Ong dan Tiga Cangkir Kopi

Joyo Semoyo
Ong dan “wakul glimpang” salah satu karya yang hendak dipamerkan dalam Joyo Semoyo. © Eko Susanto

Di teras rumahnya, di Kampung Nitiprayan, Yogyakarta, Ong Hari Wahyu duduk di sebuah dengklek. Di sekitarnya berserakan 17 kuas dengan berbagai ukuran, kain lap, dan bermacam warna cat.

Tangan kirinya memegang papan dengan gambar empat orang prajurit memegang bayonet, di bawahnya terdapat macan yang berbaring. Tak seperti biasanya, kali ini ia mengenakan kacamata. Ia berkonsentrasi, sampai-sampai baru tersadar akan kehadiran saya setelah berada tak jauh darinya.

Di beranda yang terbuka itu lantai rumah berbahan tegel itu telah bersih. Genangan air tak tampak, padahal semalam hujan menguyur deras dan di pagi hari gerimis masih datang. Di salah satu dudut sebuah alat pel tergeletak, dan masih merembeskan air.

Di meja, yang letaknya tak jauh darinya, terhidang secangkir kopi, sebungkus rokok, dan beberapa jenis jajanan pasar.

Ia menyruput kopi yang telah tinggal dua-tiga tegukan terakhir, lantas menyalakan sebatang rokok. Rokok di tangannya diisapnya empat kali, lalu meletakkan di asbak tak jauh darinya. Ia memperhatikan hasil kerjanya, barangkali melihat-lihat yang kurang, lalu kembali menuangkan cat dan memolesnya. Rokok yang baru disulutnya dibiarkan termakan angin.

Dari ruang kerjanya terdengar dendang lagu-lagu lawas seperti YES, Marillion, Genisis, dan Pink Floyd. Alunan klasik rock berdentang, menemani proses kerja Ong. Tak jauh darinya ada Enos, seorang yang membantunya bekerja.

* * *

Lha, yen ora ngopi ora cerdas je.

Itulah pernyataan Ong yang sampai sekarang saya ingat. Maklum, di sela-sela menyelesaikan pameran yang sedang dikejar tenggat, dan beberapa persiapan belum juga rampung, Ong membutuhkan kopi. Dengan kopi dibungkus dengan wadah plastik yang dibawa dari warung tak jauh dari tempat pameran, dia meminumnya sembari memperhatikan ruang pameran. Matanya awas memperhatkan hal-hal yang dikiranya masih terlewat.

Ya, Ong mempunyai kebiasaan menyeduh kopi. Biasanya, ia meminum kopi pertamanya di pagi hari, sembari itu ia mendata pekerjaan-pekerjaan yang belum rampung. Kopi kedua di siang hari. Dan kopi terakhirnya, di saat hari telah gelap.

Ong bekarya memang melintas dari berbagai bentuk, dari sebagai penata panggung untuk sejumlah pemetasan, art director dalam sejumlah film, dan yang paling banyak dan barangkali telah mencapai angka ribuan, ialah rancang sampul buku.

Perkara kerja kesenian tidak harus dikotak-kotakkan ke kelompok-kelompok tertentu, begitu kata Ong, sebab proses kerja kesenian itu sama, melihat situasi di sekitar, berpikir, lalu menuangkan dalam bentuk karya. Itu yang menjadi acuannya dalam berkarya. Kadang ia memilih dalam bentuk gambar, dan di suatu waktu lain menampilkan dalam bentuk goresan tinta.

Karya Ong memang lebih mudah ditemui dalam kover buku. Maklumlah, ia memulai menggarap sampul buku sejak periode awal kesenimannya, itu di medio 80-an. Setiap menyelesaikan desain sampul buku, Ong berupaya mengajak pembaca untuk masuk dalam atmosfir dan semangat yang dihadirkan buku.

Ia diminta untuk mengerjakan sampul buku-buku Pramoedya Ananta Toer. Ia agak terkejut. Terlebih Pramoedya, sosok yang ia hormati dan karyanya sempat dibaca secara sembunyi-sembunyi di masa mudanya, datang ke rumahnya. Ia mengerjakan desain sampul Tetralogi Pulau Buru dan sejumlah karya lainnya yang diterbitkan ulang. Ong dinilai sejumlah pihak berhasil merepresentasinya sosok manusia Indonesia di awal abad 19 yang dikisahkan Pramoedya. Juga tentang ilustrasi feodalisme priyayi Jawa dalam Gadis Pantai. Rancang sampul itu dipuji oleh Pramoedya, “Luar biasa. Hebat sekali yang bikin. Ini yang saya bayangkan Gadis Pantai.”

Seringkali, Ong menghadapi tenggat kerja yang mepet dan juga pekerjaan yang seabrek. Ia adalah orang yang segan menolak tawaran bila dimintai bantuan apa pun walaupun telah banyak pekerjaan sekalipun. Bahkan, kawan saya, Bakkar Wibowo, sempat bercerita ketika suatu kali berkunjung ke rumah Ong. Ada seorang tamu yang berkunjung, dan Ong yang ketika itu tampaknya sedang dikejar-kejar tenggat tak sampai hati menolak. Ia memberinya waktu beberapa menit untuk mengobrol. Dan ketika seorang tamu itu telah pulang, Ong baru bercerita kepada Bakkar, jika orang tersebut mengalami gangguan jiwa. Bakkar tertawa, dan ia sampai sekarang tak habis pikir.

Walaupun dikejar tenggat yang ketat, bukan berarti ia mau mengerjakan dengan selesai tidak selesai dikumpulkan (seadanya). Kadang, ia justru memilih untuk mengendapkan terlebih dahulu, hingga yang namanya ide, entah dari mana datangnya, hadir di pikirannya.

Dan jika sedang buntu, Ong punya jurus jitu. Ia menawarkan orang yang menagih pekerjaan kepadanya suguhan kopi dan mengajaknya berbincang sampai pagi. Ketika si penagih itu hendak pulang, dan bertanya lagi pekerjaan yang belum rampung, dengan tanpa perasaan Ong pun berkata, “Isik urung digarap atau sesuk ya je.”

Tetapi begitulah Ong, ia seperti tak pernah bisa berhenti bekarya. Ia takut jika kelak tak bisa menjawab pertanyaan Tuhan, “Ong, koe wis tak wenehi urip, njuk digawe apa? Nah, yen kerjo, aku kan iso jawab wis garap iki-iku.”

* * *

Joyo Semoyo
Ong dan Joko Pekik © Eko Susanto

Telepon Ong berbunyi. Ada panggilan masuk. Rupanya ada yang hendak berkunjung ke rumahnya. Tak lama kemudian, si penelepon itu datang. Rupanya Joko Pekik, seorang pelukis, yang datang dengan menggunakan motor. Pekik rupanya tak sabar, ia masuk ke teras rumah Ong tanpa terlebih dahulu melepas helm.

“Wah, lagi kejar tayang, ya?” katanya.

Ong sambil tersenyum menyambut serta menyediakan kursi. Pekik memperhatikan sederet karya yang sedang dipersiapkan Ong. Komentar pertamanya ditujukan ke patung seorang nenek yang sedang duduk di kursi, letaknya di pojokan. Pekik tak mengira jika sosok nenek itu hanyalah patung. Ia berdiri, mendekati patung, dan menyentuhnya untuk melihat bahannnya.

Wah, iki siji tangan kanan arep tak wenehi clurit,” kata Ong.

Lha, Madura toh?”

Ong, tertawa. Ia kemudian menjelaskan ide dari karyanya, tentang seorang manusia yang menabur benih kebaikan kepada sesama dan clurit sebagai representasi kerja. Pekik mengangguk, ia memberi saran cara finishing karya berbahan tembaga ini.

Ong meneruskan cerita ke karya-karya lainnya, dari gambar-gambarnya yang disajikan dalam berbagai bentuk, dari dengklek, buku, dan poster. Pekik menyarankan tambahan sentuhan art yang lebih kuat dari karya-karya itu. Ong mengiyakan, karena sentuhannya di karya-karyanya memang belum final.

Ia mengoda Pekik, “Piye pak Pekik, wis komunis urung?”

Pekik sedikit kecut, “Wah kowe ojok nyangkut-nyangkut politik, malah ora iso pameran mengko.”

Ong malah tertawa. Pekik berkata menyesal telah datang ke rumah Ong. “Wah, aku yo gelo teko rene, malah ora ana terkejut maneh mengko.

Ya, karya-karya yang ditengok Joko Pekik di rumahnya itu memang karya yang hendak dipamerkan Ong Hari Wahyu dalam Joyo Semoyo, di Bentara Budaya Yogyakarta, mulai 16 Desember 2014.

Nody Arizona

Penikmat kopi, tinggal di Jember.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405