Perdamaian dalam Cangkir Kopi

Perdamaian dalam Cangkir Kopi
Kopi sebagai medium untuk menjalin persaudaraan sekaligus mengakhiri perselisihan. © Nody Arizona

Seorang kawan—dia seorang Batak—pernah bercerita tentang adat istiadat di tempatnya. Menurutnya, jika ada dua orang lelaki yang sedang bertengkar dan kau ingin mengidentifikasi apakah keduanya masih melanjutkan perselisihan atau sudah berdamai, coba tanya: apakah dua orang tersebut sudah berada di satu meja sembari minum tuak.

Kalau jawabannya adalah iya, dapat dipastikan bahwa pertikaian telah usai dan mereka bersepakat melupakan permasalahan. Yang barangkali perlu kau tahu, kata kawan tadi, ucapan maaf tidak begitu diperlukan. Mereka lebih butuh bukti berupa perbuatan, yaitu dengan cara minum tuak bersama. Barangkali kawan tadi menggeneralisasi sebuah keadaan yang tidak semua Batak mengalaminya. Mungkin juga ceritanya bias gender. Tetapi, peristiwa berdamai tanpa sebuah kata maaf sungguh menarik.

* * *

Keluarga saya, lebih tepatnya saya dengan kakak dan adik yang kebetulan semuanya lelaki, secara tidak sadar menanamkan kebiasaan seperti di atas. Bedanya, kami tidak menggunakan tuak atau minuman beralkohol lainnya. Adalah kopi yang menjadi media perdamaian di antara kami ketika sedang bertikai.

Saya pernah bertengkar hebat dengan adik. Saat itu adik sudah kuliah dan indekos. Sedang saya magang, kalau bukan dianggap sudah bekerja. Saya rutin berkunjung ke indekosnya dan menginap berhari-hari. Akibat pertengkaran itu, adik saya marah bukan kepalang kepada saya. Saya pun tidak kalah berang kepadanya.

Ayah dan Ibu yang mengetahuinya hanya bisa angkat tangan. Mereka berdua memang memberi ultimatum, tetapi tak ada dari kami yang mematuhi. Maklum, kami sama-sama terlanjur besar dan terlalu susah untuk menerima nasehat.

Tetapi, tak lama, saya merasa lelah. Buat apa memperpanjang perselisihan, apalagi dengan saudara sendiri. Suatu pagi saya menuju ke indekosnya. Mengetahui dia masih terlelap, saya menjerang air lalu membuat dua cangkir kopi. Satu untuk adik. Satu untuk saya sendiri. Beberapa saat kemudian adik bangun dan mendapati saya sedang duduk membaca komik, menunggunya untuk ngopi bersama. Selanjutnya, kami kembali saling bercanda dan berbicara seperti tak pernah bertengkar.

Pertikaian yang lebih besar pernah terjadi antara saya dengan kakak, hingga perang dingin berlangsung bertahun-tahun. Saya sudah lupa bagaimana mulanya. Pokoknya saya enggan menyapa kakak. Jika saya tidak salah ingat, saat itu saya sudah duduk di bangku SMA. Usia di mana saya sudah terlalu “tua” untuk menganggap pertengkaran sebagai angin lalu, tetapi masih terlalu goblok untuk menyadari kesalahan sendiri.

Kali ini, ayah dan ibu tidak mengetahui bahwa kami masih memendam bara. Mereka tahu memang, bahwa kami pernah berkelahi demikian hebat hingga sukar dihentikan. Namun tidak adanya perkelahian susulan dianggap perselisihan sudah berakhir. Apalagi setiap tahun kami melalui Idul Fitri dan melaksanakan tradisi saling bermaafan. Rupanya perayaan itu tetap tidak mengakhiri pertikaian.

Saya memang memiliki sifat yang unik, sifat keras kepala dan menyimpan dendam hingga membatu. Perang dingin berlanjut. Hingga tibalah saat di mana saya mencukur ego, mengadakan rekonsiliasi, dan melangkah dari masa lalu.

Setelah lulus kuliah, kakak saya sempat bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik di Karawang. Hal tersebut memaksa dia untuk tinggal di kota itu dan tidak pulang hingga beberapa waktu lamanya. Saat itu saya mengantar ke stasiun kereta api seorang kawan yang akan pergi ke Yogyakarta. Kebetulan, kereta api yang memulai perjalanannya dari Jakarta itu mengangkut kakak saya. Dia turun dari kereta api, mengedarkan mata, dan pandangan kami bertemu pada satu titik. Momen saling diam pun tak terhindarkan. Kikuk tak tahu apa yang harus dilakukan. Untunglah kakak segera tahu cara menguasai keadaan.

Dia menyapa saya, meski awalnya dengan sedikit dingin. Berbasa-basi sebentar. Setelahnya, sebuah warung kopi menjadi saksi bagaimana dua orang saudara yang bertahun-tahun tak saling sapa larut dalam percakapan.

Kini ngopi bersama menjadi adat kami bertiga. Setiap kali saya mudik saya mengajak kakak dan adik pergi ke warung manapun yang menyediakan kopi. Entah itu angkringan, kafe, atau rumah makan. Kakak saya, yang sekarang sudah beristri dan memiliki anak, selalu menyempatkan menemani ngopi ketika saya sedang mudik. Tentu saja, kali ini tidak didahului dengan perselisihan.

* * *

Untuk sebab yang sentimentil, ngopi bersama dengan kakak dan adik membuat saya selalu teringat wajah haru ibu. Tiga bersaudara yang dulu hampir setiap saat bertengkar, selalu menyusahkan orang tua, sekarang akrab seperti tanpa sekat.

Seperti teman sepermainan sebaya, hingga kini kami masih sering bepergian bersama—bertiga saja. Bahkan, kali terakhir saya mudik dan ngopi bersama kakak dan adik, ibu saya mengirimkan pesan singkat ke ponsel adik, meminta kami berdiskusi, membantu menemukan solusi atas permasalahan yang sedang beliau alami.

Ah… Rupanya secepat itu ya, Bu?

Gita Wiryawan

Lelaki pemalu. Tapi bisa jadi ramai kala menikmati secangkir kopi. Kini tinggal di sekitaran Jambi. Bisa disapa di http://www.wiryawan.net/.

  • Terharu bacanya.. Inget ma adik” sendiri.. Hahha..