Pencarian Latte yang Belum Usai

Tetangga saya memang suka aneh-aneh. Beberapa waktu yang lalu mereka sempat ketagihan bermain musik (nge-band). Berhubung semua elemen band tersedia lengkap, dari mulai pemain bass, lead gitar, melodi hingga keyboardist, maka ritual ngeband menjadi ritual baru setiap malam minggu tiba. Vokalis? Tak perlu repot-repot mencarinya, karena untuk posisi ini hampir tiap orang mau mencalonkan diri. Ritual ngeband ini semakin lancar terlaksana karena salah satu tetangga kami yang memiliki peralatan musik lengkap, termasuk drum set dan piano. Maka coba bayangkan, minimal dua minggu sekali anda bisa mendengar sayup-sayup lagu Pupus-nya Dewa saat larut malam di komplek kami, kadang diselingi oleh Gerimis atau Yogya-nya KLA Project dan hampir pasti ditutup dengan Pesawat Tempur-nya Iwan Fals.

Ada karakter yang mereka pertahankan, yakni bahwa mereka akan menekuni dengan benar setiap hobi baru. Ini terbukti saat mereka menemukan kesenangan yang menggeser keriaan bermain musik, ialah ngopi. Bukan sekedar ngopi sachet seperti sebelumnya yang biasa mereka lakukan. Melainkan betul-betul ritual yang sesuai dengan pakem dan hakikat ngopi. Biji kopi hasil roasting yang masih fresh, manual grinding yang dilanjutkan dengan manual brewing.

Mereka benar-benar tenggelam dalam keseriusan ritual ngopi ini. Dari semula yang hanya menggunakan V-60, sekarang mereka sudah mengoleksi peralatan lain seperti timbangan digital, mesin grinder dengan daya 180 watt, plunger French Press sampai rockpresso. Sampai-sampai salah satu dari mereka membeli tas yang khusus didedikasikan untuk sarana penyimpanan peralatan ngopi. Bisa dibilang tas ini mirip kantong Doraemon untuk alat kopi. Sempat terpikir oleh saya, jangan-jangan saya bisa menemukan mesin kopi mini Rancilio di dalam tas tersebut.

Uniknya, persamaan antara kedua hobi ini; ngeband dan ngopi adalah bahwa keduanya ditunaikan pada saat malam sudah larut di akhir pekan. Hanya sesekali saja mereka ngopi bareng-bareng pagi, itu pun karena ada momen kerja bakti komplek. Waktu khusus untuk hobi yang aneh ini yang sedikit menyulitkan saya. Terus terang saya agak kewalahan jikalau harus menandingi stamina mereka yang bisa melek sampai pagi. Karena biasanya saat akhir pekan saya sudah harus bangun pagi untuk mengajak bermain. Sehingga bisa dikatakan saya jarang ikutan ngopi bersama mereka.

Kecuali saat malam jahanam itu.

Mereka memperlihatkan kepiawaian mereka dalam meracik kopi. Sebelumnya saya sempat mendapat kabar bahwa beberapa dari mereka mengikuti training khusus untuk barista. Saya tidak berpikir bahwa mereka akan serius dalam persoalan kopi ini. Dan malam itu membuktikan bahwa pemikiran saya tersebut salah.

Beberapa menu diramu malam itu dari mulai Vietnam drip coffee, V-60 manual brewing, sampai espresso. Puncaknya saya disuguhkan latte. Saya jelas bukan seorang penikmat latte. Saya mengklaim diri sendiri sebagai aliran kopi garis keras, tanpa gula, black coffee only. Tapi latte malam itu mengubah segalanya.

Vietnam drip coffee
Vietnam drip coffee | © Rulli Rachman

Sebenarnya latte ini berbeda dengan latte yang biasa disajikan di kafe. Latte racikan tetangga saya ini lebih kental espresso-nya dan dikombinasikan dengan susu dengan kadar secukupnya. Aduh. Nikmat sekali. Campuran yang ketat antara kopi dan susu melenyapkan rasa plain yang seringkali saya kecap untuk tipe latte ini. Sungguh. Saat itu saya merasakan jatuh cinta pada latte seperti saat Wade Wilson (Deadpool) jatuh hati ketika bertemu Vanessa.

Dan malam itu menimbulkan efek yang tak terelakkan. Berhari-hari masih terbayang di benak saya soal rasa latte yang tertinggal di bibir. Karenanya saya memulai petualangan untuk mencari latte yang mirip dengan latte racikan tetangga malam itu. Kopi hitam sempat menjadi pilihan kedua saya setelah itu. Latte yang pertama saya temukan dalam pencarian adalah latte racikan barista di kafe mini sekitar kantor. Pemilik kafe menggunakan porta-camp sebagai tempat usahanya. Sebelum latte pesanan saya dibuat, terlebih dahulu saya memastikan bahwa yang akan diracik adalah betul latte seperti yang saya maksud, campuran antara espresso dengan susu. Sayangnya latte pertama ini gagal total memenuhi ekspektasi saya. Setelah saya analisa lebih dalam, latte pertama ini menggunakan terlalu banyak susu dalam campurannya.

Belajar dari pengalaman pertama tersebut, maka saya memesan latte dengan kombinasi 1:1 untuk espresso dan susunya. Saya order latte ini di kafe yang lain, kafe yang terhitung sangat terkenal namanya. Saat mendengar pesanan saya, sang barista memastikan bahwa itu adalah betul keinginan saya. Ia mengatakan bahwa porsi minuman saya akan jauh berkurang dibandingkan dengan kapasitas cup yang ada. Saya bilang tidak apa-apa. Lagi-lagi latte yang kedua ini sama mengecewakannya dengan latte versi pertama. Mungkin komposisinya berbeda tapi rasa kopi yang saya kecap di lidah masih belum sama dengan latte racikan tetangga. Dan menurut saya, espresso-nya kurang pekat. Kekecewaan latte kedua ini sedikit terobati karena saya juga memesan croissant cokelat.

Pencarian latte masih berlanjut. Yang ketiga rasanya lebih parah dibandingkan versi sebelumnya. Saya minum latte ketiga di salah satu kafe di daerah Bintaro. Pada saat pesanan dicatat, saya sudah mengingatkan kepada waiter yang melayani bahwa saya ingin kadar susunya dikurangi. Entah tidak dicatat atau si waiter kurang konsentrasi, latte ketiga disajikan dengan komposisi 1: 4. Ending-nya mudah ditebak. Saya minta es teh manis untuk menemani spicy fettucini carbonara yang saya pesan.

Untungnya Vietnam drip coffee yang saya pesan di suatu sore saat menemani istri yang sedang hamil 9 bulan cukup mengobati kekecewaan saya. Sejauh ini justru Vietnam coffee ini yang cukup mendekati rasa latte racikan tetangga saya. Saya tidak mengerti mengapa tiada satupun latte yang saya minum bisa mirip dengan latte malam itu.

Mungkin ini memang pertanda supaya saya kembali meluangkan waktu untuk nongkrong dan ngopi bareng mereka. Ngobrol ngalor ngidul, utara selatan barat timur, membahas segala macam hal saat orang lain sudah terlelap. Dan kalau beruntung, tidak cuma kopi dan kacang yang saya dapat, tapi juga martabak. Yang pasti saya masih penasaran dengan latte malam itu. Apakah anda ingat saat Harry Osborn menggoda Peter Parker dengan berbisik soal seperti apa rasanya bibir Mary Jane yang ia kecup? Ya, mungkin bentuk wajah saya sama dengan ekspresi muka Parker saat itu.

Rulli Rachman

Bola, buku, kopi, movie

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com