Para Bajingan yang Menyenangkan: Mengabadikan Sahabat Lewat Buku

Buku Para Bajingan yang Menyenangkan benar-benar berhasil mengocok perut dan membuat saya tertawa terbahak-bahak. Novel karya Puthut EA ini menceritakan tentang persahabatan enam anak muda yang kuliah di Yogyakarta. Kisah ini merupakan pengalaman pribadi Puthut bersama teman-temannya. Di mana komplotan mereka itu seringkali melakukan ritual judi dan mabuk-mabukan bersama.

Jackpot Society adalah nama kelompok mereka, yang merupakan hasil plesetan dari film Dead Poets Society. Jackpot Society sendiri beranggotakan enam orang: Puthut, sahabat Puthut (nama tidak disebutkan dalam buku), Bagor, Kunthet, Proton, dan Babe. Dalam novel ini, keenam personil itu masih berkuliah di Universitas Gajah Mada (UGM), dengan jurusan yang berbeda-beda.

Hobi judi yang paling mereka sukai adalah judi mesin dan judi bola. Tapi di sini Puthut tidak menceritakan tentang bagaimana cara jadi pejudi yang handal. Malah kebalikannya. Mereka selalu saja kalah berjudi. Namun hal itu tak melunturkan semangat para personil Jackpot Society. Mereka selalu konsisten dalam menjalankan judi. Bila kalah tetap senang, kalau menang tambah senang.

Di novel ini lumayan banyak juga penggunaan dialog berbahasa Jawa. Tapi kalau kalian bingung, tenang saja, di bagian akhir buku tersebut tersedia kamus bagi para pembaca agar mudah dimengerti. Karena banyak menggunakan bahasa Jawa, jadi nuansa keakraban merekapun semakin kental terasa. Puthut benar-benar menjaga kenangan yang terjadi pada mereka, bahkan dari segi bahasa sekalipun ia tak mau mengubahnya. Pokoknya kita seperti disihir ke lorong waktu dan masuk ke dunia mereka sekejap.

Di balik tingkah konyol dan kehidupan urakan mereka, sebenarnya mereka saling mempunyai jiwa persaudaraan yang sangat kuat. Sampai pada suatu malam, sahabat Puthut (yang tak disebutkan namanya) itu akhirnya meninggal dunia akibat kecelakaan. Padahal di hari yang sama Puthut masih sempat iseng untuk mengirim SMS padanya. Namun malahan kabar duka yang datang. Seketika Puthut menjadi lemas mendengar kabar itu. Akhirnya ia mengurung diri di kamar selama tiga hari sebab merasa terpukul atas kepergian sahabatnya.

Tapi kisah sedih itu hanya berangsur sesaat saja. Di lembar berikutnya tetap kembali berisi kekonyolan-kekonyolan lagi. Dalam novel ini, Puthut banyak sekali bercerita tentang kisah temannya yaitu Bagor. Bagor adalah mahasiswa D-3 Ekonomi UGM. Ia seorang aktivis yang berorganisasi di Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID). Ia juga merupakan orang yang sempat diburu oleh aparat akibat peristiwa 27 Juli di zaman Orde Baru.

Bagor ini ada-ada saja orangnya. Ia mempunyai karakter yang unik. Kadang ia membuat malu, lucu, dan kesal bagi teman-temannya. Seperti ketika Puthut mengajak teman-temannya untuk nonton bareng pertandingan sepakbola antara AS Roma vs Lazio. Padahal teman-temannya itu tidak menyukai sepakbola, tapi mereka mengikuti juga ajakan dari Puthut.

Sesampainya di warung indomie seberang Hotel Cakra Kembang Jalan Kaliurang merekapun akhirnya menonton pertandingan tersebut. Tiba-tiba saat itu Bagor nyeletuk, “Zidane main enggak, Bung?” Sontak, orang-orang yang ada di warung pun semua menengok ke arah Bagor. Tapi Bagor santai-santai saja, tanpa tahu apa kesalahan yang dilakukannya.

Pernah juga suatu ketika juga Bagor datang ke toko kaset dan menanyakan kaset group band Manchester United. Karena tidak terlalu mengetahui tentang olahraga, Bagor mengira Manchester United itu adalah sebuah band. Tentu ini yang membuat Puthut benci sekali saat melihat fans MU. Sebab yang terlintas di kepalanya adalah wajah Bagor ketika sedang bertanya di toko kaset itu.

Tapi nasib Bagor memang mujur. Setelah lulus dari UGM, ia kerja di salah satu perusahaan BUMN. Kemudian ia disekolahkan lagi oleh perusahaan tempatnya bekerja ke Boston, Amerika Serikat. Memang nasib orang tak pernah ada yang bisa mengira. Walaupun kehidupan muda Bagor terbilang kacau. Namun itu tak bisa memastikan bahwa masa depannya akan menjadi suram.

Komedi yang terdapat dalam novel ini benar-benar sangat menghibur. Terutama dalam dialog-dialog para tokoh. Komedi-komedi yang disajikan khas Mataram ini tak akan membuat pembacanya merasa jenuh atau bosan. Sebab para pembaca akan dibuat penasaran, tentang kekonyolan apalagi yang sudah mereka lakukan di halaman-halaman berikutnya. Oleh karena itu, saya sendiri menghabiskan buku ini hanya memakan waktu yang cukup singkat saja. Seperti yang saya bilang sebelumnya: kita seperti disihir!

Puthut tidak hanya sekedar mendeskripsikan kekonyolan mereka semata. Ia juga memberikan sedikit gambaran kepada para pembaca situasi pada tahun 90-an. Salah satunya, adalah saat masih dilarang keras untuk membaca buku-buku karya Tan Malaka, Pramoedya Ananta Toer, dll. Kalaupun ingin membaca buku tersebut harus dengan cara sembunyi-sembunyi serta mengubah sampul bukunya agar tidak diketahui. Sungguh ironi. Bagi anak muda sekarang mungkin bisa memetik pelajaran sedikit dari novel ini. Di mana saat ini, orang-orang bisa dengan mudahnya membaca buku Bumi Manusia atau Madilog di tempat umum serta bisa membelinya dengan gampang di toko buku terdekat.

Sesuai dengan judul buku tersebut. Mereka semua memang bajingan. Tapi bajingan yang banyak memberikan kesenangan. Mereka semua adalah bajingan yang saling memberikan warna tersendiri di Jackpot Society. Kekacauan masa muda yang indah. Kekacauan yang membuat mereka bisa menikmati hidup.

Bagi kalian yang mempunyai selera humor yang tinggi. Tentu tak akan menyesal setelah membaca buku ini. Dijamin kalian akan senyam-senyum sendiri dan akan segera divonis gila oleh orang sebelah kalian.

Karya Puthut yang satu ini memang sangat realistis. Selain banyak sisi humor, ia juga membuka mata pembaca. Bahwa persahabatan tidak selalu membuat moral menjadi baik. Persahabatan tidak selalu mengajarkan sesuatu yang bersifat positif. Persahabatan juga bukan sekedar bicara tentang untung-rugi. Tapi lebih dari itu, persahabatan adalah saling memiliki.

Pertemanan yang telah mereka jalin selama bertahun-tahun ini saya rasa begitu indah. Bagaimanapun, sahabat adalah keluarga kedua. Mereka juga salah satu faktor yang berperan dalam membentuk kepribadian seseorang. Saya rasa di sini Puthut telah berhasil mengenang sahabat-sahabatnya, yaitu dengan cara mengabadikannya lewat buku ini.

Buku Para Bajingan yang Menyenangkan
Buku Para Bajingan yang Menyenangkan | © Buku Mojok
Data BukuKeterangan
JudulPara Bajingan yang Menyenangkan
PenulisPuthut EA
PenyuntingPrima S. Wardhani
KategoriNovel
PenerbitBuku Mojok
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com