Peleles Kopi di Kampung Arul Item (4)

Bagian 4 dari 4

Sebagian masyarakat Arul Item bertani dengan sistem bagi hasil, bagi kebun atau membuka lahan hutan bagi yang tidak memiliki modal. Sistem bagi hasil dilakukan terhadap lahan pemilik kebun yang sudah memproduksi kopi. Pemilik dan pengelola berbagi hasil kotor sama rata (50:50) dengan ketentuan pengelola kebun menanggung biaya perawatan kebun kopi, seperti pemupukan dan pendangiran gulma.

Sementara sistem bagi kebun diterapkan untuk lahan yang masih kosong. Pemilik lahan berperan menanggung biaya sembako pengelola kebun selama enam bulan hingga satu tahun, plus biaya penanaman dan penyediaan bibit kopi. Setelah tanaman kopi mencapai tahap patah pucuk atau puntung, lahan kebun dan tanaman yang ada di atasnya dibagi sama rata.

Patah pucuk adalah istilah yang digunakan masyarakat petani kopi di Wilayah Dataran Tinggi Gayo untuk menggambarkan tahap pembatasan tinggi tanaman dengan mematahkan pucuk kopi antara 1,5 sampai 2 meter. Tujuannya agar proses pemanenan lebih mudah. Pembatasan tinggi tegakan batang kopi juga berfungsi merangsang pertumbuhan cabang produktif sehingga tanaman dapat menghasilkan produksi optimal. Selain itu penyerapan unsur hara menjadi lebih mudah.

Bagi petani pendatang baru yang tidak memiliki cukup modal untuk membeli tamas mude (lahan berisi belukar) atau enggan menanggung risiko berbagi hasil atau bagi kebun karena khawatir sang empunya wanprestasi. Tak ada pilihan selain muger, sebutan masyarakat Gayo untuk orang yang memulai berkebun dari titik nol. Mereka berkebun dengan membuka hutan setelah memperoleh izin kepala kampung.

Selama masa muger mereka melakukan kerja sebagai buruh tani dengan sistem gaji harian atau borongan. Nglangsir (mengangkat kayu bahan bangunan dari hutan), ngelog (mengangkat kayu bahan bangunan dari hutan dengan bantuan kerbau), nyeding atau nyerlak (membuang tunas, cabang non-produktif dan cabang jantan pada tanaman kopi) mbesik atau nggaruk atau ndangir (membersihkan gulma dengan cangkul khusus) nyemprot (menyemprot gulma), mengutip dan tentu saja ngleles. Bagi yang memiliki sedikit modal masa muger diisi dengan bertanam palawija di sela tanaman kopi untuk memenuhi kebutuhan hidup dalam jangka pendek.

Apapun strategi yang dipilih untuk mengakselerasi kemakmuran pada masa muger tak jadi masalah. Soalnya, sukses adalah ‘kutukan standar’ bagi pekerja keras di Arul Item. Bahkan, pencapaian standar kemakmuran terjadi secara kolektif dan pesat untuk ukuran kampung yang meraih status definitif baru 2006 silam.

Meski baru berumur belia, Arul Item telah memiliki sarana umum yang terbilang memadai. Ukuran kemakmuran kolektif dapat dilihat dari tingginya daya beli masyarakat. Jika menggunakan pendekatan nonfisik angka putus sekolah nyaris sirna. Menurut sekretaris desa, anggota masyarakat yang putus sekolah cenderung terjadi karena mereka tidak memiliki kesadaran tentang pentingnya pendidikan. Sebabnya jelas, terlalu cepat mengenal cara mencari uang.

Kopi Kampung Arul Item
© www.kompas.com

Tusyanto (40 tahun), menjadi panutan utama di Arul Item. Pria kelahiran Sumatra Utara ini meraih pencapaian yang tergolong prestisius dari masa muger. “Aku ini dulunya ketiplak orang. Pelan-pelan jadi jongos, terus naik jadi babu,” ujarnya. Ia tak gengsi menyamakan tahapan hidupnya dengan peristilahan tingkat pesuruh keraton dari level terendah. Semasa muger ia bekerja sebagai buruh rendahan seorang agen kopi. Ia akrab dipanggil Anto Jompo. Lelaki berkulit legam ini tak pernah memungkiri bahwa ngleles telah menjadi bagian tak terpisahkan hidupnya sebelum meraih kemapanan.

Sambil menyeruput segelas kopi di teras rumahnya ia melanjutkan kisah. “Dulu aku juga ngleles sama orang rumah (istri), njengking-njengking (menungging) di bawah kopi orang. Kadang lari terbirit-birit kalau nggak minta izin,” kenangnya. Saat ini Anto Jompo telah memiliki empat hektar kebun produktif.

Kalau dulu dia dan istri ngleles di kebun orang, kini keadaan telah berbalik. Warga lain yang sedang muger meminta izin ngleles di kebunnya. Ia selalu ikhlas merelakan kebunnya dilelesi, namun sering merasa geli. Sebagai petani yang merangkap agen kopi, ia justru membeli lelesan dari kebunnya sendiri.

Berbeda dengan hasil kutipan, lelesan wajib transit ke rumah peleles untuk melewati proses pembersihan dan pemilihan sederhana. Lelesan direndam semalam untuk memisahkan kotoran yang melekat berupa tanah, serpihan daun, kulit kopi yang masih menempel dan biji kopi yang pesot (kosong).

Biji kopi yang bernas dan layak jual akan tenggelam, biji yang buruk akan mengapung. Setelah melewati tahap perendaman kopi dijemur, lantas dipilih melalui proses penampian (pemilahan dengan tampah bambu), lelesan siap dijual. Tampilan gabah kopi hasil lelesan sedikit lebih kusam dari gabah kopi biasa. Hanya mata terlatih saja yang dapat membedakannya.

Persamaan dengan pengutip, ngleles biasanya bersiklus. Hari ini di kebun pak Unsur, maka beberapa hari kemudian di kebun pak Jamin. Bagi para agen lelesan adalah komoditas rebutan. Menjualnya juga mudah, tak perlu mengantar ke rumah agen. Cukup berdiri di depan rumah menunggu agen atau porter agen yang kerap berlalu-lalang di jalanan kampung. Pemilik lelesan cukup berteriak memanggil maka barang dan uang bertukar tuan secara kontan.

Tingginya persaingan membuat agen menjemput kopi ke kebun petani dengan bantuan porter. Mereka tak gentar menempuh medan meski dengan kemiringan 70 derajat dengan kreta (motor) bebek modifikasi. Harga mesin giling kopi yang tak terjangkau membuat masyarakat yang menjual kopi dalam bentuk gabah sangat sedikit. Para agen memanfaatkan keterbatasan petani dengan membeli kopi gelondong yang dapat mendongkrak keuntungan.

Jika di kawasan perkotaan kopi menggambarkan kesantaian dan kemalasan, masyarakat perkebunan memberi memberi makna yang membangkitkan gairah, kopi menjadi manifestasi semangat dan etos kerja.

Sukar menemukan warga di rumahnya pada pukul 08:00 WIB hingga tengah hari. Di hari libur resmi pun selain hari besar agama dimanfaatkan sebagai masa puncak bekerja. Anak-anak yang bersekolah di hari pun menjelma menjadi tenaga kerja tambahan di kebun.

Meski terkesan sepele, ngleles dapat mempertahankan gengsi kaum ibu pada arisan mingguan di hari Jumat, hari libur Arul Item. Arisannya beragam, dari selimut, barang pecah-belah, uang, kosmetik bermerek, sampai material bahan bangunan rumah.

Selain arisan dan libur kampung, Jumat menjadi hari yang semarak di Arul Item. Pedagang datang dari Jagong dan Takengon. Mereka berjualan kebutuhan dapur seperti sayuran, bumbu rempah, ikan, pakaian jadi, dan mainan anak tanpa pernah menanyakan asal dan cara memperoleh uang. Beratap terpal dan bertiang kayu seukuran lengan saja lapak mereka berniaga.

Keramaian berpusat di komplek sarana umum kampung Arul Item yang meliputi Kantor Desa, Balai Kampung, Mesjid Nurul Iman, SDN 15 Takengon, Desa dan Taman Kanak-Kanak Al-Mubaraq dan Balai Pengajian Putri Khairunas yang juga aktif setiap Jumat.

Sebagian warga Arul Item tak mau ketinggalan memanfaatkan hari pekan kampung untuk menuai laba. Mereka berjualan jajanan pasar seperti gorengan, bakso dan pecal. Para pembeli tak kalah antusias menunjukkan hasil kerja mereka selama seminggu lewat.

Setiap helai rupiah menjaga martabat sang tuan di hadapan barang sejangkau nilainya. Kaum ibu berbelanja sambil menunggu pengajian dimulai. Sebagian sibuk melayani rengekan anak yang menunjuk mainan dan jajanan yang mengusik perhatian. Dalam keramaian sumber uang tak pernah menjadi masalah. Besok sebagian dari mereka ini akan meleles di kebun kopi lagi.

Diyus Hanafi

Penulis biasa.

  • ceritanya cukup menarik.
    sayang,, diskripsinya kurang berimbang dengan bobot mutu kopi.
    masyarakat juga perlu diberikan pendidikan kualitas produk hasil perkebunan.
    kopi leles adalah salah satu perusak nama besar kopi gayo dipasaran internasional.
    mutu cita rasa dari hasil kutip lelesan sangat dihindari konsumen dunia karena berasa lapuk.
    perdagangan kopi di tingkat lokal sering rancu dengan keberadaan kopi lelesan.
    sebaiknya… tidak ada lagi aktifitas meleles kopi untuk konsumsi,
    berasa untung bagi sebagian namun apa jadinya rusak susu sebelangga….
    wallahu’alam bissawab.