Pameran Aksara dan Peristiwa dalam Gambar

Suasana Pameran. Photo by Tuti Alwiyah
Suasana Pameran. | © Tuti Alwiyah

Tulisan ini tidak ditujukan untuk mengulas film, saya yakin sudah ada yang mengulasnya dengan cara paling baik. Saya hanya akan bercerita sedikit tentang pengalaman apa yang saya dapat setelah menonton film ini. Kalian bisa melacak sendiri gambar-gambar dan video yang tersedia di internet, tentang bagaimana kondisi perang saat itu. Di masa-masa kekacauan tersebut ternyata masih ada manusia yang peduli, khususnya seniman pada karya seni, bertaruh jiwa dan tenaga untuk sebuah karya yang bisa saja tidak sebanding dengan apa yang dipertaruhkan, atau bahkan secara ekonomis.

Film tersebut adalah The Monuments Men. Film yang ditulis dan diproduksi oleh George Clooney dan Grant Heslov, pada tahun 2014. Film ini bercerita tujuh orang seniman yang direkrut menjadi tentara dengan tugas untuk mencari dan menyelamatkan karya seni, dan barang-barang budaya penting lainnya sebelum Tentara SS menghancurkan atau mencurinya, di akhir perang dunia II. Film ini juga berdasar pada buku non-fiksi berjudul The Monuments Men: “Allied Heroes, Nazi Thieves and the Greatest Treasure Hunt in History” karya Robert M. Edsel dan Bret Witter.

Seniman di kelompok ini adalah kelompok Sekutu yang berasal dari program monumen, seni murni, dan arsip. Di akhir cerita semua karya seni yang berhasil ditemukan dan diselamatkan dikembalikan kembali pada tempat semula dimana karya-karya tersebut sempat dicuri.

Dalam misi yang tidak mudah dan tidak pernah di desain akan berhasil itu, dua diantara tujuh anggota kelompok penyelamat karya seni itu meninggal dunia tertembak saat bertugas.

Sekarang pertanyaannya adalah: “Apakah menjaga, menyelamatkan, menghormati karya seni harus dengan syarat karya itu mempunyai nilai-nilai yang sebanding dengan tindakan kita padanya?”

Bukankah dari karya apapun kita bisa mengetahui bagaimana lanskap sosial yang dicirikan oleh kehadiran karya tersebut?

Saya nukilkan dialog Letnan Frank Stokes yang menurut saya menarik dan menggugah kesadaran; “Demi kebudayaan kita dan demi pandangan hidup, kalian bisa menghabisi generasi manusia…tapi jika kau musnahkan hasil karya dan sejarah mereka, maka seolah mereka tak pernah ada, seperti abu berterbangan…”

* * *

Karya Karikatur. Photo by Rizki Indriyani R
Karya Karikatur. | © Rizki Indriyani R
Karya Sketsa. Photo by Rizky Indriyani R
Karya Sketsa. | © Rizky Indriyani R

Saya bukan seniman, bukan pula orang yang mengerti benar pada seni, mungkin hanya penikmat karya seni, itu pun bahkan sering gagal menangkap makna yang melekat pada karya seni yang saya jumpai. Pada akhir bulan Februari 2017 kemarin, untuk pertama kalinya saya terlibat dalam penyelenggaraan pameran tulisan dan seni rupa sebagai pelaksana acara, sebuah hal yang mengejutkan ketika diberi kepercayaan memimpin pelaksanaan acara, tugas yang aneh buat saya yang tanpa pengetahuan mumpuni terhadap seni. Resiko untuk ditertawakan —oleh mereka yang sering berkontribusi dalam acara pameran seni rupa atau mereka para penyaksi pameran kelas wahid— lebih besar, karena saya tergolong awam.

Resiko itu, saya dan rekan-rekan yang lain pun berani mengambilnya, mencoba untuk bersikap masa bodoh pada penilaian dari luar. Adalah obat paling mujarab bagi kami ketika itu. Kami meyakini hal demikian, karena yang menghinggapi kami adalah sebentuk kewajaran, ganjaran bagi yang awam. Akan tetapi yang lebih penting pada saat itu tujuan dari terselenggaranya acara tetap sama dengan mereka yang cakap; mengapresiasi karya-karya dari para seniman muda. Ini bukan usaha mengindahkan laku hidup berkesenian yang pas-pasan tentunya.

Pameran seni rupa yang coba kami selenggarakan adalah pameran kelas kampung yang hanya dengan modal kenekatan. Acara pameran ini menampilkan karya tulis dan seni rupa, kami beri judul “Aksara dan Peristiwa dalam Gambar”. Acara pameran dibuka dari tanggal 26 Februari sampai dengan tanggal 2 Maret 2017 berlokasi di gedung serba guna Desa Sukamaju, Cibingbin, Kuningan, Jawa Barat. Siapapun bisa mengaksesnya dengan gratis, agar seni bisa dinikmati oleh semua kalangan. Saat ini pameran-pameran “kebanyakan” hanya sering diadakan di tempat-tempat mewah dan butuh biaya yang lumayan besar ketika ingin menyaksikannya, sudah tentu hanya mereka yang mapan belaka yang bisa berada di sana.

Karya-karya yang dipamerkan adalah dari para amatir. Amatir yang saya maksud adalah mereka yang masih mencoba memperkenalkan dirinya dan sejumlah karyanya. Ada sembilan orang seniman lokal, yaitu Yusfi Yuhdina, Asep Deny, Galih Gurita, Jasim, Endang Rosid, Suci Apsaripeb, Nadia Lutviah, Ofa Mohammad Mukofa, dan beberapa siswa sekolah dasar sampai sekolah lanjutan tingkat atas yang ikut menggelar karyanya. Mereka yang mempunyai karya-karya hebat namun belum berkesempatan diapresiasi, belum banyak dikenal di kalangan seniman itu sendiri dan para penikmat seni. Pameran yang sering diselenggarakan hanya memberi kesempatan pada mereka yang memiliki nama besar atau profesional, mungkin tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya juga salah.

Yusfi Yuhdina dan karya lukisnya. Photo by Yusfi Yuhdina
Yusfi Yuhdina dan karya lukisnya. | © Yusfi Yuhdina

Kami memakai fasilitas desa, gedung serba guna yang beruntung bisa kami pinjam selama kebutuhan acara berlangsung. Saat persiapan dan pelaksanaan acara pun, kami tidak dimintai biaya sewa sama sekali. Namun, bukan berarti ketika itu kami tidak dibebani soal pembiayaan. Kebutuhan pembiayaan peralatan dan lain-lainnya yang lumayan besar. Sampai menjelang waktu persiapan pameran makin mendekat, kami belum mendapatkan suntikan dana dari mana pun setelah sebelumnya proposal kegiatan coba kami ajukan kepada beberapa lembaga.

Menjelang satu hari sebelum pembukaan, kami tidak menemukan titik terang soal pembiayaan, tetapi beruntungnya selalu ada obat bagi kami dalam menghadapinya. Saya sebutkan di atas tadi, soal “kenekatan”. Nekat meminjam uang dari beberapa rekan yang mempunyai keuangan yang baik nan berlebih, tidak dengan memakai jaminan apapun pula.

Bagi saya, acara sederhana semacam ini justru akan membantu karya-karya seni banyak tampil di ruang publik. Tidak hanya untuk mereka masyarakat kota, tapi untuk kami juga yang hidup di desa bisa menyaksikan bentuk keindahan rupa, pemaknaan atas hidup dalam bentuk yang sekalipun asing, karena galeri seni terlalu jauh dan lebih asing untuk dikunjungi dan karena memang di tingkat kabupaten kami sekalipun belum ada yang namanya galeri seni.

Saya yakin ada banyak bentuk usaha untuk mengapresiasi karya seni, menghargai bahkan —kalau tidak berlebihan— saya sebut sebagai usaha menyelamatkan. Menyelamatkan karya seni dari keterancaman tidak bisa diakses oleh publik sama sekali, dengan tidak membiarkan karya itu tergeletak di pojok ruangan para kreatornya. Adalah tugas bagi kita, bagi siapa saja, yang bukan karena kita seorang seniman, mahasiswa seni, dan penikmat seni saja yang berkewajiban melakukannya. Semua orang tanpa kategori tertentu bisa melakukan apa saja untuk mencegah karya seni itu menguap.

Bagus Sentanu

Pembaca jenis buku apa saja dan menulis sebisanya.