Pembelaan Si Penikmat Kopi Pahit

Tanggapan atas artikel Mengetahui Niat Seseorang dari Rasa Kopi
Kopi Hitam
Kopi Hitam © Nody Arizona

Saya adalah penyuka kopi pahit. Dengan meramu kopi dengan sedikit gula, memang terasa sangat pahit di ujung lidah, namun akan terasa manis di pangkal tenggorokan. Begitulah kira-kira yang saya rasakan.

Tetapi niat saya bukan untuk mempublikasikan tulisan tentang kopi apa yang saya suka, wahai Minumkopi.com. Di sini saya mau klarifikasi tentang tulisan Holy Adib pada 15 Agustus 2015 yang berjudul “Mengetahui Niat Seseorang dari Rasa Kopi”. Saya tersinggung mau klarifikasi.

Memang pada Jumat itu saya membuat kopi. Niatnya, saya bikin kopi pakai mug untuk diminum bersama kawan saya, Holy Adib.

Sebenarnya tiada niat saya untuk membuat kopi untuk diri sendiri. Pahit yang terasa dari kopi itu nyatanya disebabkan oleh ribuan semut nakal yang mengerubuti gula di dalam toples. Saya mencoba untuk mengambil dua sampai tiga sendok butiran gula dari toples, tapi tiada berhasil. Semut kian beringas mencuri gula di dalam toples. Satu persatu butiran gula dibawa kabur oleh kawanan mahkluk kecil penggigit itu. Saya tatap gelas yang berisi bubuk kopi dan air panas, kemudian saya tatap toples yang telah dikerubuti semut. Saya pasrah. Apa boleh buat, siang itu hitam pahit yang tersaji.

Dan begitulah, segelas kopi yang saya hidangkan pun ternyata membuat teman saya ini merasa dilecehkan secara seksual. Ia menilai saya tidak peduli akan arti sebuah kebersamaan. Saya sedih dan saya marah atas ulah semut-semut nakal yang sertamerta mengibarkan bendera perang. Begitulah semut.

Oh ya, untuk teman saya dan Minumkopi.com, begitulah adanya kejadian di Jumat siang itu. Sebagai seorang manusia, saya punya pertimbangan agar bagaimana segelas kopi bisa dinikmati bersama-sama. Tapi apa daya, gula tak sampai.

Memang, pertemanan dan kopi adalah sebuah ramuan yang pas untuk menggali filosofi. Seringkali kita merasa seorang teman tidak mau mengerti tentang apa yang kita suka atau kita merasa teman itu hanya membuat sesuatu sesuai dengan selera diri sendiri. Tapi itu salah, wahai teman-teman. Keadaan seperti itu acap terjadi ketika apa yang ingin disuguhkan untuk bersama-sama ternyata bahannya tidak tercukupi. Hasilnya ya begitu. Kita menilai bahwa apa yang disajikan hanya sesuai dengan selera si pembuat. Bisa saja karena gula yang habis atau karena gula yang dicuri. Maklum, di negara ini banyak pencuri. Hm..

Nah, kalau begitu, maka sadarlah wahai pencuri gula. Tidak semua lidah suka kopi yang pahit nauzubillah. Memang ada beberapa lidah yang terbiasa mengecap pahit karena memang dari lahir selalu pahit yang ia dapatkan, tapi janganlah kau mengerubuti toples berisi gula. Mohon pengertiannya, wahai pencuri gula.

Oh ya, para pencuri gula. Untuk sementara waktu ini cobalah merenung. Kami sebagai manusia membutuhkan kebersamaan. Kami bisa mempertimbangkan rasa untuk kebersamaan dengan cara mengambil jalan tengah antara manis dan pahit. Tetapi, kalau kalian selalu mencuri gula, bagaimana kami bisa merasakan kebersamaan? Please, mengertilah.

Tak perlu khawatir, wahai gerombolan semut-semut nakal. Kalian tidak akan merasakan kelaparan. Sebagai manusia yang budiman, kami tetap memberikanmu gula. Setidaknya ada butiran-butiran yang jatuh ke lantai untuk kalian bawa ke sarang. Janganlah memaksa untuk masuk ke toples. Apalagi mencuri gula. Please!

Awang Blackdog

Penulis, Seniman, & Backpacker