Nostalgia di ASCOS Café

Saya tumbuh besar bersama lagu-lagu rock. Ayah saya, Eksan Wasesa, fans garis keras Judas Priest dan Godbless. Tiap pagi, lagu-lagu mereka meraung di rumah. Ibu juga begitu. Kendati dua tahun menjadi penyanyi keroncong di TVRI Jogja tahun 80-an, dia jauh lebih suka musik-musik Nike Ardila, Atiek CB, dan tentu saja Nicky Astria.

Kebiasaan mendengar lagu rock sejak kecil terbawa sampai remaja. Saya juga jadi penyuka rock dan mulai belajar musik. Lagu pertama yang saya mainkan bersama band pas kelas 1 SMP adalah “Welcome to The Jungle” dari Guns n Roses. Saat SMA, saya mulai memainkan Red Hot Chilli Peppers (RHCP), Metallica, Dream Theater, Primus, dan Funky Kopral.

Band kami nyaris rekaman di Jakarta seandainya otak remaja pada saat itu tak berpikir laiknya orang dewasa. Kami memilih pendidikan daripada musik. Itu pula yang kemudian membawa saya terbang ke Jogja. Tahun 2005-2010, Jogja masih mempunyai banyak tempat buat musik rock. Di bilangan Gejayan, tepatnya di belakang SMA GAMA, ada lapangan luas yang sering digunakan konser musik rock, dari glam, grind core, hard rock, metal, sampai trash metal, dimainkan dengan apik oleh musisi lokal. Di tempat itu, saya berkenalan dengan banyak musisi, cewek cakep, bir, bekonang, anggur merah bir dingin (abidin), dan asupan gizi lainnya.

Setelah tempat itu ditutup oleh yang punya, musik rock di Jogja pindah ke kafe-kafe. Salah satunya Bunker Café di Jalan Magelang. Saya sering ke sana tiap Senin malam nonton Brown Sugar memainkan rock klasik. Sempat nge-jam juga di sana. Kala itu, Bunker Café menjadi obat rindu akan suasana rumah di Kalimantan.

Umur nongkrong di Bunker Café tak panjang. Ayah pingsan ketika dikirimi surat dari UGM bahwa selama tiga semester, saya tak pernah masuk kuliah. Peralatan musik saya ditarik. Uang saku dikurangi lalu disuruh kos dekat kampus dan fokus kuliah. Janji dibuat, lalu sepakat nongkrong menjadi hal terakhir yang saya lakukan, demi Ayah.

Sejak 2008, kuliah menjadi fokus utama sampai selesai 2012 lalu. Saya jarang nongkrong. Musik hanya sebagai teman rutinitas saja dan tersimpan berantakan di folder laptop. Menahun setelahnya, kesibukan di organisasi dan di tempat kerja bikin lupa nongkrong. Sampai suatu ketika, kawan di organisasi, Prima Sulistya Wardhani, menyarankan saya ke sebuah kafe di bilangan Tirtodipuran, Jalan Parangtritis, Jogja.

Home band-nya keren. Mainin musik metal. Aku jadi suka sama Power Metal gara-gara home band di sana tiap malam Kamis,” kata Prima sambil mengelus tangan saya.

Home Band ASCOS tiap Rabu malam selalu membawakan musik rock klasik
Home Band ASCOS tiap Rabu malam selalu membawakan musik rock klasik © Aditia Purnomo

Saya bakal menyesal seumur hidup kalau menepis saran Prima waktu itu. Asmara Art & Coffee memang benar-benar luar biasa. Berkonsep kafe dan bar outdoor, desain dan tata ruang sesuai dengan namanya: Art dan Coffee. Di dinding ada beberapa karya seni yang dipigura berukuran sedang mewakili art-nya. Desain kursi dan meja dalam dan luar ruangan diatur berdekatan dan tidak dilengkapi colokan listrik. Ini sengaja di desain agar mereka yang datang ke sana benar-benar buat ngopi, tanpa rehat dari kenyataan atau pekerjaan sejenak.

Saya datang ke sana sekitar pukul 20.00 WIB lalu duduk tepat di depan peralatan musik home band yang sedang disiapkan kru. Pelayan yang keren nan ramah mendatangi saya lalu menyerahkan daftar menu. Makanan di kafe ini bergaya Eropa dan Amerika Latin. Kopinya juga seperti di tempat lain. Ada Cappuccino, Latte, dan banyak olahan lainnya. Saya bingar melihat harga bir di sana, sangat murah. Satu tower bir hanya Rp190 ribu. Niatan kudu ditepikan dulu. Riwayat lambung sudah lumayan buruk dengan tiga kali masuk UGD dan sekali opname.

Bangku lain di ruangan luar masih kosong begitu saya datang. Hanya ada beberapa orang di meja bar dan lantai atas ASCOS. Tiga puluh menit setelahnya, barulah banyak yang datang. Style mereka keren-keren, macam seniman. Mereka sudah akrab dengan para pelayan. Salaman, pelukan, dan pisuhan mesra pelepas dahaga peliknya intoleransi di Jogja. Banyak juga para bule yang nongkrong di sana. Karya seni di dalam ruangan pun sering difoto pengunjung.

Home band bersiap-siap karena kafe hampir penuh dengan berduyunnya orang yang datang. Jujur, saya penasaran dengan home band di ASCOS sekaligus deg-degan juga. Sudah lama saya tidak nongkrong sambil nonton home band yang membawakan lagu rock klasik. Kali terakhir di Bunker Café menahun lalu. Timbul keraguan juga, apa mungkin di zaman sekarang masih ada yang jago mainin musik rock di tengah melankolisnya perkafean di Jogja?

Band e apik, Mas. Sangar pol!” (Band-nya bagus, Mas. Sangar!)

Orang di meja sebelah yang hanya berjarak dua kilan menegur saya ramah.
“Saap, Ndan,” jawab saya menyimpan keraguan.

Tiap Rabu malam, ASCOS bertema rock klasik: Rebo Rock. Home band berisikan lima personel dengan dua gitar. Nge-band dengan dua gitar itu sebenarnya cukup sulit terutama dalam pengaturan sound. Kedua gitaris tak boleh terpancing beradu drive. Kudu melengkapi satu sama lain.

Begitu mereka cek sound, pengunjung ASCOS mulai bertepuk tangan. Reff lagu pertama sangat familiar, di mana saya tumbuh besar dengan itu. Mereka memainkan “Breaking the Law” Judast Priest, lagu pagi Ayah. Saya langsung misuh sepisuh-pisuhnya, dari pisuhan profesi macam bajingan sampai kebinatangan gara-gara mereka sukses memainkan lagu legendaris itu tanpa fals atau minor sound sedikit pun. Saya terkesiap ketika mereka membawakan dua lagu Power Metal “Angkara” dan “Satu Jiwa”. Baru ini lagu Power Metal masuk kafe sepengetahuan saya.

Mereka juga sukses membawakan lagu-lagu rock klasik lainnya. Bahkan mereka juga sukses mengajak pengunjung nge-koor teriak-teriak. Suasana hangat pun terlihat ketika mereka main. Tak ada jarak lagi antarpengunjung di meja yang berdekatan. Entah kekuatan apa yang membuat mereka bisa langsung ngobrol atau nge-tos botol usai nge-koor.

Band Rebo Rock ASCOS adalah band rock senior di Jogja
Band Rebo Rock ASCOS adalah band rock senior di Jogja © Aditia Purnomo

Saya langsung WhatsApp Ari Budi Prasetya, jurnalis musik senior Jogja, menanyakan tentang band ini. Kata dia, band di Rebo Rock ini band senior Jogja. Mereka sejak dulu memang dikenal biang-nya rock Jogja, tapi menghilang entah ke mana.

“Kalau soal rock, mereka memang jago banget. Punya massa sendiri. Jadi nggak heran tiap Rabu malam, pecinta musik Rock Jogja ke ASCOS,” balas Pras.

Mereka main jam sembilan malam dan membaginya menjadi dua sesi. Request pengunjung langsung mereka mainkan jika memungkinkan. Ada yang minta 4 Non Blonde, Andy Liany, Power Slave, Power Metal, Radiohead, U2, Bad English, The Beatles, dan Queen. Di akhir sesi kesenangan memuncak ketika chef ASCOS menjadi vokalis menyanyikan lagu Metalica dengan nge-grohl. Penampilannya selalu diikuti sama headbang pengunjung tepat di depan panggung home band.

Saya benar-benar terlempar ke masa lalu saat masih asyik-asyiknya di Bunker Café. Suasana yang bersahabat di ASCOS sukses bikin betah. Botol bir tak boleh kosong meski lambung mulai kurang ajar sakitnya. Saya memesan berbotol bir lagi sampai mereka selesai, sampai kembali ke kenyataan dan melanjutkan bosannya rutinitas. Setelah mereka pamitan, saya mengikuti kemudian. Sementara pengunjung yang lain masih betah di kursi masing-masing. Dalam hati, saya menyapa mereka: Sampai ketemu lagi di ASCOS Rabu malam. Sampai saat itu, jangan mati.