original choco, kedai ini juga menyediakan varian rasa coklat seperti choconut, chocomilk, choco cincau, dan choco yang lain. Rp. 10000,- pasti sudah bisa nikmatin cita rasa coklat original yang disuguhkan di menu kedai cokelat klasik ini.

Beberapa macam ruang tersedia, mulai yang tempat duduk khusus untuk pasangan dua orang hingga bisa digunakan sebagai tempat diskusi. Terutama di area bawah, merupakan tempat favorit, karena menyajikan pemandangan kota Malang yang terlihat dari atas.

Oh iya, kuliner di sini juga tidak kalah spesial dengan harga yang sepertinya dipukul rata, Rp. 15.000,- untuk seporsi nasi saus ayam atau saus padang, kemudian dengan harga Rp. 10.000,- hingga Rp. 20.000,- untuk pancake dan beberapa jenis cemilan yang lain.

Setelah memesan dan beberapa minuman datang. Sebagian dari kami mulai menyulut rokok dan bercerita tentang perjalanan hari ini. Beberapa kami sadar, rencana untuk ngopi di Kopi Letek di Batu, kemudian Kedai Ketan belum buka, akhirnya, ujung-ujungnya, kami ngopi di dekat-dekat sini, tidak jauh dari tempat tinggal kami.

Muhammad Azamuddin Tiffany

Kalau nggak ngopi, ya ngaji.