Pangkas Rambut Sahabat yang Melegenda

Saat usia masih belia dan semangat kuliah begitu bergelora perkara mengurusi penampilan adalah sesuatu yang pantang dilakukan mahasiswa Teknik. Saat itu adalah waktunya totalitas tanpa batas. Kemeja lusuh karena tak mampir meja setrika sudah biasa. Tak mandi dua tiga hari, apalagi. Jambangnya dibiarkan mengakar sampai keriting menggulung. Panjang rambut minimal sebahu, bahkan biasanya punggung ikut mencicipi.

Usaha mereka merawat diri bisa dibilang effortless. Menyisir rambut saja tak pernah. Pun pernah hanya sebatas akar tumbuhnya rambut sedang yang di bawah dibiarkan alami hampir gimbal serupa rambut Limbad. Bedanya mereka tak se-introvert Limbad yang membisu itu. Untungnya mereka masih bisa diajak berdiskusi, berpikir cakap, dan kebanyakan menawarkan masa depan yang cerah. Mungkin tiga faktor positif itulah yang dijadikan alasan para perempuan berparas cantik turut memburu mahasiswa Teknik untuk dijadikan suami.

Bahkan pernah kutanyai pacar dari seorang kawanku, tentang penampilan temanku yang urakan itu. “Memangnya mbak ndak terganggu dengan penampilan pacar sampeyan yang apa adanya? Belum lagi bau-bauan ndak sedap itu bakal muncul kalau pacarmu sudah ndak mandi berhari-hari?” Tapi nampaknya ia maklum, membalasku dengan senyuman legowo dan nerimo.

Selain karena kekuatan iman cinta, ternyata pacar kawanku itu diam-diam meyakini bahwa suatu hari nanti tiba masanya lakinya yang separuh busuk itu akan berbenah dan doyan berdandan. Kala itu aku hanya mengamini. Hingga suatu saat saat, kutemui satu persatu kawan-kawan lelakiku ini mulai membaik, mulai cantik-cantik. Jambang dan rambut mereka kian tertata. Pilihan perawatannya pun tak lagi dimampirkan pada tukang cukur bawah pohon Kersen atau pada sebuah pos jaga yang pada saat pagi hingga sore merangkap fungsi menjadi pangkas rambut sepuluh ribuan. Lebih selektif, maka Barbershop modern adalah pilihan bagi mereka.

Apalagi di kota yang kusinggahi ini, sudah dua tahun belakangan telah merebak Barbershop modern. Itu artinya dua tahun belakangan inilah fenomena lelaki teknik yang perkasa dan garang mulai menjelma parlente dan agak lenje.

Sebetulnya tak semua begitu jika soal urusan penampilan, khususnya perawatan soal mahkota kesayangan mereka. Namun ada juga seorang kawanku yang pada suatu sore mengajakku ke pangkas rambut langganannya. Disebutnya tempat pangkas rambut itu bukanlah Barbershop kekinian, sebab saat ayahnya masih bujangpun, tempat sekaligus barbermannya pun masihlah sama. Wah, melegenda pikirku.

Diberitahukan kepadaku lokasi pangkas rambut tersebut berada di jalan Basuki Rachmad 6C nomor 7 di kawasan pertokoan Kayutangan, yaitu kawasan pertokoan tertua di Kota Malang yang sempat menjadi pusat keramaian sekitar tahun 1960-1970-an. Tempatnya jelas tersaingi dengan kawasan pertokoan modern di titik-titik keramaian yang lain, sehingga kawasan inipun kini nampak sepi dan hanya beberapa toko saja yang masih bertahan, termasuk Pangkas Rambut Sahabat yang akan kudatangi sore itu.

Tampak depan Pangkas Rambut Sahabat
Tampak depan Pangkas Rambut Sahabat | © Indah Ciptaning Widi

Awalnya aku ragu memasuki bangunan kecil yang di depannya memiliki tanda Barber’s pole alias lampu dengan garis putih, merah dan biru yang muter-muter itu. Sebab rasanya kami datang kesorean, dan nampaknya juga hampir tutup. Sampai seorang pria berkemeja putih dengan rambut beruban yang tertata rapi dan klimis itupun keluar lalu mempersilakankan kami untuk masuk.

Ternyata di dalam memang tak ada lagi pelanggan, namun dua orang pria tua lainnya masih siaga dan menyambut hangat. Ah sebetulnya aku tak ingin menyebutnya pria tua, aku lebih suka menyebut mereka bertiga sebagai Opa, tapi tetap saja aku masih memanggil mereka “bapak”. Karena dua di antara mereka, pak Sujadi (64th) dan pak Nur (72th), seumuran dengan bapak dan pakdeku. Sedang satu yang paling sepuh yaitu pak Bakir (84th), seumuran dengan eyangku.

Pak Sujadi, Pak Bakir dan Pak Nur
Pak Sujadi, Pak Bakir dan Pak Nur | © Indah Ciptaning Widi

Dengan usia yang memang tak lagi muda, merekalah orang yang bakal diserahi kawanku kebanggaan untuk merapikan mahkotanya. Tak lagi ada diskusi panjang modelan pelanggan rewel yang tak percaya pada barbermannya. Cukup katakan mantra ajaib “dirapikan saja pak”, lalu salah satu dari mereka bertiga kemudian akan mengalungimu handuk putih yang wangi dan didudukkan pada salah satu dari sederet kursi lawas.

Kecakapan mereka tak perlulah dipertanyakan. Ya, karena mereka telah menjadi barberman di pangkas rambut Sahabat itu sudah 30 tahun lebih sejak berdirinya tempat tersebut di tahun 80-an. Perawatan yang ditawarkanpun tak hanya sekadar pangkas dan cuci rambut saja seperti kebanyakan salon atau barbershop pada umumnya, namun juga melayani creambath, cukur muka, semir rambut, bahkan semir kumis. Untuk potong rambut orang dewasa hanya dibandrol Rp 18.000 sedang untuk anak-anak seharga Rp 15.000. Dan untuk perawatan lainnya berkisar antara Rp 10.000-Rp 80.000. Walau namanya pangkas rambut, namun perawatan di dalamnya juga diperuntukkan untuk kaum hawa.

Pelanggan yang sedang dicukur rambutnya oleh pak Sujadi
Pelanggan yang sedang dicukur rambutnya oleh pak Sujadi | © Indah Ciptaning Widi
Pak Sujadi menujukkan perangkat cukur rambutnya
Pak Sujadi menujukkan perangkat cukur rambutnya | © Indah Ciptaning Widi

Pak Sujadi yang kala itu mengambil alih kepala kawanku, sesekali menunjukkan alat-alat pangkasnya kepadaku. Alat-alat cukur seperti gunting rambut, sisir, pisau cukur lipat sampai asahannya pun dipamerkan sambil berceloteh, “walau ini barang tua, tapi tajam sekali ini mbak”. Kupandangi wajah pak Sujadi yang berkumis tebal terawat itu nampak tak gentar dan tak main-main. Tapi hal itu tak bikinku tegang karena wajah garangnya, juga tak mengurangi kenyamananku saat menunggu di kursi tunggu yang alas dan sandarannya terbuat dari jalinan karet.. Aku tetap rileks sambil mengamati interior bangunan serta perabot yang seluruhnya lawas.

Kuamati masing-masingnya seperti kursi, meja, jam dinding, televisi, kipas angin, lukisan, dan lampunya, seakan umur barang-barang itu jauh lebih tua dariku. Dan kuyakin perabot-perabot itulah yang menjadi saksi bisu akan kepiawaian serta dedikasi besar terhadap profesi beliau-beliau tersebut sebagai barberman.

Model kursi pangkas rambut lawas
Model kursi pangkas rambut lawas | © Indah Ciptaning Widi
Interior yang dilengkapi dengan perabot lawas
Interior yang dilengkapi dengan perabot lawas | © Indah Ciptaning Widi
Interior yang dilengkapi dengan perabot lawas
Interior yang dilengkapi dengan perabot lawas | © Indah Ciptaning Widi

Setelah rambut kawanku selesai digarap, kukira sesi perawatan telah selesai. Namun pak Sujadi beranjak untuk mengambil sepotong handuk hangat dan wangi yang kemudian disampirkan di atas bahu kawanku sambil sesekali dipijat lehernya perlahan. Nampak kuperhatikan wajah kawanku lewat cermin besar yang terhampar di depannya, ia begitu menikmati pijatannya sambil merem melek.

Setelah sesi itu, perawatanpun telah komplit. Kawanku tampil cukup memesona. Potongan rambutnya yang lebih rapi ternyata mampu menjadikannya sosok mahasiswa teknik yang agak sopan dan tak berandal.

Selagi kawanku membayar di meja kasir, pak Bakir pria yang usianya paling sepuh mendekatiku dan mengimbuhiku dengan sedikit cerita. Dengan wajah yang penuh dengan kerutan namun masih tergurat kesegaran di binar matanya, ia bercerita bahwa mereka sudah punya banyak pelanggan tetap yang usianya juga tak kalah tuanya dari mereka. Datang setiap dua minggu sekali. Bahkan kalau dirasa rambutnya masih belum butuh untuk dicukur, pelanggan-pelanggan itu juga pasti mampir sekadar bercengkrama dan barangkali mengisahkan masa tuanya untuk saling dibagi. Mendengar ceritanya, hati terasa diguyur air es. Seakan memang masa tuanya tak lah susah dan dinikmatinya dengan penuh nikmat bahagia.

Akhirnya kami berduapun berpamitan kepada mereka sebagai pelanggan terakhir yang menutup harinya sore itu. Sempat muncul perasaan tak enak karena belia-beliau menunda kepulangannya demi pelanggan yang datang kesorean. Tapi sempat ditangkisnya ketidakenakan tersebut, karena ternyata selama ini mereka bertiga tinggal di dalam ruko tersebut, tepatnya di lantai dua.

Ternyata barberman bukan hanya sekadar profesi bagi beliau-beliau itu. Tapi jauh di dalamnya ada sebuah persahabatan, persaudaraan, kekeluargaan juga sebuah rumah pada bangunan tua yang kebetulan dinamai Pangkas Rambut Sahabat.

Indah Ciptaning Widi

Menulis, melamun dan mencinta dalam sekali waktu.