Omah Diksi, Secangkir Kopi dan Geliat Literasi

Kasir dan Gerobaknya
Kasir dan Gerobaknya | © Iqbal F. Randa

Sendu malam minggu menghinggapi saya. Bagaimana tidak, hidup dengan kesendirian sementara sang mantan sedang menunaikan kebahagiaan pada ruang dimensi berbeda. Ah, sepertinya harus ada yang saya lakukan untuk membunuh sendu di tengah keheningan malam.

Membaca buku rasanya tepat untuk menghabiskan malam. Tapi membaca buku tanpa kudapan apalagi tanpa meneguk secangkir kopi adalah sebuah hal kesia-siaan. Saya harus bergegas ke dapur. Mencari roti, kue atau semacamnya. Mengolah bubuk kopi menjadi sajian hangat. Namun sayang sekali, harapan saya musnah. Tak ada yang tersisa di dapur. Kosong.

Tiba-tiba hape saya berbunyi. Rupanya seorang kawan ingin mengajak berdiskusi sambil minum kopi di warung kopi. Bak gayung bersambut. Karena perut sudah tak berkompromi, ditambah otak yang sepertinya butuh asupan kopi, maka saya pun mengiyakan tawaran tersebut.

Kami berangkat menuju sebuah warung kopi yang terletak di Jalan Terusan Sigura-Gura no 65A. Tidak terlalu jauh dari pusat kota Malang. Hanya selemparan bumerang jika kamu dari arah Universitas Brawijaya. Setelah melalui sejumlah kelokan kecil, maka tibalah kami di warung kopi yang cukup unik. Omah Diksi “Panggon Ngopi Santai”.

Tempatnya tak terlalu luas tapi juga tak terlalu sempit. Di luar ada tiga meja yang terdiri dari beberapa kursi. Sementara di dalam ada beberapa meja tanpa kursi. Ruangan dalam memang didesain seperti lesehan.

Jika membutuhkan tempat yang lebih intim, maka kamu bisa memasuki ruangan baca. Di dalamnya terdapat puluhan buku yang tersusun rapi. Saya memilih di luar karena ruang baca cukup ramai. Merasakan hawa dingin, menikmati lalu lalang kendaraan bermotor sembari menikmati kopi.

Ketika disuguhkan menu makanan dan minuman, saya justru tertarik dengan satu menu. Teh Ginastel. Ginastel yang jadi nama teh ini sebenarnya sebuah akronim yang berarti: legi (manis), panas, kentel. Sepertinya menu tersebut mirip yang biasa saya temukan di Jawa Tengah.

“Ini memang mirip dengan yang ada di Jawa Tengah, Mas. Legi, Panas, dan Kentel,” ujar Pak Erza, sang peracik kopi dan pengolah makanan.

Saya disarankan Pak Erza memilih Teh Ginastel Jahe. Namun tentu saja, saya tetap memesan pula kopi andalan Omah Diksi. Kopi Robusta.

Secangkir Kopi Robusta
Secangkir Kopi Robusta | © Iqbal F. Randa

Tak berapa lama kopi robusta pesanan saya datang. Lengkap sudah, secangkir kopi hangat saya nikmati perlahan sembari membaca salah satu buku koleksi di Omah Diksi yang saya ambil sebelumnya, Cinta Tak Pernah Tepat Waktu karya Puthut EA.

Oh ya, untuk koleksi buku di Omah Diksi memang sengaja dipinjamkan untuk pengunjung. Kita bisa memilih buku mana yang mau kita baca dengan bebas tanpa persyaratan yang ribet dan njelimet. Tentu dengan satu syarat: tak boleh dibawa pulang.

Dalam hal ini manajemen Sediksi punya prinsip jika sebuah ruang singgah harus menjadi tempat yang bermanfaat untuk semua. Berbagi ilmu adalah kesadaran intelektual, maka menghilangkan hak orang lain untuk membaca sebuah buku dengan ‘mencuri buku’ dari tempatnya adalah hal yang dilarang keras di tempat ini.

Ketika asyik membaca sambil mencecap kopi dengan sesekali berbincang dengan kawan, sekumpulan orang datang. Dari perawakannya kelihatannya mereka semua mahasiswa. Setelah saya tanyakan siapa gerombolan itu ke Pak Erza, memang benar, ternyata mereka semua anak-anak pers kampus yang memang biasa ngopi di tempat ini.

Omah diksi ternyata sering menjadi rujukan untuk beberapa komunitas mahasiswa terutama para pegiat pers kampus. Beberapa kali rapat internal maupun diskusi, mereka sering memilih Omah Diksi sebagai tempatnya.

Gugum, salah seorang pegiat pers kampus, mantan pimpinan redaksi Kavling, sebuah lembaga pers Universitas Brawijaya bercerita, “kami sering ngopi di sini, Mas. Selain tempatnya santai, dekat dengan kampus, di sini juga menyediakan bahan bacaan yang menunjang proses kerja menulis kami.”

Diskusi pengunjung Omah Diksi
Diskusi pengunjung Omah Diksi | © Iqbal F. Randa

Usut punya usut, ketika saya tanya soal awal berdirinya warung kopi ini kepada Pak Erza, Omah Diksi memang diinisiasi oleh sejumlah mantan pegiat pers kampus. Sebagian dari mereka ada yang sudah lulus dan bekerja, tapi ada juga yang masih bergelut dengan masa studinya alias belum lulus.

Berawal dari ide menciptakan portal alternatif sebagai wadah aktifitas menulis untuk para penulis Malang Raya, mereka menciptakan sediksi.com. Dari situlah, sediksi menjadi nama yang masih dipertahankan ketika mereka melebarkan sayap di bidang bisnis dengan membuka warung kopi ini.

Pikiran saya menghayal tinggi. Benarlah jika ada ungkapan penuh metafora tentang sebuah kata, seperti: kata adalah senjata. Kata-kata yang terangkai akurat akan menjadi diksi yang tepat. Omah Diksi adalah bukti bahwa diksi-diksi yang tepat selalu berhasil menciptakan kebersamaan, kebahagiaan, juga kadang kenangan.

Iqbal F. Randa

Penikmat Kopi tanpa susu dan Tukang Tulis Keliling.