Peleles Kopi di Kampung Arul Item (1)

Bagian 1 dari 4

Kebanggaan atas pengembaraan kafein Anda mungkin akan mengalami penambahan warna saat mengenal lebih dekat produksi kopi di sini. Di hamparan lahan perkebunan kopi Kampung Arul Item, Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah. Proses pengolahan kopi dari pengupasan gelondong (buah kopi yang masih berkulit), pencucian, penjemuran gabah (kopi berkulit ari), pengupasan kulit ari, penjemuran beras (biji kopi yang sudah dikupas kulit arinya), penggongsengan, penggilingan bubuk hingga peracikan oleh para barista.

Arul Item, sebuah kampung penghasil kopi seperti galibnya kampung lain di tanah kelahiran Datu Beru. Letaknya nyaris berada di titik tengah antara Isaq (ibu kota kecamatan Linge) dan Jagong (ibukota kecamatan Jagong Jeget). Dari sini wawasan tentang kualifikasi kopi bertambah selain kopi biasa, kopi luwak atau white coffee (kopi yang mengalami sentuhan teknologi pengeringan cold drying). Masyarakat yang terlibat dalam struktur produksi dan distribusi kopi yang melibatkan petani, buruh kutip, hingga agen pengumpul mengenal istilah ‘kopi leles’ atau lelesan.

Apakah terdengar akrab dengan Jawa? Ya… Anda benar! Leles yang satu ini memang berasal dari terminologi bahasa Jawa yang berarti mengutip sesuatu yang tercecer. Di tanah Gayo Anda akan menemukan orang Gayo berbahasa Jawa atau sebaliknya sebagai wujud rasa saling menghargai.

Asimilasi masyarakat suku Jawa dengan Gayo di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah sudah berlangsung selama puluhan tahun. Tepatnya sejak era kolonial Belanda dimana mereka didatangkan sebagai kuli kontrak perkebunan kopi. Sisanya menyusul pada masa transmigrasi sejak tahun 1951 hingga era ‘80-an. Tak mengherankan sebagian terminologi Jawa digunakan dalam bahasa sehari-hari masyarakat Gayo, termasuk ‘leles’.

Kopi Kampung Arul Item
© ekonomi.kompasiana.com

Kopi leles menjadi istilah umum untuk biji kopi yang terjatuh dari batang karena dimakan oleh tikus, bunglon, luruh karena terlalu tua atau lolos dari amatan para buruh kutip. Tikus dan bunglon tak lantas dianggap sebagai hama. Hewan pengerat dan melata ini hanya mencecap cairan manis di antara kulit buah sampai kulit ari kopi. Jadi, biji kopi masih tersisa dan tetap memiliki nilai ekonomi.

Biasanya tikus dan bunglon membuang biji kopi sisa kudapannya di bawah naungan tajuk. Bunglon membuat sebentuk sarang khusus dari kumpulan daun kopi kering di pangkal cabang tertinggi untuk mengumpulkan biji kopi yang sudah terkelupas seluruh kulit buahnya. Terkadang tikus menyembunyikan biji kopi di bawah reruntuhan kayu, sisa tebangan pembukaan lahan yang dibiarkan melintang sembarangan oleh petani. Tumbuhan epifit pada tanaman kopi yang tak terawat juga menjadi tempat alternatif penyembunyian biji kopi oleh kerabat Pinky and the Brain ini.

Kopi leles berbeda dengan kopi luwak. Tikus dan bunglon tak menelan dan memfermentasi biji kopi di lambung. Selain itu, seekor luwak yang tak terlatih kecenderungannya tidak akan membuang kotoran di tempat yang sama jika ada orang yang mengambil kotoran bermuatan kopi pada periode buang air besar (BAB) sebelumnya. Sebagai bukti, Ariadi (42 tahun), menunjukkan sebuah gundukan tanah di tengah tamas (belukar) di atasnya bertebaran biji kopi yang berkelompok. Ada tumpukan yang sudah berkecambah, bertunas dan berdaun empat berdasarkan jadwal BAB luwak. Sepintas gundukan tersebut lebih mirip bedeng semai benih tanaman kopi.

Lelaki yang juga menjabat Sekretaris Desa Arul Item itu menjelaskan, perbedaan ukuran dan umur tanaman di gundukan tersebut menandakan periode BAB musang yang lolos dari pemburu kopi luwak. Sebab itulah, meski di kawasan lain harga kopi luwak melambung, di Arul Item luwak justru dianggap hama. Nasib mereka tersingkir karena mengalami pembasmian sistemik oleh para petani. Biasanya mereka meracun, menjerat dan memburu luwak. Walhasil, di Arul Item lelesan dan kopi luwak digabungkan. Para agen merasa enggan menerima kopi luwak, karena sering tertipu oleh penjual kopi luwak palsu.

Kopi Kampung Arul Item
© www.atjehpost.com

Ternyata eh… ternyata, para agen kopi yang beroperasi di Aceh Tengah dan Bener Meriah menerima kopi leles sebagai penambah kuota setoran ke agen pengumpul atau penambal kerugian akibat fluktuasi harga. Caranya sederhana, kopi leles dicampur dengan kopi biasa. Harga kopi lelesan berselisih Rp 2.000 lebih rendah dari harga kopi standar. Jika harga gabah kopi Rp 25.000 maka harga kopi lelesan Rp 23.000 per bambu.

Menurut Sugino (37 tahun), agen kopi yang berdomisili dan beroperasi di Arul Item, selisih harga beli lelesan dengan kualitas standar cukup signifikan jika terjadi fluktuasi harga atau kekurangan kuota. Persaingan kian sengit karena di Kampung Arul Item menjadi kancah perebutan sembilan orang agen dengan luas lahan perkebunan kopi mencapai 300hektar lebih.

Namun, ada juga agen yang menyetorkan kopi leles ke agen pengumpul tetap dengan status lelesan untuk menjaga mutu dan mempertahankan kepercayaan agen pengumpul. “Sekali-dua kali okelah orang tidak tahu, tapi lama kelamaan orang pasti curiga kalau barang yang kita setor kurang bagus…,” ujar Samsul Bahri (31 tahun), seorang agen kopi di Kampung Arul Item lainnya.

Samsul menambahkan penjelasan, kopi leles berisiko memiliki kualitas rendah karena sebagian peleles sering mengikutkan biji kopi yang sudah berkecambah dengan lelesan berkualitas baik. Proses perkecambahan kopi yang sudah lebih dari 3 cm mengakibatkan bagian inti biji kopi pecah karena berubah menjadi bakal daun.

“Kalau tumbuhnya masih segini okelah…, tapi kalau sudah kelewat panjang ‘kan udah pecah biji,” ujarnya sambil memperagakan panjang akar dengan satu setengah ruas jari telunjuknya. Padahal, jika peleles beritikad baik mereka cukup memencet biji kopi yang sudah bertunas. Jika terasa lunak berarti bakal daun sudah terbentuk, sementara biji bertunas yang masih keras masih cukup layak dikumpulkan.

Layaknya komoditas primadona yang sedang naik daun, kopi lelesan tak luput dari ‘kreativitas’ para pengoplos. Peleles nakal memetik buah kopi yang masih hijau lalu merebusnya untuk mempermudah pengupasan. Mereka lantas mengoplosnya dengan lelesan biasa. Tindakan semacam ini turut menurunkan mutu kopi yang sering menjadi alasan fluktuasi harga di kalangan agen.

Kopi leles boleh saja menempati kasta bawah di kalangan petani dan agen. Namun, di kalangan distributor dan eksportir tak ada lagi kualifikasi lelesan karena pada level tersebut bagian kulit ari telah dibuang menyisakan inti biji. Artinya lelesan juga berpotensi menyandang predikat kualitas ekspor jika lolos proses ‘depe’ (pemilihan kopi secara manual di tahap akhir dengan tenaga manusia). Bahkan kualitasnya bisa mendepak gabah kopi standar yang terdegradasi dalam proses depe.

Diyus Hanafi

Penulis biasa.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405