Nikmatnya Sate Matang Bireuen

Bang Min dan Warung Sate Matangnya
Bang Min dan Warung Sate Matangnya | © Alfath Asmunda

Asap tampak mengepul dari pinggir gerobak bercat hijau itu. Seorang pria paruh baya mengenakan kemeja putih, bercelana jeans, tampak sibuk mencentongi kuah kari dan sambal kacang sebagai pelengkap pesanan para pembeli. Sesekali ia lancar memainkan pisau, mengiris daging sate pesanan pembeli yang minta dibungkus.

Pria berkumis tebal itu seperti tentara yang sudah berpuluh-puluh tahun di medan perang. Ia terlihat cekatan, hapal betul seluk beluk medan tempurnya. Ingat di mana letak centong, bisa membedakan mana panci berisi kuah, dan mana panci berisi sambal kacang tanpa tertukar sedikitpun. Beberapa anak buahnya juga tampak sibuk hilir mudik meladeni pembeli.

Semua bergerak. Semua bekerja. Sesekali mereka membuang letih dengan tertawa. Yang mereka tertawakan kadang hal-hal sepele. Misal, yang bertugas di tempat pemanggangan sate, mengipas satenya terlalu kencang hingga asap mengganggu orang yang bertugas mencentong sambal kacang dan kuah kari.

Padahal yang bertugas mencentong sambal kacang dan kuah kari adalah bosnya, pemilik warung sate itu. Tapi pemandangan yang terlihat, antara bos dan anak buahnya, tidak ada sekat sama sekali. Betul-betul suasana kerja yang menyenangkan. Saya ikut tertawa melihat hal itu.

Bada Magrib jalanan kota Bireuen kembali ramai. Saya dan Ryan, dibawa oleh Faroq (teman satu kampus kami yang berasal dari kota tersebut) ke jalan Andalas.

“Kita makan dulu ya. Makanan khas Bireuen,” goda Faroq ketika menjemput kami di persimpangan tugu jalan nasional Bireuen-Medan. Kami telah menunggunya selama beberapa menit.

Di Aceh, kabupaten Bireuen terkenal dengan keripik pisang. Bermacam-macam varian keripik pisang hadir dari kota ini. Penjualnya berada di sepanjang jalan nasional lintas Sumatera. Menjadi buah tangan wajib bagi orang-orang yang melancong ke sana. Tapi saya (sudah) menduga, Faroq pasti tidak akan mengenyangi perut kami hanya dengan keripik pisang saja setelah menempuh perjalanan selama 3 jam dari Aceh Tengah ke Bireuen menggunakan sepeda motor.

“Makan sate Matang gimana, cocok? Kalian ikuti aja aku dari belakang ya,” tutur Faroq sembari melajukan kendaraannya. Saya dan Ryan mengikuti dari belakang.

Warung dua pintu tempat Sate Matang dijajakan itu letaknya di belakang pertokoan kota Bireuen. Tidak ada plang nama warung sate Matang tersebut. Orang-orang biasanya hanya menyebut dengan “Warung Sate Matang Bang Min.”

Dari tuturan Faroq, pria paruh baya yang mengenakan kemeja putih dan bercelana jeans, serta memiliki kumis tebal, itulah empunya warung. Pelanggan sering menyapanya Bang Min.

Warung sate Matang Bang Min berhadap-hadapan dengan taman bermain warga Bireuen. Kelap-kelip lampu yang menghiasai taman turut memantul ke dalam warung. Tidak jauh dari sana, Pendopo bupati Bireuen dengan gaya bangunan kolonial masih tampak berdiri kokoh.

Ketika kami sampai, di dalam warung banyak pelanggan sate Matang sedang larut menyantap sate yang terbuat dari daging kambing ini.

Kami memilih duduk di luar. Selain bisa memandang leluasa, pilihan ini juga bisa membantu mendinginkan suhu tubuh.

Maklum, daging kambing kan bisa meningkatkan suhu panas pada tubuh.

Saya celingak celinguk meninjau ke dalam warung. Memperhatikan ke segala penjuru. Lalu pandangan saya tertuju pada satu meja. Ada delapan orang laki-laki di meja tersebut. Semuanya berbaju koko, bersarung dan mengenakan peci.

“Oh pantas, ini kan kota santri,” batin saya. Di Bireuen memang banyak berdiri pesantren tradisional dan modern yang paling tersohor di Aceh. Bahkan kota ini disematkan sebagai kota santri. Jam terbangnya pun sudah mendunia. Banyak santri-santri dari luar negeri jak buet (pergi mengaji) ke kota ini. Terutama dari Malaysia dan Brunei Darussalam.

Faroq bergerak cepat. Sepertinya ia tahu perut saya dan Ryan keroncongan parah. Ia dengan segera menghampiri pelayan lalu memesan tiga porsi sate Matang.

Sedikit menyinggung sejarah, riwayat sate Matang sebenarnya amat panjang. Bagi yang pertama sekali baru mendengarnya, mungkin langsung menduga kata “matang” pada sate Matang adalah “masak”. Padahal itu jauh sekali melenceng.

Sebutan “matang” pada sate Matang, aslinya merujuk pada nama kota kecamatan di kabupaten Bireuen yang didapuk sebagai corong pertama di mana sate ini bermula. Kota kecamatan itu bernama Matang Glumpang Dua yang masuk dalam teritori kecamatan Peusangan.

Bus-bus penumpang maupun kendaraan pribadi dari Banda Aceh yang menuju Medan, atau sebaliknya, seringkali memilih beristirahat di Matang Glumpang Dua. Dan di sanalah sate Matang banyak dijajakan yang menjadi daya tarik bagi orang-orang untuk berhenti.

Seiring berjalannya waktu kini sate Matang hadir di banyak daerah. Tempat saya bermukim kini pun, Banda Aceh, tidak sulit mencari keberadaan sate Matang. Namun menyantap sate Matang langsung di daerah asalnya, tentu jauh lebih membahagiakan. Kenikmatan historisnya itu dapat. Sensasinya tuh beda! Eh…

Selagi bertukar kabar dan saling melimpahi berbagai cerita, pesanan sate Matang kami tiba. Pemuda berkaos oblong menaruh pesanan di atas meja kami dengan hati-hati. Seutas senyum ia lempar, mungkin sebagai isyarat “Silahkan nikmati sate ini. Kalian pasti akan segera lupa diri.”

Seporsi Sate Matang
Seporsi Sate Matang | © Alfath Asmunda

Tiga piring sate lengkap dengan sambal kacang, kuah kari kambing, serta tiga piring nasi telah terhidang. Saya segera mengambil satu porsi, mengeluarkan hape, dan jepret! Sebenarnya ini bukan perkara ingin memuluskan langkah untuk pamer makanan di laman media sosial. Tapi cuma sebagai bukti saja, bahwa nanti kalau ada yang bertanya apakah saya sudah pernah mencicipi sate Matang langsung di daerah asalnya, maka foto inilah kelak yang akan berbicara. Hal ini sebenarnya tidak penting sih. Tapi buat jaga-jaga boleh lah.

Saya menyiram kuah kari kambing itu ke nasi. Sejurus kemudian sesendok nasi saya daratkan ke mulut, sambil diikuti setusuk sate yang sudah dicocol dengan sambal kacang.

Pecah…

Saripati daging kambing, kuah kari yang gurih, dan sambal kacang menari-nari indah di dalam mulut. Cuma ada satu yang bisa saya tuliskan kata: enak! Tanpa mempedulikan yang lain, saya sibuk berjibaku menandaskan makanan ini.

Lalu benar, saya seperti orang yang sedang lupa diri di hadapan seporsi sate Matang Bang Min.

Daging kambing pada sate Matang berbeda dengan sate berbahan dasar daging kambing yang pernah saya makan. Sate Matang, dagingnya dipotong besar-besar. Sebelum dibakar, terlebih dahulu diremdam dalam rempah-rempah. Mungkin ini bumbu rahasia yang membuat daging sate Matang lembut dan sangat mudah dilumat hancur oleh gigi.

Sisi lain dari nikmatnya sate Matang ini adalah kuah karinya yang keruh kekuning-kuningan. Seperti kuah pada Soto. Lengkap dengan irisan daun bawang yang kian menambah rasa gurih.

Sambal kacangnya digiling, dicampur dengan cabai. Tekstur gilingan sambalnya kasar, sedikit asam, ternyata berfungsi meredam bau asap pada sate. Kalau lidah yang tidak menyukai pedas, tinggal lumuri sambal dengan kecap manis.

Sederhananya, bagi saya sate Matang ini memiliki komposisi yang pas.

Sejenak kenikmatan yang baru saya santap dari seporsi sate Matang rasanya mampu menghentikan sengkarut dunia yang fana ini. Saya betul-betul terbuai oleh kenikmatannya.

Satu porsi milik saya telah tandas. Ingin rasanya memesan satu porsi lagi, tapi saya terlanjur sadar isi dompet. Harga sate Matang tersebut 30 ribu rupiah per satu porsi. Murah, untuk ukuran kenikmatan dan sensasi pecah yang ditimbulkan ketika menyantap seporsi Sate Matang. Mahal bagi saya yang masih berstatus mahasiswa. Harap maklum yaa…

Sial memang. Kalau saja saya tahu pada akhirnya kami ditraktir oleh Faroq, tentu saya tak meninggalkan kesempatan berharga itu untuk minta tambah. Sebab, sebagaimana teori asal-asalan yang diciptakan oleh anak kost: “Senikmat apa pun rasa makanan, rasanya jauh semakin nikmat kalau ditraktir teman!” Ya kan?

Alfath Asmunda

Mencintai kopi seadanya. Namun mencintai kamu, iya kamu, sepenuhnya.