Nikmati Kehangatan Nasi Pecel Di Puncak Gunung Lawu

Olahraga yang paling asyik, sambil jalan-jalan dan tentu saja menikmati alam bebas yang menggairahkan jiwa salah satunya adalah mendaki gunung. Ini sebuah alternatif olahraga yang bisa dilakukan sebulan sekali dengan catatan kamu harus menyisihkan uang kencanmu. Kenapa begitu? Ya, sudah pasti karena olahraga ini akan lumayan menguras isi dompetmu yang memang sudah tipis sejak awal. Hehe…. tapi itu bukan menjadi masalah krusial jika kamu menjalankan olahraga ini dengan beramai-ramai. Sebab jumlah temanmu yang banyak nanti saya yakin kamu bisa ngirit. Hem…Hem..Hem..

Selain itu, kini mendaki gunung “lagi” menjadi olahraga alam yang digemari. Ini mungkin karena euforia sebagai penonton film 5 cm menyebabkan banyak orang ngiler kepingin tahu rasanya mendaki gunung. Dan yang paling penting, ini adalah waktu yang pas untuk mendaki gunung, cuaca yang sangat mendukung.

Salah satu gunung yang sering menjadi tujuan para penyuka olahraga alam ini ialah Gunung Lawu. Gunung Lawu menyuguhkan hamparan alam yang aduhai sangat indah. Gunung ini terletak di perbatasan Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah terbagi atas tiga kabupaten yaitu Karanganyar, Ngawi, dan Magetan. Untuk mencapai puncak gunung ini kita tidak perlu membawa bekal yang banyak, sebab tersedia warung makan hampir di setiap posnya.

Estimasi waktu yang harus ditempuh kira-kira tujuh jam, agar sampai puncak Hargo Dumilah. Ada sekitar lima pos yang harus dilewati para pendaki gunung. Seperti yang sudah saya jelaskan di atas bahwa kita tidak perlu membawa banyak-banyak logistik sebab hampir setiap pos pasti ada warung yang buka. Kita bisa santai leyeh-leyehdi setiap pos sembari menikmati gorengan hangat yang baru saja diangkat dari penggorengan. Hmmm, bisa dibayangkan, sensasi enaknya gorengan itu ketika dinikmati di atas gunung sembari menikmati indahnya pemandangan alam.

Dari semua keunikan yang ditawarkan oleh Gunung Lawu mulai dari suguhan pesona alam yang eksotis, tidak perlu bawa banyak logistik, dan satu hal lagi yaitu nasi pecel. Yup, nasi pecel memang makanan yang sepertinya sudah lazim kita nikmati sehari-hari. Tapi tunggu dulu, sebab warung nasi pecel di puncak Gunung Lawu merupakan warung legendaris yang wajib didatangi para pendaki gunung. Sebenarnya ada banyak warung yang menyediakan nasi pecel namun jauh sebelum warung-warung lain berdiri dulunya hanya ada satu warung di puncak yaitu warung Mbok Yem. Belum afdol rasanya kalau kamu naik gunung Lawu tapi belum makan nasi pecel di warungnya Mbok Yem.

Spanduk penanda warung pecel mbok Yem
Spanduk penanda warung pecel mbok Yem | © Ni’matun Naharin

Mbok Yem, begitulah namanya disapa setiap pendaki yang mampir di warungnya. Warung yang ditata sedemikian rupa, tidak terlalu luas dan mewah ini begitu menentramkan hati para pendaki. Terutama saat cuaca buruk, warung ini menyediakan tempat berteduh yang lumayan nyaman untuk berada di atas gunung. Di dalamnya hanya berupa lantai tanah yang ditutupi tikar sederhana dengan atapnya dari terpal.

Harga seporsi nasi pecel ini bisa kamu dapatkan dengan merogoh kantong sebesar Rp12.000,- ditambah Rp3.000,- untuk segelas teh hangat. Kamu akan mendapatkan sepiring nasi pecel ditambah telur mata sapi di atasnya. Murah bukan! Tentu saja harganya memang berbeda jika kita beli di warung depan kampus-kampus sana. Percayalah, jika kamu protes, memangnya kamu mau buka warung di gunung dengan segala resikonya? Jadi harga bukan soal sebab yang paling penting adalah bagaimana kita menghargai kerja keras orang lain.

Suasana pemandangan alam ketika menikmati nasi pecel di warung Mbok Yem.
Suasana pemandangan alam ketika menikmati nasi pecel di warung Mbok Yem. | © Ni’matun Naharin

Mbok Yem merupakan orang yang pertama kali memprakarsai berdirinya warung di atas puncak gunung ini. Meski terbilang terlalu ambil resiko nyatanya beberapa tahun kemudian warung-warung lain menyusul berdiri. Warung-warung ini di kemudian hari mendapat julukan sebagai warung tertinggi di Indonesia. Bayangkan saja, kalau mau ke warung ini kita harus mendaki sejauh 3265 meter di atas permukaan laut (mdpl). Tentu ini bukan perjalanan tamasya biasa, kita menghabiskan tenaga kita untuk mencapainya. Namun, semua lelah kemudian terobati dengan keindahan alam dan kehangatan warungnya. Apalagi kita tidak perlu susah-susah membawa tenda untuk menginap sebab semua disediakan warung-warung ini.

Bagaimana, kamu tertarik untuk mengunjungi warung tertinggi di Indonesia ini. Silakan atur jadwal keberangkatan. Kamu bisa kenalan dengan teman-teman pendaki dari seluruh pelosok negeri ditambah hangatnya nasi pecel dicampur perasaan haru karena suatu saat kamu pasti kepingin mengunjungi Mbok Yem lagi. Segeralah sisihkan uang jajanmu kita melancong kesana lagi.

Ni'matun Naharin

Tukang ngalas yang suka kuliner dan belajar nulis.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405