Peleles Kopi di Kampung Arul Item (2)

Bagian 2 dari 4

Aktivitas ngleles menimbulkan persoalan baru di kalangan pemilik kebun kopi yang sudah berproduksi. Pasalnya pendapatan ngleles lebih menjanjikan dibanding upah sebagai buruh kutip. Harga rata-rata ongkos kutip di Arul Item mencapai Rp 12.000 sampai Rp 15.000 per kaleng, satu kaleng sama dengan sepuluh bambu. Sementara agen membeli lelesan seharga Rp 23.000 hingga Rp 25.000 per bambu.

Rata-rata buruh pengutip kopi bisa memperoleh hasil tiga hingga empat kaleng per hari. Artinya, pendapatan maksimum seorang buruh kutip mencapai Rp 45.000 hingga Rp 60.000 per hari di musim kering buah (paceklik). Bandingkan dengan peleles yang mampu mengumpulkan sekurangnya dua bambu lelesan.

Perolehan lelesan dan kutipan mengalami peningkatan signifikan pada musim banjir buah (panen raya) yang berlangsung selama tiga hingga empat bulan. Perolehan lelesan bisa mencapai tiga sampai empat kali lipat. Jika di masa kering buah, yang juga berdurasi empat bulan, peleles hanya dapat mengumpulkan hasil maksimal dua hingga tiga bambu, maka pada masa banjir buah mereka bisa mengoleksi hingga sepuluh bambu atawa satu kaleng.

Tak lagi mengherankan jika peleles mampu memenuhi hasrat memenuhi keinginan membeli melalui uang tabungan lelesan. Mus Muliono (38 tahun), bahkan bisa membeli satu unit sepeda motor second hand dari hasil lelesan. “Cuma kutambah Rp 150.000 dari uang burung (uang hasil menjerat burung). Ada juga yang membeli tapak rumah (lahan kapling rumah), down payment dan cicilan kredit sepeda motor baru atau minimal cadangan kebutuhan beras harian cukup aman sepanjang masa muger.

Kasiani (30 tahun), bahkan bisa membeli perhiasan emas idamannya dari uang tabungan lelesan. Ia biasa ngeleles ditemani Siska (17 tahun), sang keponakan yang duduk di bangku kelas II SMA. Mereka berdua lebih leluasa ngleles karena beroperasi di kebun kopi milik keluarga dan kerabat.

Kopi Kampung Arul Item
© www.atjehpost.com

Pemilik kebun melakukan semacam kesepakatan, untuk meredaan polemik ngleles vis a vis pengutip, bahwa kebunnya hanya boleh dilelesi oleh anggota kelompok pengutip tetap sebagai bonus kesetiaan. Jika tidak, keterbatasan jumlah tenaga kerja buruh kutip di Arul Item akan bertambah parah karena orang akan lebih memilih ngleles ketimbang mengutip.

Sejatinya di kalangan masyarakat petani kopi, lelesan dapat dipandang sebagai sedekah. Bahkan tak akan terkesan lebay menyetarakannya dengan konsep CSR (corporate social resposibilities). Kepala Kampung Arul Item, Majidun (40 tahun), bahkan menganggap ngleles sebanding dengan simbiosis mutualisme. Menurutnya, peleles memperoleh penghasilan tambahan dengan mengumpulkan biji kopi yang menyebar di sekitar tanaman. Di lain sisi, pemilik kebun merasa beruntung karena jika ada yang melelesi kebun kopinya.

Pemilik kebun yang mengupah pengutip memiliki tanggapan berbeda tentang lelesan, sebagian tidak mengizinkan kebunnya dilelesi meski oleh para buruh kutip tetap. Alasannya sederhana, para pemilik ingin melelesi sendiri kebunnya. Namun Rusli (46 tahun) memiliki metode tersendiri untuk melegalkan peleles. ”Kalau aku, kutarok lelesan yang kudapat pas aku ngutip di samping kopi yang mau ditakar.” Ia beranggapan si pemilik kebun akan langsung melarang atau menegur jika tidak memberi izin.

“Biasanya kalau nggak dikasih dia bilang, anakku pun ngleles,” ujarnya di sela kepulan asap rokok kretek bergaris merah. Menurut pengalamannya, kebanyakan pemilik kebun tak keberatan karena menganggap lelesan sebagai uang saku anak buruh kutip yang turut ke kebun. Rusli memperlakukan lelesan sebagai tabungan di masa kering buah. Ia baru menjual lelesan setelah satu kaleng.

Pemilik kebun yang sudah mencapai masa puncak produksi biasanya bermurah hati dan tak pandang bulu dalam memperlakukan para peleles. “Kalau aku, kubiarin aja orang ngleles di kebunku, nggak mesti orang yang ikut rombongan ngutip di kebunku yang boleh ngleles” ujar Junarso (55 tahun).

Menurutnya, membiarkan orang meleles berarti mengurangi motivasi pencurian kopi. Selain itu Junarso memiliki pertimbangan lain, ia maklum dan yakin, ngleles menjadi pilihan bagi orang yang bertaraf ekonomi lemah. Biasanya tanaman kopi di kebun para peleles belum mencapai usia produktif. Rata-rata petani yang muger di Arul Item membutuhkan waktu 3-5 tahun untuk mencapai tahap mapan.

Rusneni (36 tahun) memiliki sikap lain. Sebagai buruh kutip tetap di tiga kebun berbeda ia merasa dongkol dengan peleles di luar ketentuan yang berlaku di Arul Item. Ibu dua putra yang akrab dipanggil Neni ini pernah melabrak warga dusun Kurnia Bakti yang tertangkap basah ngleles di kebun kutipannya. “Kita yang capek ngutip, masa’ dia yang enak-enakan ngleles,” katanya sambil membuka kudung di sela waktu istirahat memetik kopi. Menurutnya, para peleles di luar grup pengutipnya seperti sudah hafal jadwal kutipan. Mereka menghafal siklus ngutip kelompok Neni agar tidak terperogok.

Suhardi (31 Tahun), ayah dari dua putra yang juga Kepala Dusun Kurnia Bakti, memaparkan bahwa tak ada aturan tertulis mengenai pembolehan dan pelarangan siapa saja yang boleh meleles. Peraturan desa hanya menegaskan bahwa setiap orang yang meleles di sebuah kebun haruslah sepengetahuan dan seizin sang empunya. Tujuannya agar jika terjadi pencurian pemilik kebun dapat menanyakan kepada para peleles. Jika tak memberi izin, pemilik kebun biasanya menjelaskan bahwa kebunnya hanya boleh dilelesi oleh kelompok pengutip tetap. Namun, penolakan demikian tergolong langka.

“Dulu, pas pertama kali aku datang kemari tahun 2006 orang masih malu ngleles. Aku aja kalau ngleles sembunyi-sembunyi. Maksudnya kalau aku pergi ngleles nggak ada orang yang liat, kalau aku pulang juga nggak ada yang liat,” tutur Suyatman (39 tahun), Ketua Badan Permusyawaratan Kampung Arul Item mengenang masa perjuangannya untuk memiliki kebun.

Kopi Kampung Arul Item
© budimuloara.blogspot.com

Memasuki tahun akhir 2010 ngleles tak lagi dipandang sepele. Lonjakan harga kopi dalam rentang waktu setahun terakhir mendorong masyarakat dari luar Arul Item untuk datang ngleles. Mereka biasa datang berombongan dua-tiga kreta (sepeda motor) dari kampung-kampung sekitar Arul Item seperti Gemboyah, Jeget Ayu, Kute Keramil dan desa lain di sekitar Kecamatan Jagong Jeget.

Berada di luar keterikatan teritorial dan emosional dengan masyarakat Arul Item mendorong kenakalan peleles luar kampung. Mereka kerap mencuri kopi yang masih berada di batang, bahkan tak segan menggondol perlengkapan pertanian seperti cangkul, garuk, pupuk dan obat semprot di pondok kebun. Padahal pemilik kebun meninggalkannya agar tak sibuk bolak-balik memboyong peralatan dan perlengkapan mereka dari kebun ke rumah.

Aparatur Desa Arul Item memandang perlu membuat sebuah peraturan mengenai tata tertib memasuki kebun milik orang lain dalam aturan desa. Laporan keresahan warga kian masif. Banyak peleles yang dicurigai memetik buah yang masih bertengger di cabang. Bahkan buah yang masih hijau direnggut secara brutal dari tampuknya.

Berlandaskan desakan warga yang merasa resah karena penyimpangan perilaku peleles, aparatur desa merumuskan peraturan baru tentang cara mengakses kebun milik orang lain. Siapa pun yang memasuki kebun tanpa sepengetahuan dan izin pemiliknya akan ditangkap dan menghadapi persidangan warga desa. Persidanganlah yang memutuskan hukuman yang akan dijatuhkan. Meski tak mampu menekan angka peleles nakal hingga titik nadir setidaknya kebun kopi relatif aman atas bantuan peleles yang tertib. Mereka segera melapor pada pemilik jika terjadi pencurian.

Namun, seperti aturan lain di negara ini, regulasi dan tata tertib memasuki kebun orang tak cukup gesit menjerat peleles nakal. Sesekali pemilik kebun masih kecolongan karena mustahil mengawasi kebun selama 24 jam sehari. Peraturan telah berumur dua tahun tapi belum pernah ada kasus yang pernah disidangkan. Dari dua kasus yang pernah mencuat, pemilik kebun sendiri yang menjatuhkan vonis berupa denda. Bukan berwujud uang, empunya kebun menjatuhkan penalti berupa kerja tanpa upah selama satu minggu.

Kebanyakan peleles berasal dari masyarakat petani kopi yang sedang muger sebagai pendapatan harian sembari menunggu kebun kopinya memberi hasil. Tak jarang pemilik kebun juga meleles untuk menambah kebutuhan kecil seperti lauk-pauk sehari-hari atau uang jajan anak. Pemilik kebun yang melelesi kebunnya sendiri biasanya menggunakan ember jika kebun berada di sekitar rumah. Sembari meleles mereka juga mengontrol kondisi tanaman kopi.

Golongan lain bukanlah pengecualian. Anak-anak dan remaja juga terlibat dalam perburuan lelesan. Seperti yang biasa dilakukan Azmi (14 tahun) dan Yanto (9 tahun). Mereka biasa ngleles di kebun milik Pak Unsur, Pak Jamin, Pak Sari, Pak Burhan dan kebun lain yang terletak di sekitar rumah mereka. Kedua anak dari keluarga berbeda tersebut ngleles untuk menambah uang jajan sekolah.

Tak jarang buruh kutip mengabaikan buah kopi yang letaknya di luar jangkauan meski sudah berusaha berjinjit dan melompat sambil berujar “Ah… udahlah, biar jadi lelesan saja…!” Meski mengemban tugas utama sebagai pemetik kopi, buruh kutip tak kalah kreatif menyikapi perbandingan upah kutipan dengan harga lelesan. Mereka biasanya membawa kamplek tambahan untuk memungut lelesan sembari memetik. Cara ini menjadikan seorang buruh kutip memperoleh sekurangnya satu bambu lelesan sebagai bonus sampingan selama memetik kopi.

Menurut Ngadinem (46 tahun), lelesan di pohon kopi bertajuk rimbun lebih banyak dibandingkan dengan pohon yang bertajuk jarang, tikus lebih senang karena banyak tempat untuk menyembunyikan biji kopi. Ngadinem sehari-hari bekerja sebagai buruh kutip yang bergabung bersama Neni dan tiga orang rekan lain.

Meski proses memanen menjadi lebih lambat, para pemilik kebun merasa maklum karena keterbatasan jumlah buruh pemetik kopi di kampung Arul Item. Penduduk Arul Item berjumlah 152 kk (kepala keluarga) dengan lahan perkebunan kopi lebih dari 300 hektar. Setiap keluarga memiliki sekurangnya satu hektar kebun kopi. Setiap hektar kebun kopi baru selesai dikutip oleh tiga sampai lima orang selama dua hingga tiga hari. Masa pemetikan buah mengikuti siklus pematangan kopi yang berlangsung sekali dalam 15 hari.

Kebun kopi di tepi jalan lintas utama kampung Arul Item kebanyakan dimiliki oleh warga Isaq, ibukota kecamatan Linge. Selain kesatuan wilayah administratif Arul Item masuk dalam wilayah persekutuan adat kemukiman Linge.

Sebagian kebun kopi di Kampung Arul Item yang dimiliki warga kampung lain yang biasanya dikelola oleh masyarakat kampung dengan sistem bagi hasil. Kondisi ini meningkatkan nilai tawar buruh kutip meski tak lantas berbanding lurus dengan upah. Tetapi, paling tidak mereka memperoleh fasilitas tambahan berupa makanan ringan, minuman (kopi atau teh) dan makan siang. Biasanya mereka harus mbontot (membawa bekal) dari rumah.

Diyus Hanafi

Penulis biasa.