Ocarina Yang Sungguh Sendu Namun Syahdu

Macam-macam bentuk Ocarina jenis Pendant
Macam-macam bentuk Ocarina jenis Pendant | Sumber: Wikimedia.org

Beberapa waktu lalu, di sebuah event yang diadakan oleh salah satu komunitas lingkungan di Kota Malang, saya mendapati permainan musik yang tak pernah saya lihat sebelumnya. Belum pernah saya lihat memang, namun alunan musiknya betul-betul tak asing di telinga. Sembari mengingat, saya khusuk menikmati permainan musik nan lembut itu. Seorang lelaki berdiri di tengah panggung sambil memainkan alat musik tiup, bukan Suling bukan juga Saxophone. Dengan diselingi musik pengiring dari Cajon dan Ukulele nyatanya mampu menghasilkan instrumen yang sendu dan syahdu. Lagu “Kita” dari Sheila on 7 pun tandas mengiringi malam yang sedikit gerimis itu. Setelah mereka menyelesaikan performnya dan kemudian turun panggung, saya segera menyusul ke belakang menemui sang frontman. Kusapa lebih dulu lelaki kurus bertubuh tinggi itu, hingga aku tahu nama lelaki tersebut ialah Dedi, Dedi Rudianto lengkapnya.

Sedikit berbasa-basi, kemudian saya memintanya menunjukkan alat musik yang tadi ia mainkan. Alat musik tiup Ocarina namanya. Jenis alat musik tradisional yang berasal dari China tersebut umumnya terbuat dari tanah liat (keramik), plastik, kayu, kaca, atau logam. Bentuknya pun sebenarnya beragam, ada yang menyerupai pistol (sweet potato), ada yang berbentuk panjang ramping seperti suling (in-line) dan ada yang berbentuk pendant dengan maksud agar bisa dikalungkan. Selain dari bentuknya, alat musik Ocarina ini dapat dikenali karena adanya lubang-lubang sebagai pengontrol nada serta satu buah lubang utama untuk ditiup.

Sedang Ocarina yang ditunjukkan oleh Mas Dedi pada saya adalah jenis sweet potato dengan 12 lubang. Lubang-lubang pada Ocarina banyak macamnya, ada yang 4, 6, 8, 9, 12 sampai 17 lubang. “Semakin banyak lubangnya, semakin tinggi kesulitan memainkannya” kata lelaki yang juga menjadi ketua komunitas Ocarinesia ini. Bicara soal komunitas, Ocarinesia merupakan komunitas instrumen musik Ocarina pertama dan satu-satunya di Indonesia. Didirikan sejak tahun 2014 oleh Mas Dedi yang notabene asli arek Malang.

Ocarina jenis sweet potato milik Mas Dedi
Ocarina jenis sweet potato milik Mas Dedi | © Indah Ciptaning Widi

Melihat kemahirannya memainkan Ocarina, saya sempat berfikir bahwa Mas Dedi memiliki latar belakang musik seperti kebanyakan musisi. Namun ternyata lihai jari-jarinya membuka tutup lubang serta meniup Ocarina secara tidak fals itu dipelajarinya secara otodidak sejak tahun 2012. Mempelajarinya lewat media video tutorial di youtube lalu mempraktekannya di taman-taman terbuka. Niat hati berlatih Ocarina di tempat terbuka justru alunan-alunan hasil tiupan Ocarina tersebut tak sengaja terumbar sampai pada telinga orang-orang di sekitar. Sehingga ketertarikan orang awam yang sekarang ini telah bergabung ke dalam komunitas ya karena mendengar langsung lembutnya suara yang dihasilkan plus melihat cara bermainnya yang cukup unik.

Setelah Ocarinesia berdiri dan berhasil menjaring banyak peminat, tak jarang komunitas ini memiliki agenda-agenda rutin seperti bermain Ocarina bersama di ruang terbuka (taman kota atau CFD), event-event maupun kolaborasi dengan musisi lainnya.

Komunitas Ocarinesia saat bermain Ocarina di CFD
Komunitas Ocarinesia saat bermain Ocarina di CFD | Sumber: Komunita.id

Mendengar cerita Mas Dedi terhadap sepak terjangnya bermain Ocarina membuat saya yang memiliki intelektual permusikan tingkat cupu ini merasa tertarik untuk belajar sendiri kalau ternyata belajar lewat youtube saja sudah cukup. Lantas sambil saya masih meraba-raba Ocarina milik Mas Dedi, saya kontan bertanya di mana saya bisa membeli alat tersebut. Mendengar pertanyaan saya, Mas Dedi hanya tersenyum agak meringis. Karena kenyataannya, memperoleh Ocarina tidaklah mudah, tidak seperti alat musik gitar, ukulele, bahkan kecrekan yang seperti kacang goreng, produksinya ada di mana-mana. Melainkan harus susah payah memesannya dari luar negeri alias import. Kebetulan Ocarina milik Mas Dedi yang terbuat dari keramik dengan kualitas bagus tersebut didatangkan dari Taiwan seharga 7 juta. Ada juga Ocarinanya yang diperoleh dari Jepang dengan kualitas tak kalah bagus juga dan ditebusnya hanya dengan beberapa ratus ribu. Dari segi harga memang beragam, tergantung material, tipe, bentuk, juga kompleksitas desainnya. Kisarannya antara yang paling murah 150 ribu sampai pada jenis multi-chambered Ocarina yang harganya bisa sampai puluhan juta.

Sedikit berpikir kembali jika ingin belajar dan menjadi pemula misalnya, kemudian harus susah payah dulu memesan Ocarina dari luar yang harga juga ongkos kirimnya tak murah. Lalu saya kembali bertanya pada Mas Dedi, “kenapa tak ada produksinya di Indonesia?”. Jika saya lihat kembali, alat ini materialnya dari keramik, sedangkan di Indonesia sendiri begitu banyak loh daerah penghasil keramik dengan pengrajinnya yang top markotop.

Lalu Mas Dedi sigap menjawabnya dengan sedikit getir. Bahwa sebelumnya Mas Dedi dan kawan-kawan Ocarinesia telah menyambangi salah satu daerah penghasil keramik di Kota Malang yaitu Kampung Keramik Dinoyo untuk bisa mengusahakan produksinya sembari menunjukkan beberapa model Ocarina. Namun ternyata para pengrajin hanya sebatas menyanggupi pembuatan model dan bentuknya saja, tapi untuk lubang-lubang pengontrolnya mereka menggeleng keberatan. Iya memang tak sekadar melubangi pastinya, jelas harus mengukur resonansi pada rongga-rongganya agar pas dan menghasilkan bunyi yang sesuai.

Mas Dedi dengan Ocarinanya
Mas Dedi dengan Ocarinanya | © Indah Ciptaning Widi

Sebetulnya bisa saja terjalin kerja sama antara pengrajin dengan yang ahli stem, tapi lagi-lagi produksi secara masal ujung-ujungnya membutuhkan pasar. Seperti adanya produksi gitar karena banyak yang ingin menggenjreng atau produksi cajon karena banyak yang ingin menabuh tak peduli hati sedang melow.

Sedang peminat Ocarina sendiri masing terbilang sedikit. Jangankan peminat, mendengar alunan dari Ocarina saja masih asing. Pun jika familiar pasti akan disama-samakan dengan suara suling, padahal hasil suaranya jelas berbeda dan lebih khas.

Setelah berbincang lama dengan Mas Dedi, saya keceplosan mengutarakan perasaan tak asing tadi saat mendengar alunan Ocarina walau baru pertama melihat seseorang memainkannya. Dengan gelak tawa yang merekah, Mas Dedi menjawab enteng, “Lah gimana ndak asing. Ocarina ini kan alat musiknya petani di Harvest Moon dan Zelda di The Legend of Zelda”.

Indah Ciptaning Widi

Menulis, melamun dan mencinta dalam sekali waktu.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405