Nguntut Kopi

Pernah nguntut kopi? Kalau Anda pernah tinggal lama di Jawa, kemungkinan pernah mencoba menikmati kopi dengan cara nguntut. Dan, bisa dipastikan kalau Anda lahir di Jawa tak akan asing dengan istilah itu. Daripada tebak-tebakan, mendingan aku bercerita pengalamanku.

Istilah nguntut aku tak tahu secara pasti berasal dari kata apa. Istilah ini setahuku tak hanya berlaku untuk kopi, tetapi juga makanan yang bisa dimakan dengan cara digigit secara lembut, sedikit demi sedikit, dan sesekali dikulum.

Kebiasaan ini dimiliki orang Jawa, terutama di daerah kelahiranku, Kebumen, Jawa Tengah. Sekitar 90-an permen tak beraneka warna dan jenis seperti sekarang ini. Permen yang populer sewaktu itu jumlahnya terbatas: permen cicak (permen warna-warni dengan ukuran kecil dan biasanya isinya kacang kedelai), permen jahe dan permen asem. Lantaran jumlahnya yang terbatas, sebagai pengganti permen, anak kecil terbiasa nguntut kopi. Kopi dicampur dengan gula yang komposisinya lebih banyak, kemudian sedikit demi sedikit dimakan dan dikulum tanpa diseduh dengan air.

Dalam hal nguntut kopi aku tak tahu siapa yang mengajari. Mungkin simbah perempuanku. Setahuku, jarang sekali perempuan di kampungku yang menjadi penikmat kopi. Sebagian besar dari mereka lebih menikmati teh pahit. Tapi, simbahku berbeda. Ia seorang penikmat kopi sejati, tiada hari tanpa minum kopi dan tak lupa teman setianya (rokok).

Aku sering membawa campuran gula dan kopi dalam plastik bening setengah kiloan atau kalau tak ada plastik cukup pakai kertas. Bungkusan kopi campur gula itu biasanya dibawa saat bermain. Memakan dengan cara menjumputnya sedikit lalu dimasukkan ke mulut, selanjutnya hanya menggunakan ujung ibu jari untuk mengambilnya karena otomatis kopi+gula akan menempel akibat lelehan ludah yang menempel. Kalau dipikir-pikir, jorok banget ya? Tapi waktu itu, cara ternikmat menikmati kopi ya dengan nguntut. Rasanya luar biasa enak, layaknya menikmati ‘permen kopi’. Mungkin permen kopi pun terinspirasi dari kebiasaan ini.

Aku merasa nguntut kopi jauh lebih nikmat dibandingkan minum seduhan kopi. Faktor usia kemungkinan yang mempengaruhi. Anak kecil memiliki kecenderungan senang mengulum sesuatu. Meraka kurang bisa menikmati air seduhan kopi layaknya orang dewasa. Kadar kemanisan kopi untuk nguntut dengan kopi yang diseduh juga berbeda. Jika nguntut perpaduan gula lebih banyak dibandingkan kopinya. Jadi lidah anak-anak lebih menyukainya.

Merek kopi yang biasa kumakan berasal dari racikan lokal: Kopi Djempol. Produk kopi ini diolah di pabrik yang ada di sekitar pasar Tumenggungan, Kebumen. Kopi Djempol merupakan brand kopi di Kebumen. Dari kota hingga pelosok desa, merek kopi ini pasti tergantung di toko-toko kelontong.

Selagi kecil pula aku juga hobi nyruput wedang kopi simbah. Kebiasaan itu terus kulakukan hingga maag akut datang. Gara-gara asam lambung meningkat dan mengakibatkan kejang otot perut, aku mulai mengurangi konsumsi kopi. Tetapi, aku tak mau berhenti total. Rugi rasanya jika tak menikmati minuman senikmat itu.

Usiaku bertambah. Belakangan aku menyadari, ternyata setiap penikmat kopi memiliki takaran sendiri-sendiri kala menyeduh kopi, terutama kopi tubruk. Simbah memiliki takaran dua sendok teh penuh kopi, satu sendok makan gula (tidak penuh). Takaran itu berlaku sampai saat ini, dan akan berhenti hingga beliau meninggal nanti. Suamiku yang juga penikmat kopi punya takaran yang berbeda dengan simbahku. Ia biasanya menakar satu sendok makan gula dan satu sendok makan kopi. Belakangan ini, ia punya kebiasaan mencampur seduhan kopinya dengan sebatang kayu manis. Suamiku maniak dengan kopi lokal Jambi dengan merek AAA. Katanya, dari sekian kopi tubruk yang pernah ia nikmati, hanya kopi itulah yang paling nikmat di lidahnya.

Saat kuliah produk-produk kopi instan mulai bertebaran. Aku beralih pada kopi instan. Semester awal masih suka dengan original coffee dari salah satu produk yang harganya saat itu Rp 300,-. Lalu mulai mencoba kopi instan dengan berbagai rasa, moccachino, cappucino, dan lainnya. Lama kelamaan, mungkin karena kebiasaan dan penyakit maag yang kurang bersahabat, lidahku jadi kurang suka dengan rasa pahit kopi murni. Kopi instan terutama yang sudah dicampur dengan creamer, mocca, cokelat dan lainnya, ketika diseduh nyaris tak terasa pahit. Itu lebih kusukai karena lebih bersahabat dengan lambungku.

Meski aku tak begitu ahli soal kopi, namun aku punya selera kopi murni sendiri. Kopi itu baunya tidak langu. Aroma kopinya tercium wangi khas. Entahlah, aku sendiri tak bisa menggambarkannya secara lebih rinci..

Ada beberapa cara penyeduhan kopi yang bagiku cukup aneh dan unik. Kopi yang diseduh dengan cara yang menurutku cukup aneh ya kopi joss di sekitar Tugu Jogja ( Segelas Kopi Joss di Stasiun Tugu). Baru sekali seumur hidupku mampir ke situ. Malam itu pukul 11.00, kami dengan berbonceng tiga dengan kawan-kawanku menikmati kopi yang diseduh dengan mencemplungkan bara api ke dalamnya. Hatiku berucap: uenak tenan, dan lidahku merasakan buket (legit). Sayang sekali belum ada kesempatan ke sana lagi.

Seduhan yang unik selanjutnya ialah dengan mencampurkan durian ke dalam larutan kopi. Ini kebiasaan orang Sumatra. Suamiku yang memperkenalkannya pertama kali. Bayangkan, durian kan makanan yang panas di lambung dicampur pula dengan kopi yang keras di lambung. Maknyooos!!! Sebenarnya enak, tapi lagi-lagi lambungku membuatku untuk tidak terlalu banyak mengonsumsinya. Lalu ada kopi kayu manis, kopi daun ( Kopi Daun) dan kopi campur daun ganja. Dua yang terakhir ini belum pernah kucoba.

Itu cerita tentang petualanganku soal kopi. Kembali lagi ke kisah masa kecilku yang hobi nguntut kopi. Pengalaman ini yang paling berkesan di hati tentang aku dan kopi.

Kebiasaan ini terbawa sampai sekarang, meski tak separah waktu kecil. Setiap ada produk kopi terbaru, aku berusaha mencicipinya dengan nguntut, tidak langsung diseduh. Kalau enak langsung kuseduh, kalau tidak ya tetap kuseduh tetapi kuberikan pada suamiku. Mau coba nguntut kopi?

Puteri Soraya Mansur

Pengajar yang suka menulis puisi dan cerpen.

  • Kopi Jambi AAA itu memang banyak yang bilang enak mas… 🙂