Nyanyian Kebangkitan: Berantai Kisah, Beruntai Kasih

Pertunjukan puisi yang mengolaborasikan empat unsur seni yaitu puisi, musik, drama, dan tari baru saja diselenggarakan oleh Teater Jaringan Anak Bahasa (JAB) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta. Acara yang berlangsung pada Senin, 18 Desember 2017 di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarya ini mengangkat tema “Berantai Kisah, Beruntai Kasih” dengan judul “Nyanyian Kebangkitan”.

Puisi yang ditampilkan adalah karya beberapa penyair Indonesia. Tema cinta dan nasionalisme ditonjolkan dalam pementasan ini. Puisi-puisi tersebut kemudian diolah menjadi musikalisasi puisi dengan memadukan unsur gerak teatrikal.

Puisi-puisi hadir dalam bentuk audio dan visual mengambil beberapa simbol dari tiap-tiap puisi. Namun, simbol yang diambil tidak sepenuhnya mutlak, karena hanya melihat dari beberapa sudut pandang, yang diharapkan puisi tetap utuh menjadi karya sastra yang multitafsir.

Puisi Tanah Air Mata karya Sutardji Calzoum Bachri dipadukan dengan teatrikal
Puisi Tanah Air Mata karya Sutardji Calzoum Bachri dipadukan dengan teatrikal | © Ardi Priyantoko
Puisi Tanah Air Mata karya Sutardji Calzoum Bachri dipadukan dengan teatrikal
Puisi Tanah Air Mata karya Sutardji Calzoum Bachri dipadukan dengan teatrikal | © Ardi Priyantoko

Acara dibuka dengan penampilan musikalisasi puisi dari Jejak Imaji dan Al Fine. Masing-masing memukau penonton dengan membawakan dua musikalisasi puisi.

Selanjutnya, sederet penampilan istimewa ditunjukkan melalui Syair untuk Leiser karya Jabrohim, Kabarkan Padaku karya Mahwi Air Tawar, Setelah Mencintaimu karya Acep Zam-Zam Noor, Tanah Air Mata karya Sutardji Calzoum Bachri, Kasidah dari Negeri Hijau karya Abdul Wachid BS, dan Nyanyian Kebangkitan karya Ahmadun Yosi Herfanda.

Pada pertunjukan Kabarkan Padaku, JAB berkolaborasi dengan Sule Subaweh. Sementara pada Setelah Mencintaimu, berkolaborasi dengan Fitri Merawati dengan diiringi alunan biola dari Iqbal H Saputra.

Dita Yulia Paramita dengan apik membaca puisi Tanah Air Mata yang selanjutnya disusul dengan musik memukau. Lalu, Fitri Merawati kembali menunjukkan suara merdunya melalui Kasidah dari Negeri Hijau berpadu dengan permainan keyboard Afrizal Oktaputra.

Teater JAB menampilkan Syair untuk Leiser karya Jabrohim
Teater JAB menampilkan Syair untuk Leiser karya Jabrohim | © Ardi Priyantoko
Setelah Mencintaimu karya Acep Zam-Zam Noor ditampilkan oleh Teater JAB berkolaborasi dengan Fitri Merawati dan Iqbal H Saputra
Setelah Mencintaimu karya Acep Zam-Zam Noor ditampilkan oleh Teater JAB berkolaborasi dengan Fitri Merawati dan Iqbal H Saputra | © Ardi Priyantoko

Menurut Farid Arifin selaku pimpinan produksi, tim kreatif pentas produksi Teater JAB 2017 memilih menampilkan musikalisasi puisi sebab mereka adalah mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), mereka ingin ikut memasyarakatkan sastra.

“Musikalisasi puisi dianggap lebih mudah diterima di kalangan masyarakat, terutama kaum muda dan sesuai dengan tujuan kami untuk memasyarakatkan sastra sekaligus mengukuhkan Yogyakarta sebagai ibu kota musikalisasi puisi,” ucap Farid.

Ia menambahkan, pementasan ini sebelumnya sudah diselenggarakan di Surabaya, pada Sabtu, 18 November 2017 di auditorium Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMS). Kota Surabaya dipilih karena di sana musikalisasi puisi kurang diminati. Ada, tetapi hanya sebatas pengantar di acara pertunjukan teater. Oleh karena itu, pertunjukan yang bekerja sama dengan Sanggar Satria UMS itu diselenggarakan.

Bayu Aji Setiawan, ketua JAB mengungkapkan, “Sejauh pandangan kami, musikalisasi puisi belum begitu dikenal dan digandrungi masyarakat daripada susastra yang lain. Nah, di sini kami mencoba membaca situasi dengan mengangkat puisi dan menjadikan musikalisasi puisi.”

Pertunjukkan yang disiapkan selama dua bulan lebih ini sukses menghibur penonton. Selama lebih dari dua jam, penonton disuguhi penampilan yang sangat menarik.

Utami Pratiwi

Editor buku, fangirl (pengepul cowok korea).