Pasar Buku yang Setia dalam Kesepian

Pasar Buku Velodrom
Pasar Buku Velodrom | © Ozik Ole-olang

Selama kurun waktu dua tahun keberadaan saya di kota Malang sebagai mahasiswa, saya baru tahu sebuah pasar buku di kota itu selain pasar buku Wilis. Setelah dipikir-pikir kembali rasanya sia-sia dan percuma. Sebab, tak lengkap rasanya hidup di kota pendidikan itu jika tak tahu tempat berburu buku yang bagus.

Biasanya, rujukan tempat untuk membeli buku yang banyak dikenal teman-teman mahasiswa adalah pasar buku Wilis. Mereka banyak membeli buku-buku kuliah di sana. Selain di Wilis, ada pula Toga Mas dan Gramedia yang masing-masing memiliki dua toko di tempat berbeda di Malang. Selain ketiga tempat itu, satu tempat lagi yang harus diketahui bagi para pelajar, adalah pasar buku Velodrom.

Cerita sederhana tentang pasar buku itu bermula saat salah satu teman asal Jember yang sedang kuliah di Jogja berkunjung ke Malang. Dia menanyakan tempat biasa untuk berburu buku-buku dengan harga yang murah dan pastinya bisa ditawar. Kebetulan, mengunjungi toko buku adalah kesukaan saya, walau hanya sekadar melihat-lihat.

Untungnya waktu itu saya sedang ada uang jajan lebih dan memang sedang ingin mencari buku puisi, kumpulan cerpen, atau buku-buku sastra semacamnya untuk menambah koleksi buku di kamar kontrakan. Namun, seketika timbul pikiran bahwa mencari buku sastra di kota Malang agaknya sangat sulit. Apalagi buku-buku terbitan lawas. Paling cuma buku terbitan baru yang dijual di Gramedia atau Toga Mas. Itu pun dengan harga tak begitu bersahabat.

Akhirnya saya putuskan untuk sebentar berselancar di dunia maya, mencari-cari informasi pasar buku selain di Wilis di Malang. Muncullah nama pasar buku Velodrom. Letaknya berada tepat di jalan Simpang Terusan Danau Sentani No. 3 wilayah Madyopuro, Sawojajar, kota Malang.

Tidak disangka, ternyata tempat toko buku itu sepi pengunjung. Velodrom berada di samping gedung yang hampir mirip stadion dan dikelilingi pohon-pohon besar. Gedung yang biasa dibuat latihan motor kros (Velodrom) itu terlihat usang, beberapa cat sudah banyak terkelupas. Lokasinya yang berada di kawasan hutan kota Malang terkesan tak terawat dan jauh dari jangkauan. Beberapa pedagang kaki lima berjejer di sebelah tempat masuk lokasi pasar. Jarak yang jauh dengan pusat lembaga pendidikan. Barangkali itulah yang membuat pasar sepi.

Tidak seperti di Wilis, pasar buku Velodrom agaknya kurang banyak diketahui oleh para pemuda, utamanya mahasiswa. Bahkan setelah saya kembali dari pasar itu, teman-teman saya yang sudah lama menjalani kuliah di Malang pun masih banyak yang belum tahu.

Namun ada beberapa nilai lebih yang bisa ditemukan di pasar buku Velodrom. Kios-kios tempat toko buku berjejer berbentuk seperti ruko yang berisikan rak-rak buku dan sejumlah buku yang dibiarkan bertumpukan tak berkategori. Ruangan tokonya berbentuk menjorok ke dalam dengan sederet buku dan lorong yang hanya pas untuk satu orang berjalan. Sangat berbeda dengan kios toko buku yang ada di Wilis (begitulah biasanya orang menyebut pasar buku Wilis dengan hanya menyebut nama tempat), di pasar buku Velodrom pembeli dapat dengan sepuasnya mencari dan melihat-lihat koleksi buku yang ada. Ditambah lagi, para penjual di pasar buku Velodrom cenderung membiarkan pembeli untuk mengobrak-abrik setiap rak dan tidak kepo menanyai bila ada pembeli yang datang. Mereka hanya menunggu sampai ada pembeli yang memanggilnya untuk transaksi. Mereka menunggu sambil asyik ngobrol bersama penjual lainnya di depan jajaran toko mereka. Jadi, pembeli tidak akan merasa sungkan untuk lebih leluasa mengutak-atik isi rak.

Koleksi buku yang ada sangat di luar dugaan. Banyak buku-buku yang tidak saya temui di Wilis. Bahkan buku-buku yang ada kebanyakan buku klasik dan memang sudah langka untuk ditemui. Ketika itu banyak buku sastra terbitan lama yang saya temui, buku kumpulan cerpen A.S Laksana, buku Djenar Maesa ayu cetakan lama, dan banyak lagi sampai membuat bingung untuk menyeleksi mana yang harus dibeli.

Untuk harga, tidak jauh beda dengan pasar buku Wilis. Pembeli bisa menawar harga yang dipatok oleh penjual. Saya berhasil membawa tiga buku puisi dengan hanya memberi Rp 40 ribu. Harga yang bila dibawa ke Gramedia atau Toga Mas hanya akan mendapat satu buku puisi, itu pun kalau cukup. Tapi demi memperbanyak koleksi, harga segitu sudah bikin saya sangat lega.

Namun melihat pasar yang sepi pengunjung, rasanya kurang pas disebut pasar. Malah lebih seperti museum atau situs bersejarah yang sudah dilupakan orang. Saya hanya melihat enam pengunjung lain selain kami. Beberapa kios masih tutup, hampir berkesan seperti akan gulung tikar. Entahlah, apa karena kampus-kampus di Malang belum semuanya aktif atau memang seperti itulah suasana pasar buku Velodrom. Semakin menyentuh hati lagi ketika saya dan teman saya beranjak pulang, terlihat penjual yang tadi bukunya saya beli langsung menuju pedagang makanan dekat kios-kios buku dan sempat terdengar ucapan yang bila saya simpulkan sederhananya begini: bahwa si pedagang tadi baru sempat membeli makan setelah mendapat uang hasil transaksinya dengan saya. Kagum sekaligus iba melihat para pedagang buku yang masih tetap teguh berjualan di lokasi yang sangat tidak strategis: jauh dari tempat permukiman warga-warga, bahkan akses untuk menuju pasar buku Velodrom banyak ditemui persawahan, jejeran pepohonan, dan jauh dari jalan Raya.

Pada akhirnya saya pulang dengan sesuatu yang janggal. Sebab masih banyak sederet judul-judul buku yang tadi sempat terlihat namun masih belum bisa dibawa pulang. Semoga pasar buku Velodrom tetap teguh sampai saya mendapat buku-buku yang saya mau. Atau bahkan selamanya saja sampai semua warga pada akhirnya mengetahui keberadaan pasar buku tersebut.

Ozik Ole-olang

Seorang Idealis yang kurang beruntung dalam asmara dan kuliah. Mukim di kota Malang.

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com