Penjual Es Goyang: Kalau sudah ahli (Menggoyang), gelas yang disimpan di sini juga ga bakalan tumpah

Sabtu (9/7/21017) menjelang Magrib, Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat terlihat lengang. Saat menyusuri trotoar, keberadaan gerobak berwarna hijau di sudut Jalan Ciliman menarik perhatian saya. Sebuah gerobak dari pedagang “Es Goyang”.

(Hah, ternyata masih ada juga ya es goyang itu)

Saya langsung menghampiri pedagangnya.

“Berapaan, Bang?”

“Tiga ribu.”

“Ada rasa apa aja, Bang?”

“Ada nangka, stoberi, kacang ijo, vanila, cokelat, sama ketan.”

“Ketan aja deh.”

“Pake kacang sama cokelat ga?”

“Boleh deh bang.”

Salah satu varian es goyang rasa ketan yang saya beli dibalur cokelat dan potongan kacang
Salah satu varian es goyang rasa ketan yang saya beli dibalur cokelat dan potongan kacang | © Muhamad Faisal Al’ansori
Man Dudin berpose di depan gerobak
Man Dudin berpose di depan gerobak | © Muhamad Faisal Al’ansori

Mengingat es goyang tak ubahnya bertualang dengan masa kecil. Sudah tak terhitung lagi kapan terakhir kali menyantap es ini. Saya rasa menemukan es goyang sekarang pun sulit. Di kampung saya, es ini dinamakan es lilin. Sekitar tahun 1999, di dekat rumah terdapat penjual es goyang. Penjualnya biasa nangkring jam 10-an. Saya masih ingat betul, penjualnya begitu ramah senyum.

Ingatan saya terhadap es goyang ini begitu kuat. Ada sepotong kebahagiaan yang terselip di dalam gerobaknya. Dulu harganya Rp25 per potong. Esnya terdiri dari beberapa warna seperti putih, ungu, dan kuning. Saya dan kawan selalu mengerubungi gerobak es tersebut. Tidak sekadar untuk membelinya, proses pembuatannya pun menarik perhatian.

Setelah adonan air dimasukan ke wadah yang tersusun rapi dari alumunium, penjualnya akan menggoyangkan gerobaknya selama beberapa menit. Bagi saya itu adalah pemandangan menyenangkan.

Hal paling ditunggu adalah berharap mendapatkan hadiah di balik kertas. Kertas tersebut melilit pada sebuah batang bambu yang menjadi penopang es. Jika beruntung, di dalam lilitan kertas ada sebuah nomor. Dan jika kita mendapatkan angka di balik kertas, tentu saja potongan es selanjutnya didapatkan secara gratis.

“Saya sudah 6 tahunan menjual es goyang ini di Jakarta,” kenang Dudin, penjual es goyang di hadapan saya, bersamaan dengan matahari yang semakin condong ke ufuk barat. Dalam sehari, Dudin, es goyang bisa terjual 200-300 potong. Sebelumnya ia berjualan es krim durian dan es krim cincau di Kota Kembang.

Dudin biasa berjualan di Jalan Ciliman di sebebrang Rumah Makan Ampera. Namun, tiap Ahad dia berjualan di acara hari bebas kendaraan di Jalan Sudirman. Di acara tersebut, es yang terjual lebih banyak lagi: 400 potong! Ternyata masih banyak juga pelanggan es potong Mang Dudin ini. Dan benar saja dugaan saya, para pelanggannya didominasi oleh kalangan orang tua.

Ada pelanggan saya dari Bareskrim. Tiap kali ketemu dia pasti memborong es rasa sirsak. “Meskipun es tersebut belum dicetak, dia akan menunggu proses pembuatannya. Dia beli semua stok es rasa sirsak yang tersedia. Kadang 50 potong. Pernah juga sampe 60 potong. Sambil menunggu proses pencetakan selesai, bapaknya juga memakan es di tempat hingga 10-15 potong.”

Mesin pencetak es tersusun rapi di dalam gerobak
Mesin pencetak es tersusun rapi di dalam gerobak | © Muhamad Faisal Al’ansori
Es yang sudah membeku disimpan di ruang pendingin
Es yang sudah membeku disimpan di ruang pendingin | © Muhamad Faisal Al’ansori

Kenapa pembuatan es ini harus mengoyangkan gerobak? Dudin bercerita bahwa gerobak yang digoyangkan bertujuan untuk membuat proses pembekuan es semakin cepat.

“Tapi,” Dudin melanjutkan, “tidak sembarang digoyangkan.”

“Memang kenapa?”

“Kalau digoyangkan terlalu cepat, proses pembekuannya kurang sempurna.”

“Terus seperti apa cara menggoyangkannya?”

“Harus seperti ini. Tidak terlalu cepat. Tidak juga lambat,” kata Dudin sembari mempraktikkan cara menggoyangkan gerobak yang benar dan baik menurut dia.

“Kalau sudah ahli, gelas yang disimpan di sini juga ga bakalan tumpah,” tambah Dudin sambil meletakan segelas es teh di salah satu bagian papan gerobak tersebut. Air di dalam gelas tersebut tidak tumpah saat gerobak digoyangkan.

Es goyang disajikan dalam beberapa varian rasa. Paling banter tidak sampai mengubah cita rasa bahan baku yang terbuat dari air, santan, dan gula pasir ini. Maka rasa vanila terasa identik dengan rasa original.

Ternyata, banyaknya varian rasa es goyang Mang Dudin ini merupakan strategi pemasaran tersendiri. Kalau rasanya banyak, pembeli juga yang tadinya cuma pengin beli sepotong jadi beli beberapa rasa. Kadang ada yang satu-satu untuk semua rasa. Ada juga yang beli dua potong setiap rasanya.

Es goyang milik Mang Dudin menggunakan bahan baku alami alias tanpa pemanis buatan. Dia mengetahui bahwa dampak pemanis buatan tidak bagus untuk tubuh jika dikonsumsi terus-menerus.

“Sebenarnya saya bisa menggunakan pemanis buatan. Itu dilakukan untuk menghemat modal. Tapi saya ga mau. Itu tidak berkah. Saya ingin berjualan secara jujur.”

Muhamad Faisal Al’ansori

Wartawan. Suka masakan manis.