Percakapan (Tak) Penting di Warkop Mbah Kobra

Penampakan luar Warung Kopi Mbah Kobra
Penampakan luar Warung Kopi Mbah Kobra © Muhammad Azamuddin Tiffany

Tak begitu jauh dari tempat tinggal kami, saya dan Slendro teman saya jalan kaki melewati Pasar dan Taman Singha di Merjosari, Malang. Tepatnya di sebelah selatan Taman Singha. Kami masuk sembari langsung menuju meja pemesanan, setelah melihat beberapa daftar menu yang ditawarkan, pesanan saya jatuh kepada Kopi Tulup.

Dinding dalam warung ini banyak berhiaskan coretan mural. Mural hasil karya Komunitas Turu Kene. Sebuah komunitas sosial yang juga aktif di bidang cukil dan stensil. Seruan Bung Karno: “Mari ngopi Bung!” tepat di sebelah lukisan siluet kepulauan Indonesia. Beberapa kayu lukis disusunsandarkan ke dinding, membuat suasana hangat dengan dominan kayu dan warna cokelat. Di sudut yang sama, terlihat wadah menampung tumpukan gelas kaca, cangkir stenlis dan selusin mangkok cap ayam.

Dalam daftar menu tertulis di papan. Selain kopi tulup khas Malangan, ada juga kopi hijau yang berbahan dasar campuran kopi dan kacang hijau, serta rockers cola: minuman bersoda cap Sam Brewok, produksi Malang asli. Warung ini juga terdapat beberapa permainan yang bisa digunakan sebagai aktifitas mengisi waktu luang. Ada beberapa kotak papan catur, kartu remi dan juga buku-buku bacaan.

Penampakan Luar dari Jendela
Penampakan Luar dari Jendela © Muhammad Azamuddin Tiffany
Papan Catur Kayu
Papan Catur Kayu © Muhammad Azamuddin Tiffany

Warung kopi ini mulai buka jam sembilan pagi hingga jam sebelas malam. Gambar simbol lelaki tua duduk bersila memakai sarung dan kopiah, lengkap dengan kopi di tangan kanan dan tangan kiri membentuk simbol kobra dengan meruncingkan jari-jarinya. Gambar tersebut jadi ciri khas warung kopi ini. Warung ini bernama Warung Kopi Mbah Kobra. Kami memilih duduk di ruang dalam, tepat di dekat jendela, sembari memperhatikan beberapa gambar-gambar dinding yang unik-unik.

Belum lama mengamati detail unik warung kopi ini, kopi tulup pesanan kami datang. Dengan penampilan seperti kue bolu yang muncul ke atas berbentuk setengah bola. Jika belum paham mungkin bakal dikira kue bolu betulan yang bisa dimakan, padahal sebenarnya adalah butiran-butiran kopi kasar yang masih mengapung.

Kopi Tulup Khas Malangan
Kopi Tulup Khas Malangan © Muhammad Azamuddin Tiffany

Setengah jam kemudian, kawan saya bernama Dian datang. Setelah memesan kopi cangkir, dia duduk dan bergabung bersama kami.

“Mengapa seringkali ngopi di luar rumah itu selalu saja tetap nikmat ya?” Dian melempar pertanyaan lalu melanjutkan, “walaupun di dapur sudah tersedia bubuk kopi dan gula, tinggal menyeduhnya dengan air panas, maka tersajilah.”

Kami diam, belum ada yang bisa menjawab.

Slendro menyahut. “Karena jelas berbeda, suasananya berbeda, menunya berbeda, kawan-kawan yang ditemui juga berbeda.”

Dian menimpali. “Nah itu mungkin bisa dijadikan alesan.”

Lalu satu lagi, kenapa merokok tanpa ngopi itu rasanya aneh?”

“Setuju, kopi tanpa rokok tak lengkap rasanya. Apalagi sebelum berangkat kuliah, pagi-pagi minum kopi, makan roti goreng hangat dan hisap sebatang rokok, lengkap sudah.” Slendro melanjutkan.

Dian ingin melanjutkan pembicaraannya, namun kopinya keburu datang. Dia menaruh sebatang rokok yang belum sempat ia nyalakan, di atas asbak. Diminumlah kopi miliknya langsung dengan 3 kali tegukan.

Ayo Ngopi Bung!
Ayo Ngopi Bung!! © Muhammad Azamuddin Tiffany
Mural dan kolase kayu lukis mejadi hiasan dinding
Mural dan kolase kayu lukis mejadi hiasan dinding © Muhammad Azamuddin Tiffany

“Hei Bos!!!” gertak Slendro. “Minum kopi pakai estetika, seruput sedikit demi sedikit dengan jeda, rasakan aroma kopinya, kunyah butiran serbuk kopi di lidah.” Slendro mulai berpuisi, sembari kemudian mempraktekkan dengan menyeruput kopi sekali menyeruput.

“Aku selama ini, nggak bisa minum kopi pelan-pelan, kenapa ya?” Dian memberi pertanyaan pada dirinya sendiri, lalu melanjutkan sisa kopi yang belum diminum. Saat itu juga, kopi langsung habis dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Kami tak bisa mencegahnya, dia tak menghiraukan kami. Seolah menemukan gairah membabi buta, dengan minum kopi lekas-lekas, ingin membasahi seluruh dahaganya. Seolah tak peduli, dia memesan satu gelas kopi ukuran sama, untuk kedua kali. Setiap orang punya estetikanya minum kopi masing-masing. Kami berdua hanya bisa cekikikan.

Muhammad Azamuddin Tiffany

Kalau nggak ngopi, ya ngaji.

  • Fauzan ??

    Waktu animo ngopi blm spt skrg, di Malang jg ada jenis kopi yg terkenal, kopi ‘deb’ namanya, tumbukan kopi kasar dicampur jagung,stlh disruput kalau nyisa dilidah trs dilepeh, bunyinya deb…deb…deb…

    • Rizky Akbari S

      Itu ngopi apa latian vokal. Pake deb.. deb… deb… segala…

  • Ubay KPI

    lukisan ayo ngopi-nya cakep. blh mnt file yg lbh besar bro?