Peleles Kopi di Kampung Arul Item (3)

Bagian 3 dari 4

Warna air di ‘alur’ (sungai kecil) itu berwarna hitam pekat. Semula para perintis lahan mengira air sungai berwarna hitam. Namun, setelah seorang di antara mereka memberanikan diri menyiduk air. Ternyata alur yang tampak hitam berair jernih. Warna hitam itu adalah ilusi optik yang timbul dari deviasi cahaya matahari di dasar air dengan batuan berlumut hitam. Sejak itu daerah baru tersebut dikenal dengan Arul Item yang berarti ‘alur hitam’.

Suhu sedang mengkondensasi udara dalam kamar di ketinggian 1.400 meter dari permukaan laut hingga bagian dalam atap seng berembun. Pagi masih berselubung halimun dan butir embun menggelayut di pucuk dedaunan kopi. Sebagian kaum lelaki masih niru (menghangatkan diri di sekitar seunggun api) di depan rumah, menghalau cengkraman hawa yang ganas membekukan sendi. Mereka berjongkok di sekeliling api berselimutkan kain sarung. Jam dinding mengiring mentari menunjuk waktu 07:30 WIB.

Berselubung fajar yang enggan memudar, kaum perempuan Arul Item telah beriringan menuju kebun kopi sasaran untuk ngleles. Bertudung penutup kepala dari sampiran kain sarung mereka menapakkan langkah di atas aspal hot mix, cipratan berkah masa rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh pascabencana tsunami 2004 lalu.

Di bahu mereka menggelantung kamplek, sebentuk kantung untuk mengumpulkan hasil kutipan atau lelesan. Selain berfungsi sebagai wadah penampung lelesan, kamplek juga menjadi wadah minuman dan bekal dengan lauk alakadar. Umumnya kamplek dibuat dari karung plastik bekas wadah beras, tepung atau gula pasir. Mereka menjahit dan menyesuaikan ukurannya dengan daya tampung dan kemampuan menyandang beban. Seutas tali menjadi pengikat, mendukung pergerakan di koridor yang terbentuk dari jajaran pepohonan kopi.

Pengutip atau peleles kopi mengikatkan kamplek di pinggang atau menyampirkannya di bahu. Bagian depan kamplek diarahkan lebih rendah. Fungsinya agar bagian mulut menganga otomatis agar waktu ngutip lebih efektif dan efisien. Mereka tak harus membuang waktu untuk membuka mulut kantung saat hendak memasukkan kopi. Mulut kamplek yang sama tinggi akan cenderung mengatup sehingga menghambat arus masuk biji kopi. Kamplek untuk mengutip memiliki kapasitas yang berbeda dengan kamplek untuk ngeleles. Kamplek pengutip biasanya berukuran tiga sampai sepuluh bambu, tergantung pada kemampuan si pengutip. Pasalnya, kopi gelondongan memiliki bobot yang lebih masif karena mengandung kadar air maksimum. Sementara, kamplek ngeleles berkapasitas tiga bambu.

Kopi Kampung Arul Item
© www.lintasgayo.com

Kaum ibu mendominasi para peleles. Seusai menyelesaikan pekerjaan rumah tangga atau mengurus kebun mereka meluangkan waktu dua hingga tiga jam setiap hari. Dalam tenggang waktu tersebut mereka dapat mengumpulkan dua hingga tiga bambu lelesan. Mereka berangkat ke kebun target di sekitar kampung bersama satu atau dua orang tetangga. Terkadang ada juga yang berangkat seorang diri. Tak jarang di antara mereka menggendong anak yang masih berusia balita.

Jika kebetulan berpapasan dengan pemilik kebun para peleles meminta izin sebagai formalitas dan pemenuhan syarat etik dan legal meski mereka telah terbiasa ngleles di kebun tersebut. Seperti yang dilakukan oleh Siti Aisyah (65 tahun) dan putrinya, Rukiyah (40 tahun). “Pak Linda… kami arep ngleles, yo…? (Pak Linda kami mau ngleles ya…?),” kata Siti kepada Ariadi, sang empun (pemilik) kebun yang juga menjabat sebagai sekretaris desa.

Sebutan Pak Linda disematkan karena putri sulung Ariadi bernama Linda, merujuk pada sistem peraman, tradisi masyarakat Gayo dalam memanggil orang yang sudah berkeluarga. Peraman mengacu pada nama atau jenis kelamin anak sulung. Jika Anda memiliki anak sulung lelaki bernama Jaka maka peraman Anda adalah Aman Jaka (ayah dari anak sulung bernama Jaka) atau Aman Win (ayah dari anak sulung lelaki). Namun, jika anak Anda berkelamin perempuan dengan nama Jeni maka peraman Anda adalah Aman Jeni atau Aman Ipak (ayah dari anak sulung perempuan). Masyarakat Jawa juga mengunakan sistem semacam peraman dengan mengganti kata Aman dengan bapak atau pak.

Setelah memperoleh jawaban monggo (silakan) dari pemilik kebun, mereka menyibak tiap rimbunan tajuk kopi dengan tekun, mengais dedaunan kopi yang rontok untuk mengumpulkan butir demi butir kopi di baliknya. Sesekali mendongak ke atas mengincar ke sarang bikinan bunglon. Sesekali Siti Aisyah mengucek mata dengan tangan kanan yang kelilipan serpihan kulit batang kopi, tangan kirinya bertengger di pinggang yang sudah melengkung tertaklukkan gravitasi.

Sekonyong terdengar pekikan Rukiyah. Kulitnya tersengat duri ulat yang dalam bahasa Gayo disebut ulat songot dan masyarakat Jawa menyebutnya atau uler srengenge (ulat mentari). Sengatan ulat jenis ini menimbulkan rasa panas dan gatal yang mengejutkan.

Sang ibu segera melumat tubuh ulat lalu mengoleskan cairannya pada kulit sang anak sambil tertawa menggoda. Tak perlu menunggu semenit efek sengatan duri songot reda. Mereka kembali menekuni rimbunan kopi yang berseling dengan pohon alpukat, jeruk manis, petai china, lemon, jambu klutuk, terong belanda dan andaliman, tanaman sela pelindung kopi.

Kemurahan hati pemilik kebun tak berhenti sampai di situ. Saat pulang peleles bisa membawa ‘oleh-oleh’ sayur dan buah seperti labu jipang, rukut (daun ranti), nenggri (markisa asam), koro dan labu tanah yang menjalar di tunggul sekitar kebun.

Beberapa warga lebih memilih peran sebagai ‘peleles murni’ karena pendapatan yang lebih tinggi dari buruh kutip. Label peleles murni menjadi manifestasi eufimisme bagi mereka yang hanya aktif menjadi buruh kutip pada musim banjir buah. Sementara di masa kering buah mereka lebih memilih menjadi peleles. Masalahnya produksi dan kutipan kopi berkurang. Pada fase inilah pemilik kebun dapat menilai loyalitas anggota kelompok pengutip. Mereka bekerja dengan durasi melampaui peleles lain.

Rubiem (49 tahun), termasuk golongan yang satu ini. Hasil lelesan Rubiem terbilang prestisius, lima bambu di masa paceklik. Ia menghiraukan sindiran para tetangga. Baginya upah buruh pemetik kopi tak cukup memuaskan. Ia berangkat pukul 07:30 WIB dan baru kembali ke rumah pukul 17:30 WIB.

Berbeda dengan mengutip, ngleles dilakukan dengan lebih teliti. Alasannya sederhana, semua hasil lelesan menjadi milik sang tuan. Peleles sedapat mungkin mengais daun kering, memeriksa bagian atas pangkal reranting kopi, membalik tumbangan batang kayu. Sementara ngutip sering melewatkan buah yang masih menempel pada tampuknya. Pengutip mengejar target mengisi kamplek dan bergerak dari satu pohon ke pohon lain secepat mungkin.

Ketelitian yang berlebihan di satu batang akan memperlambat gerakan dan meminimalisasi hasil kutipan. Belum lagi rimbunan daun yang pintar menyembunyikan buah kopi hingga berwarna merah hati.

Diyus Hanafi

Penulis biasa.