Nostalgia di Terminal Kopi; Ngopi Adalah Kesunyian Masing-Masing!

Enam atau barangkali tujuh tahun lalu, saya dan seorang teman SMA sering membolos jam pelajaran olahraga dengan berjalan kaki dari sekolah kami di Jalan Pasir Kaliki ke Dago Elos, Bandung. Perjalanan cukup jauh kami nikmati sambil menyesap berbatang-batang rokok ketengan yang dibeli di kios pinggir jalan. Pada masa itu, berjalan satu jam sambil mengisap rokok dan memaki-maki angkot jahanam di kota Bandung lebih menyenangkan daripada harus lari mengelilingi lapangan bola.

Tujuan akhir dari prosesi membolos itu adalah Terminal Kopi. Sebuah kedai kopi kecil yang terletak di Bandung Utara. Di sana kami selalu memesan kopi hitam—single origin belum seeksotis sekarang. Alasan kami sederhana, Chairil Anwar, para penyair dan para seniman kami dengar (baca) suka sekali dengan kopi hitam-pekat-pahit. Mereka keren dan kalau kita ingin keren—sebelum bisa membuat puisi seperti mereka—setidaknya bisa meniru cara minum kopi sambil klepas-klepus menikmati rokok ketengan tentu lebih mudah dibandingkan menulis puisi.

Awalnya terasa sangat menyiksa seperti sensasi merokok pertama kalinya. Kami sempat berpikir bahwa kopi hitam memang layak jadi minuman para penyair, pahitnya minta ampun. Tidak seperti minuman soda atau orson rasa-rasa yang menggugah lidah remaja sepantaran. Tapi apa boleh buat untuk menjadi seperti Chairil Anwar, ada harga yang harus dibayar.

Setelah melewati fase “siksaan”, kami mulai mendapati sensasi lain dari minum kopi hitam a la penyair dan seniman; merokok jadi lebih nikmat dan khusyuk, percakapan jadi semakin panjang, dan pekerjaan (saat itu tugas sekolah) jadi lebih terasa ringan. Hari-hari setelahnya, setiap ada kesempatan membolos, kami selalu menyempatkan ke Terminal Kopi.

Temanku sempat berpikir bahwa yang kami lakukan saat membolos tidaklah buruk-buruk amat. Saat teman-teman kami bermain bola—jenis olahraga yang sangat nikmat disaksikan tapi tidak untuk dimainkan—kami memilih untuk melakukan “olahpikir”. Bukankah tidak hanya raga yang perlu diolah? Pikiran manusia juga perlu latihan agar tetap bugar dan berfungsi sebagaimana mestinya.

Belakangan aku pikir self-defensif ketika mengenang masa-masa itu. Merasa lebih gagah berbincang tentang sastra dan sedikit bacaan filsafat—30 Menit Besama Sartre, 30 Menit Bersama Camus, dan 30 Menit-30 Menit lainnya—dibandingkan olahraga.

Di Terminal Kopi, kami bicara banyak hal. Dari mulai gosip seputar sekolah, perempuan-perempuan yang rok abu-abunya kependekan, hingga mengomentari tokoh-tokoh dalam novel Agatha Christie, terutama Hercule Poirot dan sahabatnya Arthur Hastings. Sebelum kami mengenal sosok melankolis nan ganteng Chairil Anwar, kami sempat berkhayal ingin jadi detektif. Keren dan pasti bisa memikat perhatian perempuan.

Saat itu kopi bagi kami hanyalah minuman hitam yang memiliki rasa pahit dan cocok sebagai teman ngobrol. Kami belum mengenal istilah-istilah keren seperti barista, roasting, grinding, cupping, brewing, single origin, specialty coffee, dan lain sebagainya. Yang kami tahu hanyalah ngopi membuat kami keren, seperti si Binatang Jalang, Chairil Anwar.

Kemudian waktu terus berjalan, membawa pengertiannya masing-masing, merayapi dinding-dinding usia dan peristiwa yang mampir pada hidup kami.

Aku mulai keranjingan minum kopi hitam dengan berbagai teknik yang dipelajari serampangan dari Youtube, blog, serta website kopi—yang belakangan mulai ngehits. Mengunjungi macam-macam coffee house dengan lampu-lampu dan gelas cantiknya. Posting foto ngopi di tempat-tempat yang instagramable.

Aku melanjutkan kuliah di jurusan bisnis, sementara temanku di jurusan antropologi. Kami sudah jarang bertemu, punya kesibukan masing-masing. Aku pun tidak begitu yakin, apakah ia masih suka minum kopi hitam dan masih bercita-cita menjadi penyair seperti Chairil Anwar atau tidak. Aku sendiri sudah mengurungkan niat itu begitu menyadari betapa sulitnya menulis puisi. Pada gilirannya, kita akan selalu dikejutkan oleh apa yang bisa dilakukan waktu.

* * *

Enam atau tujuh tahun berselang, tepatnya sore tadi aku berkesempatan untuk mengunjungi kembali Terminal Kopi. Seperti kebiasaan pada bulan Ramadan, bertemu teman lama menjadi semacam ritual yang perlu dilakukan agar puasa kita semakin afdol.

Nasib baik kebetulan sedang berpihak, aku dan temanku semasa SMA itu sama-sama tidak memiliki kegiatan apapun hari itu. Kami berdua yang sedang ada di Bandung segera mengusulkan bertemu di Terminal Kopi.

Setelah pencarian singkat melalui mesin pencari paling ajaib di jagat raya ini, ternyata Terminal Kopi sudah tidak lagi di Dago Elos. Mereka pindah ke Jalan Cemara. Konon menurut tuturan sang Barista, tempat lamanya kini hanya dijadikan gudang dan tempat roasting. Sayang sekali nostalgia ini harus berpindah tempat. Tapi tidak apa-apa, masih untung Terminal Kopinya tetap beroperasi di antara derasnya arus coffeeshop instagram material seperti Noah’s Barn, Lacamera, Cups, dan puluhan daftar lainnya yang terlalu panjang untuk dituliskan.

Ketika kami berhasil menemukan kedai kopi yang humble dan low profile ini di Jalan Cemara no 39, sejenak kami saling pandang dan bertukar seringai. “Masih seperti dulu! Hehehe.”

Ya, Terminal Kopi masih seperti dulu. Tidak ada kesan kafe cantik dari mulai papan nama kayu biasa (bukan neonbox warna-warni aduhai gemulai), penataan ruangan, meja-kursi dan furnitur pelengkap lainnya dibuat sesederhana mungkin.

Menempati sebuah rumah tua di Jalan Cemara, Terminal Kopi masih setia dengan konsep awalnya: menyajikan kopi berkualitas dari berbagai jenis kopi nusantara. Titik. Sudah, hanya sampai di situ. Mereka tidak berniat sedikit pun mempercantik penyajian dan tata ruangan, menciptakan ambience yang hangat sebagaimana biasanya coffeeshop kekinian.

Hal ini masuk akal demi menekan serendah-rendahnya biaya operasional dan ongkos produksi, mereka perlu memangkas biaya-biaya sekunder dalam dunia minum kopi. Tapi untuk urusan kualitas rasa kopi, mereka tidak kompromi. Setidaknya lidah awam saya sudah membuktikan dan menjamin pengunjung tidak akan dibuat kecewa. Entahlah jika pakar kopi yang budiman mencobanya, kadang lidah mereka kelewat sensitif.

Mereka masih mengandalkan kopi fresh roasted dari micro-roasting nya di Dago Elos. Setiap kopi yang siap disajikan di Terminal Kopi tidak diproduksi dalam jumlah banyak. Hari ini saja beberapa jenis kopi absen dalam menu, kopi papua, flores, dan bali kalau tidak salah yang habis terjual dalam bentuk ground coffee. Sebagai catatan, selain kafe, mereka juga menjual kopi bubuk dalam kemasan 100 gram, 250 gram, dan 500 gram yang bisa dipesan secara online.

Untuk memulai percakapan, saya memesan robusta temanggung tubruk. Teman saya memesan arabika gayo tubruk. Untuk robusta temanggung tubruk, saya hanya perlu membayar Rp 5.000 saja dan arabika gayo tubruk Rp 6.500. Dalam waktu singkat kopi tandas. Kini giliran mencoba manual brewing nya, saya memesan arabika aceh frenchpress yang cukup ditebus dengan Rp 8.500 saja. Harga yang sangat murah untuk mencicipi kopi nusantara yang berkualitas.

Oh ya, meskipun kedai kopi ini terbilang sederhana dalam hal penyajian dan ambience ruangan, tapi tetap masih memperhatikan beberapa teman ngopi yang belakangan dirasa cukup penting; WiFi dan terminal listrik. Pengunjung bisa berselancar di dunia maya, mengerjakan tugas, atau sekadar numpang unduh film hanya dengan membayar sekian ribu untuk secangkir kopi.

Selain itu, pengunjung akan disambut oleh para barista yang ramah dan siap berbagi cerita seputar kopi. Tidak perlu merasa sungkan untuk memulai percakapan dengan mereka. Percayalah, mereka adalah orang-orang yang low profile dan humble, sejurus dengan visi-misi Terminal kopi. Hehehe.

Kami juga mendapatkan banyak cerita dari mbak Nifa yang saat itu bertugas menyajikan kopi, bahkan ia sampai memberikan pin Blackberry personalnya untuk memberitahu kami jika ada roastingan baru yang kami inginkan. Percayalah, keramahan organik seperti ini tidak akan kalian dapatkan di cafe-cafe mentereng itu.

Percakapan ngalor-ngidul dalam waktu tiga jam dan empat gelas kopi tidak cukup membayar lunas cerita-cerita yang terpilin oleh waktu. Sementara jarum jam di dinding sudah menunjukkan pukul lima. Sudah saatnya kami pulang ke rumah masing-masing untuk berbuka puasa bersama keluarga tercinta.

Ya, hari ini kami membolos lagi. Bukan dari jam pelajaran olahraga, tapi dari ibadah puasa di rumah—di hadapan orang tua. Ada baiknya, sifat yang tidak mulia ini tidak perlu ditiru oleh pembaca yang budiman.

Tapi tunggu dulu, bukankah menyambung silaturahim dalam agama islam sangat dianjurkan? Terlebih lagi di bulan suci maha baik ini dimana segala pahala akan dilipatgandakan untuk kapling surga yang kelak. Sialnya, bagi kami, percakapan dan nostalgia tanpa secangkir kopi adalah dusta belaka. Seperti dedek-dedek gemes yang check-in di path lagi ngopi di Noah’s Barn padahal pesan ice greentea. Dusta belaka.

Apapun alasannya, benar atau salah, kami bersyukur masih ada tempat ngopi seperti ini di Bandung. Di antara gemerlap warna-warni kedai kopi mentereng di Bandung, Terminal Kopi masih setia pada fitrahnya sebagai penyaji minuman hitam yang nikmat itu. Mungkin di dunia ini memang ada orang-orang yang bersetia memilih untuk tetap kecil namun bersahaja. Memberikan ruang-ruang alternatif bagi orang-orang yang merasa tidak sesuai dengan arus zaman yang deras dan masif.

Baiklah, bagaimana pun juga, minum kopi dan sekelumit kisah yang memberikan latar di belakang, samping, depan, dan segala sudut adalah hak seluruh umat manusia. Terlepas dari cara minum kopi, jenis kopi, dan pilihan tempat ngopi. Seperti kata Chairil Anwar:

Ngopi adalah kesunyian masing-masing!

Azhar Rijal Fadlillah

Pencinta Kopi Garis Lunak

  • Kopi Merah

    Wah mesti mampir juga nih, saya termasuk pelanggan setia terminal dari zaman masih di dago elos. Ternyata sekarang udah buka kafe di jalan cemara toh. Mudik lebaran ini mampir ah.. Makasih tulisannya menarik mas. Saya jadi kangen Bandung.

    Salam sruput!

  • Pejalan Jauh

    Wah ini kisah bener-bener dialami penulisnya? Kalau iya, salute mas! Saya waktu SMA belum minum kopi, masih suka cocacola :p kalaupun ngopi ya sasetan aja di warung belakang rumah. hehe

    saran aja nih, sebaiknya disertakan juga foto terminal kopinya. Penasaran kayak apa tempatnya. Kapan-kapan kalau ke Bandung cobain deh, alternatif menarik nih. Bandung kan tempatnya anak-anak gaul, tempat ngopinya juga keren2. Nah ini agak nyeleneh sepertinya hehe.

    oia, sosmed terminal kopi gak aktif ya, sayang banget. FB, twitter, instagram pada gak aktif semua. jadi susah mau ngehubunginya.

  • ngopi yang paling sunyi adalah ngopi di desa asal. suasana yang benar benar sunyi. hanya temaram lampu jalan dan bintang bintang yang menemani. serta dinginnya malam di halaman rumah. benar benar mengingatkan kita pada sangkan paran.

    • Nurvianti Siti: Ya mba, saya sepakat. hanya saja bagi saya yang tidak punya kampung halaman– desa asal yang nisbi asri dan sunyi, ngopi ditemani bintang-bintang di desa asal adalah mustahil 🙁

      Kopi Merah: Wah, pelanggan dari Dago Elos juga? iya nih mas/mbak, sekarang terminal kopi sudah pindah ke jalan cemara. mesti coba tempat barunya, lebih nyaman tapi tetap khas terminal kopi kok harga dan rasanya hehe 🙂

      Pejalan Jauh: foto sebenarnya saya sertakan sih mas/mbak, tapi sayangnya gagal tembus standar kualitas foto minumkopi hehehe, kelewat asal sih itu fotonya jelek bgt hehe.. belakangan ini facebook dan instagram terminal kopi sudah mulai aktif kok mas, atau bisa coba lansung kontak BBMnya. Info roasting dan ground coffee yang ready stock atau bahkan mau pre-order juga lewat BBMnya bisa.

      BBM Terminal Kopi: 5383a31e (Nifa, Terminal Kopi)

  • nada lekra

    wah tempat ini memberikan kenangan, dulu denger-denger tempat ini dikelola sama anak-anak jalanan ya?