Pentingnya Hutan Adat sebagai Penyangga Kehidupan Masyarakat

Hutan Adat Tigo Luhah Permenti Yang Berenam
Hutan Adat Tigo Luhah Permenti Yang Berenam | © Erika Hidayanti

Gunung Kerinci dikenal dengan banyak nama; Gunung Gadang, Berapi Kurinci, Korinci, dan juga Puncak Indrapura (Peak of Indrapura). Kerinci adalah gunung berapi aktif tertinggi pertama di Indonesia, dengan ketinggian 3805 mdpl yang terletak di pulau Sumatra provinsi Jambi. Tak hanya ketinggiannya yang menarik perhatian para pendaki, akan tetapi juga seluruh isi hutan tropisnya dengan ragam kekayaan flora dan fauna. Termasuk harimau dan badak Sumatra yang dinyatakan hampir punah.

Di balik kemegahannya ada sekelompok orang yang sejak dulu menjaga keasrian dan kealamian Kerinci. Mereka yang selalu dengan setia menjaga alam di sekitar Kerinci sekaligus secara lebih luas menjaga keutuhan Pegunungan Bukit Barisan Sumatra. Mereka adalah masyarakat adat yang setia hidup berdampingan dengan alam dan tak mau merusaknya.

Masyarakat adat yang tinggal dan hidup di sekitar Kerinci menjaga keaslian alam dengan membuat hutan adat pada wilayah adat mereka masing-masing. Di antaranya: Hutan Adat Tigo Luhah Permenti Yang Berenam, Hutan Adat Nene Limo Hiang Tinggi, dan Hutan Adat Nene Empat Betung Kuning.

Hutan Adat Nene Limo Hiang Tinggi
Hutan Adat Nene Limo Hiang Tinggi | © Erika Hidayanti

Perjalanan menuju ketiga hutan adat itu pun bukanlah hal yang mudah. Menempuh waktu sekitar satu setengah jam untuk menuju Hutan Adat Tigo Luhah Permenti Yang Berenam dari kota Sungai Penuh, Jambi. Jalan yang harus dilewati berupa tanah merah yang selalu berubah menjadi lumpur ketika turun hujan serta kontur jalan bergelombang yang memiliki banyak tanjakan curam.

Sesudah melewati perjalanan terjal itu, kita akan menemukan Desa Pungut Mudik, menemukan ladang, dan sawah-sawah yang digarap oleh warga. Ladang dan sawah itulah yang irigasinya berasal dari hutan adat. Dengan menjaga kelestarian dan ekosistem kawasan hutan adat, masyarakat takkan pernah kekurangan air. Baik untuk bertani atau pun untuk kegiatan lain.

Hutan adat ini dikukuhkan pemerintah pada tahun 2013 dengan bantuan Tropical Forest Conservation Action for Sumatra (TFCA-Sumatra). Awalnya niat dan keinginan masyarakat untuk menjadikan hutan di belakang permukiman mereka sebagai hutan adat —yang tak boleh dijamah— sudah ada sejak tahun 1993. “Masyarakat sendiri yang ingin adanya hutan adat karena mereka sadar hutan harus dijaga demi kesejahteraan warga sendiri,” ungkap Darlismi, Ketua Hutan Adat Tigo Luhah Permenti Yang Berenam.

Warga sekitar sadar akan pentingnya menjaga alam setelah bencana alam terbesar di Kerinci pada tahun 1995. Saat itu, gempa bumi mengguncang Kerinci, banjir, dan longsor yang banyak menelan korban. Semenjak kejadian itu masyarakat adat memutuskan untuk menjaga kawasan hutan dan menjadikannya sebagai hutan adat.

Darlismi bercerita; dengan adanya hutan adat ini masyarakat selalu merasa aman, tidak kekurangan air, serta bahan makanan. Masyarakat adat sendiri tidak berani mengeksploitasi hutan adat. Apalagi untuk kepentingan dan keuntungan pribadi. Semua takut karena melanggar peraturan adat akan diberi sanksi adat.

Akibat hal tersebut hutan adat banyak memberi “kehidupan” bagi masyarakat. Misalnya, Hutan adat di kaki Kerinci kaya akan obat-obatan herbal seperti: akar jangat, kayu meranti, kayu pijang, kemenyan, dan berbagai tumbuhan alami lainnya. “Jadi kalau hanya obat sakit perut saja, kami tidak akan kekurangan,” tutur Darlismi.

Tiada jauh dari Desa Pungut Mudik, ada Desa Hiang yang memiliki Hutan Adat Nene Limo Hiang Tinggi; dan Hutan Adat Nene Empat Betung Kuning. Kedua hutan adat ini dikukuhkan oleh pemerintah pada tanggal 7 Desember 1993 melalui SK Bupati. Hiang merupakan salah satu desa yang memiliki kawasan hutan adat terluas di Kabupaten Kerinci.

Pelestarian hutan adat di Hiang merupakan salah bentuk kepatuhan masyarakatnya demi melestarikan peninggalan dan warisan leluhur. Dan juga sebagai salah satu bentuk kearifan tradisional mereka, sekaligus kepedulian masyarakat Hiang terhadap keberlanjutan generasi penerus. Mereka sadar dengan melestarikan hutan maka terjamin ketersedian air di daerah aliran sungai (DAS) untuk kebutuhan hidup sehari-hari, misalnya untuk irigasi sawah-sawah mereka.

Sama halnya dengan hutan adat lainnya, hutan adat di Hiang memiliki aturan adat. Ketua Lembaga Adat Nene Empat Betung Kuning, Candra Purnama mengatakan: “selama ini masyarakat sangat enggan untuk melanggar aturan adat tersebut. Di sini pun irigasinya selalu lancar karena ada hutan adat,” paparnya.

Jika ada warga yang melanggar peraturan hutan adat, warga tersebut akan segera diberi sanksi berupa denda yang diberikan berdasarkan berapa banyak hasil hutan yang diambil. Jika yang diambil dari dalam hutan kayu berukuran kecil dan jumlahnya sedikit, denda yang diberikan adalah nasi sepiring dan ayam seekor. Lalu, jika lebih besar lagi yang diambil, misalnya mengambil kayu untuk membuat rumah sendiri, sanksi yang diberikan adalah beras sebanyak 20 kg dan kambing seekor. Jika pelanggaran berat, misalnya mencuri dan menjual pohon besar, sanksinya adalah kerbau seekor dan beras sebanyak 100 kg.

Candra Purnama, Kepala Lembaga Adat selama ini sangat mengapresiasi warga yang sudah bersama-sama membantu terjaganya hutan adat. “Pemerintah pun saya harapkan bisa memberi perhatian pada warga yang sudah ikut melestarikan alam ini,” ujarnya.

Ditetapkannya SK Bupati Kerinci pada hutan adat tersebut adalah untuk mempertegas fungsi hutan adat sebagai kawasan penyangga (buffer zone) dan memperjelas batas-batas hutan adat dengan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Hal ini untuk menghindari terjadinya konflik antara masyarakat adat dan TNKS.

Masyarakat adat di Kabupaten Kerinci sampai saat ini masih memiliki akses yang sulit untuk pergi ke perkotaan. Perjalanan yang jauh, berpuluh-puluh kilo, harus mereka tempuh untuk bisa hadir di pusat kota dan menikmati fasilitasnya. Namun, semua itu tak dirasakan mereka sebagai beban karena dengan menjaga hutan, mereka masih bisa hidup bahagia. Pelajaran paling penting bagi kita —masyarakat kota yang mungkin sudah terlena dengan fasilitas mewah— yang masih banyak mengeluh. Cobalah sesekali tengoklah mereka yang bersahabat dengan alam. Mereka hidup berkecukupan dan bahagia. Alam memang sudah seharusnya dijadikan sahabat, bukan untuk di-eksploitasi.

Erika Hidayanti

Indonesia asli, darah campuran Sunda-Jawa-Bugis yang senang mencuri waktu untuk ngopi dan nulis di samping jendela kamar.