Perempuan Penyortir Biji Kopi

Sortasi dilakukan atas biji kopi yang rusak. Warnanya hitam, pecah, ukurannya terlalu kecil, dan masih terdapat sisa kulit ari
Sortasi dilakukan atas biji kopi yang rusak. Warnanya hitam, pecah, ukurannya terlalu kecil, dan masih terdapat sisa kulit ari | © Fawaz

Tri Wahyuni (44 tahun) menyambut Tim Ekspedisi Kopi Miko di halaman rumahnya. Rumah sederhana dengan kehangatan penghuninya ini menjadi tempat menginap kami di Bondowoso.

Sebelumnya, kami bertemu suaminya, Pak Maman. Dia pula yang memberikan tawaran tumpangan menginap kepada kami. Lumayan, bisa mengganti rasa kesal setelah kami gagal mendapatkan jatah kamar di penginapan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XII.

Empat cangkir kopi dihidangkan. Ditemani Rosep (17 tahun), anak bungsunya, kami berbincang hingga larut tentang berbagai hal. Termasuk aktivitas sehari-hari Tri Wahyuni sebagai buruh tani di lahan milik tetangga. Ia merawat kebun tomat dan cabai, memetiknya saat musim panen. Tahun lalu, suami yang biasanya bekerja sebagai tukang mulai menanam kopi. Karena itu, ia terkadang ikut suami pergi ke kebun kopi.

Bila musim panen kopi tiba, ia meninggalkan pekerjaan sebagai buruh tani dan bekerja di gudang pengolahan kopi sebagai penyortir biji kopi. Bersama beberapa pekerja perempuan lain, ia bekerja mulai pukul 06.00 WIB hingga 15.00 WIB. Ia akan memilah biji kopi yang rusak setelah melalui proses pengolahan, baik itu biji kopi yang diolah basah ataupun biji kopi yang diolah kering. Untuk biji kopi olah basah, ia mendapat upah menyortir sebesar Rp50 ribu per kwintal. Sedangkan untuk biji kopi olah kering, per kwintalnya ia mendapat bayaran Rp100 ribu. Selain mekanisme bayar borongan per kwintal, ada pula sistem bayaran per hari. Rata-rata upah harian menyortir biji kopi berkisar antara Rp30 ribu-Rp35 ribu.

Untuk biji kopi basah, dalam sehari maksimal ia bisa menyortir 2 kwintal. Sedangkan untuk biji kopi kering, paling banyak 1 kwintal. Di luar istirahat untuk makan siang, salat dan ke kamar mandi, sepanjang proses penyortiran Tri Wahyuni dan rekan-rekannya duduk sepanjang hari, fokus memilah biji-biji kopi yang rusak. Biji kopi yang rusak bisa karena warnanya yang hitam, pecah, ukurannya terlalu kecil, dan masih terdapat sisa kulit ari.

Menurut Tri Wahyuni, banyak perempuan yang ikut bekerja dalam proses produksi kopi, mulai dari merawat kebun, memanen buah kopi, dan yang paling banyak pada proses penyortiran biji kopi. Saat musim panen seperti sekarang ini, banyak perempuan yang dipekerjakan oleh PTPN XII untuk memanen biji kopi. Pukul 06.00 WIB truk-truk sudah menunggu untuk mengantar mereka ke perkebunan. Pukul 15.00 WIB mereka diantar pulang oleh truk yang sama.

Tri Wahyuni pernah ikut bekerja memanen kopi di PTPN XII, musim panen setelahnya ia tak pernah berangkat, “Terlalu jauh, Mas. Saya nggak tahan, terlalu dingin di atas sana.” Terang Tri Wahyuni.

Ibu Surti dan anaknya, Ibu Fiki sedang menyortir kopi
Ibu Surti dan anaknya, Ibu Fiki sedang menyortir kopi | © Fawaz

Saat kami berkunjung ke pabrik pengolahan biji kopi milik Yusriadi, kami bertemu dengan Ibu Surti (46 tahun) dan anaknya, Ibu Fiki (28 tahun). Mereka berdua sedang mengerjakan penyortiran biji kopi kering yang akan segera dikirim ke pembeli di Jakarta. Mereka bekerja sama menyortir 2,5 kwintal biji kopi kering, upahnya mereka bagi rata.

Karena hampir sepanjang hari duduk, saya bertanya, “Pinggangnya nggak sakit, Bu? Pegal atau nyeri misalnya?”

“Ya sakit, Mas. Pegal-pegal kalau selesai kerja,” jawab Bu Surti.

“Terus pengobatannya gimana, Bu?”

“Dipijat, Mas. Saya pijat anak saya habis itu gantian, anak saya yang pijat saya,” katanya, sambil bercanda.

Perempuan-perempuan di Kecamatan Sumberwringin dan Kecamatan Sukosari, memiliki peran penting dalam menjaga mutu dan kualitas kopi arabika Java Ijen-Raung yang menjadi primadona kopi dari Bondowoso. Mereka terlibat dari perawatan pohon kopi, terutama ketika petik kopi hingga proses pengolahan pascapanen. Di sisi lain, dengan keterlibatan perempuan dalam budidaya dan pengolahan kopi, itu artinya menambah keuangan keluarga.

Ekspedisi Kopi Miko

Fawaz

Volunteer Sokola Rimba

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com