Perayaan 156 tahun Max Havelaar

Helaran Masyarakat Ciseel
Lihat Galeri
9 Foto
Taman Baca Multatuli
Perayaan 156 tahun Max Havelaar
Taman Baca Multatuli

© Annisa Sofia Wardah

Salah satu sudut ruangan TBM Multatuli
Perayaan 156 tahun Max Havelaar
Salah satu sudut ruangan TBM Multatuli

© Annisa Sofia Wardah

Reading Group
Perayaan 156 tahun Max Havelaar
Reading Group

© Annisa Sofia Wardah

Foto bersama dengan para tamu Ciseel Day
Perayaan 156 tahun Max Havelaar
Foto bersama dengan para tamu Ciseel Day

© Annisa Sofia Wardah

Kendaraan untuk ke Sobang
Perayaan 156 tahun Max Havelaar
Kendaraan untuk ke Sobang

© Annisa Sofia Wardah

Jembatan yang Menghubungkan Kampung Warung Pojok dan Ciseel
Perayaan 156 tahun Max Havelaar
Jembatan yang Menghubungkan Kampung Warung Pojok dan Ciseel

© Annisa Sofia Wardah

Pemandangan Kampung Ciseel
Perayaan 156 tahun Max Havelaar
Pemandangan Kampung Ciseel

© Annisa Sofia Wardah

Persiapan Keberangkatan Menuju Kota Rangkasbitung
Perayaan 156 tahun Max Havelaar
Persiapan Keberangkatan Menuju Kota Rangkasbitung

© Annisa Sofia Wardah

Museum Multatuli
Perayaan 156 tahun Max Havelaar
Museum Multatuli

© Annisa Sofia Wardah

“Karena kegembiraan bukan terletak di potongan padi, namun di potongan padi yang ditanam sendiri. Dan jiwa manusia tidak tumbuh dari sewa, namun dari tenaga yang disewa.”

“Itu ucapan siapa neng?” tanyaku sok polos.

Aku menatap gadis manis berwajah putih bersih yang sedang memangku adiknya berusia tiga tahun sembari memegang buku Max Havelaar.

“Ini teh ucapannya Multatuli” jawabnya sambil menunduk malu-malu.

“Sering teh, saya ngiringan reading. Da bumi teh tebih pisan dianterkeun weh ku bapak nganggo motor.”

Aku berdecak kagum, melihat gadis mungil lainnya, menjelaskan bahwa dia tidak pernah bolos untuk mengikuti baca buku Max Havelaar secara berjamaah. Reading Group anak-anak Ciseel menyebutnya.

“Ciseel Day 6: 156 tahun Max Havelaar,” adalah judul besar yang menjadi daftar wajib petualanganku, kegiatan tersebut diadakan selama dua hari, yaitu 10 sampai 11 Desember 2016. Ciseel Day adalah sebuah pesta tahunan yang diadakan oleh Taman Baca Multatuli (TBM). Pesta dalam rangka merayakan kebahagiaan dan pengobat dahaga keilmuan bagi anak-anak hingga masyarakat di desa Ciseel.

Setiap tahunnya dalam kegiatan Ciseel Day, warga kampung selalu menampilkan berbagai macam kegiatan pentas seni. Drama “Saija Adinda” salah satunya; sebuah kisah asmara yang penuh perjuangan. Namun, karena lapangan yang saat ini sedang ditanami oleh pohon pisang, maka aku belum berkesempatan untuk menyaksikan drama fenomenal itu.

Pementasan drama Saija Adinda yang tidak ada di tahun ini, tidak membuatku kecewa ataupun menggerutu kesal, karena begitu banyak hal yang bisa dinikmati oleh mata. Ada kegiatan Helaran: berupa pawai yang diikuti oleh anak-anak, mereka yang sudah lanjut usia, pemuda-pemuda desa, serta tamu-tamu yang datang juga ikut. Semuanya turut serta di helaran tersebut; ada yang memakai topi tentara, membawa cangkul, dan mengikuti alunan gendang yang ditabu. Semua bahagia!

Ada rasa penasaran yang muncul, karena aku hanya bisa menikmati helaran dalam beberapa menit saja, dan tidak menjadi bagian orang yang asyik berpawai. Mobil berjenis elf yang kami tumpangi baru berangkat siang. Kami terlambat datang, karena pawai berlangsung sedari pagi hari. Kami baru tiba di Ciseel menjelang ashar.

Helaran Masyarakat Ciseel
Helaran Masyarakat Ciseel | © Annisa Sofia Wardah

Bada’ ashar, anak-anak, tetangga kampung, tamu-tamu berduyun-duyun mendekati panggung. Jika anak-anak duduk manis, tamu-tamu yang hadir ikut asyik mengabadikan reading group. Kang Ubay pun memimpin, mengarahkan, juga menjelaskan setiap kalimat yang sudah dibaca. Reading group adalah agenda rutin di hari kamis setiap pekannya. Aku terharu dan juga bangga, tak hanya remaja, anak-anak usia sekolah dasar, anak-anak yang bertubuh mungil, dan anak-anak yang masih belum bisa membaca, kesemuanya duduk tanpa berisik dan mengikuti ucapan setiap kata yang dibaca oleh peserta lainnya. Mereka menikmati, bahagia pada kata-kata, dan cinta kepada Multatuli.

“Kamu nggak bosen?”

“Nggak teh, senang aja” ucap Nia siswi Kang Ubay, yang duduk di bangku SMP.

Matahari mulai kembali ke peraduannya, Kang Ubay menjamu kami untuk menikmati semur jengkol, ikan asin, lalapan, dan juga sambal yang sudah dimasak oleh warga Ciseel. Keseruan dan kedekatan berlanjut menjelang isya. Sembari menunggu persiapan pementasan, obrolan ringan menjadi penghangat di tengah hujan deras.

Ada Pak Aryan, beliau terlahir di Belanda, tetapi aku memanggilnya Kang. Kang Aryan (aktor pemeran dokter di film Cokroaminoto) ini bercerita tentang pengalamannya menyusuri tapak tilas jejak perjuangan Multatuli. Kang Bonnie yang merupakan sejarawan ikut menambahkan serta melengkapi fakta dan cerita tentang Kota Rangkasbitung. Mulutku semakin menganga menyimak penuturan Pak Gogol, bahwa di Belanda nama Multatuli juga digunakan sebagai nama jalan, tempat fasilitas umum, dan ada patung Multatuli.

“Nak, warga Belanda sangat bangga akan Multatuli” ucap Pak Gogol. Rambutnya yang sudah memutih tidak mengalahkan niatnya jauh-jauh terbang dari Amsterdam, hanya ingin menyaksikan anak-anak Multatuli di Ciseel.

Obrolan santai terus berlanjut sambil menunggu hujan reda. Semua berbagi pengalaman dan perjuangannya untuk sampai ke Ciseel, Sobang. “Andy Noya jadi religius, nah ini awal paragraf dari artikel yang dibuatnya…” Kang Ubay langsung membacakan paragraf awal dari arsip artikel yang dikumpulkannya.

“Yang orang kiri juga pasti bakalan religius ke Sobang, hahaha” ucap Kang Bonnie.

Gelak tawa memenuhi ruangan.

Keseruan pengalaman menyusuri tapak tilas Multatuli oleh Kang Aryan
Keseruan pengalaman menyusuri tapak tilas Multatuli oleh Kang Aryan | © Annisa Sofia Wardah

Malam minggu itu selepas obrolan, pementasan pun dimulai. Pementasan tidak hanya disuguhkan oleh anak-anak, tapi nenek-kakek, ibu-bapak juga ikut menampilkan tarian dibalut drama. Ada pembacaan puisi, tarian hasil kreatifitas anak-anak Ciseel, pun naskah drama hasil buah pikiran wajah-wajah mungil Ciseel ditampilkan di pentas seni Ciseel Day.

Keseruan berlanjut di keesokan harinya. Dua mobil terbuka dan truk sudah siap menampung perjalanan jauh, Sobang-Rangkasbitung untuk menyusuri tempat-tempat bersejarah yang diceritakan oleh Multatuli dalam Max Havelaar.

Perjalanan menempuh waktu selama dua jam, kami sempat beristirahat sejenak dan menikmati bekal yang sudah dibawa. Anak-anak Ciseel mulai melangkahkan kaki ke gedung pemerintah Kabupaten Lebak yang juga merupakan cagar budaya. Perjalanan lalu diteruskan ke Rumah Multatuli yang berada di tengah RSUD Rangkasbitung; ke Museum Multatuli; dan Perpustakaan Saija Adinda yang akan diresmikan di pertengahan tahun 2017; hingga berakhir di Sungai Ciujung. Ketika perjalanan, hujan terus membasahi badan-badan mungil kami, namun tidak ada yang menampakkan tampang mengeluh. Mereka semua bahagia menyusuri jejak-jejak Multatuli di Kota Rangkasbitung. Aku pun bahagia.

“Tuan-tuan para pemimpin Banten Kidul! Marilah kita bergembira karena provinsi kita begitu miskin. Kita mendapat pekerjaan mulia. Jika Allah memberi kita umur panjang, akan kita upayakan kemakmuran akan datang..” (Max Havelaar:167)

Annisa Sofia Wardah

Wanita biasa yang mencintai sastra, anak-anak dan perjalanan.