Pak Gamul, Petani Kopi Penjaga Hutan

Pak Gamul, sebelah kiri, bersama Pak Wahyu. Keduanya merupakan petani relawan jagawana di lereng Pegunungan Argopuro.
Pak Gamul, sebelah kiri, bersama Pak Wahyu. Keduanya merupakan petani relawan jagawana di lereng Pegunungan Argopuro. | © Fawaz

Pak Gamul sedang meninjau ketinggian air di Desa Suci, Kecamatan Panti, Jember. Informasi yang diperolehnya itu nantinya akan disampaikan kepada warga di daerahnya yang sedang was-was dengan derasnya arus sungai dari Pegunungan Argopuro. Namun banjir bandang susulan dengan volume yang lebih besar kembali datang. Ia bergegas berlari, mencari lokasi aman untuk menyelamatkan diri. Menurutnya, telat sedikit saja ia akan hanyut terbawa arus banjir bandang. Peristiwa itu terjadi pada awal tahun 2006.

Saat banjir bandang merusak sebagian besar desa tempat ia berasal, Pak Gamul baru 5 tahun kembali menetap di Desa Kemiri, Kecamatan Panti. Sebelumnya, sejak tahun 1989, ia merantau meninggalkan desa. Sempat bekerja di Tembagapura sebagai pegawai PT. Freeport namun hanya bertahan selama sebulan saja. Selanjutnya ia sempat merantau ke Jakarta hingga akhirnya menetap lama di Surabaya dengan bekerja sebagai sopir pribadi Kepala Dinas Perkebunan Pemprov Jawa Timur. Lalu lintas kota Surabaya yang semakin padat menjadi alasan utama mengapa ia memutuskan kembali ke desa.

Pak Gamul menerima kunjungan tim Ekspedisi Kopi Miko di kediamannya selepas magrib, 13 Agustus 2016. Sebenarnya siang hari kami sudah tiba di rumah Pak Gamul, namun kami terlambat, ia sudah berangkat ke kebun. Sembari menunggu Pak Gamul kembali dari kebun, kami mengunjungi kebun-kebun kopi di wilayah Kecamatan Panti.

Terlahir dengan nama Mulyono, Pak Gamul kini berusia 53 tahun. Ia tidak tahu pasti kapan mulai disapa dengan sapaan Gamul, menurutnya nama itu lebih populer di desanya, “Kalau kalian cari alamat rumah saya dan tanyanya rumah Pak Mulyono, nggak ada yang tahu di sini. Tapi kalau tanyanya rumah Pak Gamul, semua warga desa tahu.”

Setelah bekerja serabutan dan membantu Perhutani sebagai Relawan Jagawana (Regana), Pak Gamul memutuskan memulai berkebun kopi. Pak Gamul bertani kopi di lahan milik Perhutani. Ia mendapatkan lahan tersebut dengan membayar ganti rugi pohon kepada pemilik pohon lama.

Setelah banjir bandang di 2006, Perhutani memutuskan untuk melarang membuka lahan perkebunan baru di lereng selatan Pegunungan Argopuro yang masuk wilayah Kecamatan Panti. Sehingga satu-satunya cara untuk bisa bertani kopi di lahan milik Perhutani adalah dengan mencari orang yang bersedia kebunnya diambilalih dengan membayar ganti rugi pohon.

Kebun kopi Pak Gamul terletak di wilayah Kali Putih, Kecamatan Panti, Jember. Menempati lereng selatan Gunung Argopuro, kebun berada pada ketinggian 800 mdpl. Waktu tempuh dari kediaman Pak Gamul di Dusun Gaplek menuju kebun miliknya sekitar 1 jam perjalanan menggunakan sepeda motor. Di kebun miliknya, ia menanam 3.000 pohon kopi jenis robusta dan 3000 pohon kopi jenis arabica. Separonya sudah menghasilkan buah kopi sejak 2 tahun lalu.

Rencananya, karena kondisi tanah dan ketinggian yang mencukupi, pelan-pelan ia akan mengganti pohon kopi robusta di kebunnya dengan pohon kopi jenis arabica. Menurutnya, kopi jenis arabica lebih menguntungkan meskipun membutuhkan perawatan yang lebih intensif dibanding pohon kopi robusta.

Kopi robusta di Perkebunan Kopi
Kopi robusta di Perkebunan Kopi | © Fawaz

Pak Gamul baru selesai memanen kopi arabica, ia tinggal menunggu panen kopi robusta. Karena menanam kopi di lahan milik Perhutani, Pak Gamul harus membayar cukai hasil panen kepada pihak Perhutani. Besar cukai yang harus ia bayar tidak pasti, tergantung hasil panen. Saat panen terakhir, ia membayar cukai sebanyak 50 kilogram biji kopi kering.

Setelah memutuskan menjadi petani kopi di pada 2009, Pak Gamul tidak meninggalkan profesi sebagai relawan jagawana, ia tetap menjalani keseharian membantu pihak Perhutani menjaga hutan yang tersisa. Banjir bandang besar yang melanda Kecamatan Panti dan sekitarnya sempat menyudutkan para petani kopi di Kecamatan Panti. Padahal menurutnya, para penebang liar yang marak beroperasi selepas Reformasi yang menjadi penyebab utama kerusakan hutan.

Merasa tertantang untuk membuktikan, Pak Gamul mengajak kelompok tani Surya Tani yang dipimpinnya untuk terlibat aktif dalam menjaga hutan di sekitar kebun mereka. Selain itu, ia juga mengajak 3 kelompok tani dari desa lain yang juga menanam kopi di lahan milik Perhutani melakukan hal serupa. Dengan membentuk Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) yang terdiri dari 4 kelompok tani, bersama-sama mereka menjaga hutan sembari tetap menanam kopi.

“Kalau orang seperti kami, Dik. Akan selalu menjaga hutan. Bahkan nyawa yang jadi taruhan,” katanya.

Mereka menanam pohon kayu keras di sela tanaman kopi. Selain berfungsi untuk menaungi kopi, pohon kayu keras bermanfaat untuk menguatkan struktur tanah agar mampu menahan air dan terhindar dari ancaman longsor. Gabungan kelompok tani ini juga mulai bertani organik, pelan-pelan mengganti pupuk kimia dengan pupuk organik.

Gapoktan yang dibentuk Pak Gamul dan beberapa petani lainnya kini sudah memiliki mesin pengolahan biji kopi di dua tempat yang berbeda. Selanjutnya, Gapoktan ini sedang berusaha agar kopi arabica yang dihasilkan di perkebunan kopi di Kecamatan Panti bisa dikenal di luar, memiliki label yang khas untuk mengenalkan wilayah mereka sebagai salah satu penghasil kopi arabica.

Malam semakin larut, tim Ekspedisi Kopi Miko harus menyudahi obrolan menarik bersama Pak Gamul. Kami pamit pulang, istirahat agar badan tetap bugar karena perjalanan Tim Ekspedisi Miko masih panjang. Ini baru hari kedua, masih ada 12 hari lagi yang harus kami lalui.

Ekspedisi Kopi Miko

Fawaz

Volunteer Sokola Rimba