‘Ngopi Tipis Tipis’ di Kopi Layak Minum

Pengunjung membikin kopi sendiri
Pengunjung membikin kopi sendiri | © Herman

Baru sekian tahun belakangan ini, saya mulai mengenal banyak sekali kedai dan warung kopi bermunculan dengan berbagai konsep, juga dengan berbagai sajian jenis kopi atau kudapan. Kota Malang saat ini semakin bergairah dihidupi penduduknya. Rasa-rasanya, sebagai kera ngalam tulen, saya baru menyadari yang demikian.

Ketika pulang kampung dari rantau, saya selalu sempatkan jalan-jalan memutari kota. Memang kota Malang semakin ramai, tak seperti dulu. Zaman terus berubah, manusia bergerak mengikutinya. Rupanya sektor pariwisata menjadi potensi yang terus digiatkan pemerintah juga masyarakat. Bumi Arema ini semakin menggeliat dan semarak.

Suatu malam, seorang kawan mengajak saya berjumpa. Tentu saya mengiyakan. Terpaut tak jumpa kawan lama, nostalgia jadi niscaya. Ia menawarkan satu tempat untuk ngopi tipis tipis di bilangan Joyogrand, suatu daerah menuju Bukit Tidar.

Seingat saya, sekitar lima atau enam tahun lalu, daerah di belakang UIN Malang yang megah itu adalah daerah area persawahan yang cukup luas di kota Malang. Bilangan Merjosari dan Joyogrand ternyata kini juga sudah semakin banyak menjadi area perumahan dan pertokoan. Semakin semarak. Mahasiswa pun juga banyak yang tinggal di sana.

Barangkali itu yang terlintas dalam kelebat pikiran sembari menuju kedai yang disampaikan rekan saya itu. Sambil menaiki sepeda motor, perlahan, saya celingukan ke kanan-kiri, mengingat tempat-tempat yang dulu masih menjadi area persawahan atau kebun-kebun. Kini sebagian besar area itu berubah menjadi ruko dan kedai-kedai baru.

Sampailah saya di pertigaan menuju Perum Joyogrand Asri. Tak jauh dari situ, teman saya melambaikan tangan di depan sebuah gerobak bermandikan cahaya lampu neon. Agak jauh dari keramaian kedai-kedai yang saya sebutkan tadi.

“Ini dia, Bro. Kedai kawan kita, namanya Kopi Layak Minum.”

Turun dari motor, tampak pria berambut ikal sedang menjerang air panas, ditemani seorang pria jangkung sedang menekan rockpresso. Pria berambut ikal itu bernama Seftian.

“Ah, sampeyan. Kapan datang? Ayo lah duduk-duduk dulu.” Kami bersalaman, berpelukan sebab lama tak jumpa.

Seftian dan Herman meramu kopi sedari awal
Seftian dan Herman meramu kopi sedari awal | © Safak
Pengunjung sedang asyik nongkrong lesehan di atas tikar
Pengunjung sedang asyik nongkrong lesehan di atas tikar | © Safak

Malam itu langit cerah. Di Joyogrand hawa lebih dingin daripada di pusat kota, karena letaknya di kaki bukit. Suasana Kota Malang yang sejuk dan tenang seperti ini selalu membuat rindu. Kawan saya mengambil tikar di pos kamling, menggelarnya di belakang gerobak, di mulut gang yang menjadi tempat sehari-hari para barista gerobak Kopi Layak Minum beraksi mengolah kopi.

Seftian adalah teman saya selama enam tahun di salah satu madrasah pesantren di kota Malang. Saat ini, ia adalah mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Saya baru tahu kalau ia menjadi barista di kedai kopi yang sederhana ini. Dari kejauhan, saya melihat tangannya terampil memasukkan biji kopi ke penggilingan, mengukur suhu air panas, lalu menakar susu dan krimer.

Saya raih daftar menu di atas toples-toples berisi biji kopi. Suara jerangan air mendidih memecah keheningan. Di penutup toples terdapat nama-nama biji kopi: Toraja, Dampit, Karlos, Aceh Gayo, Flores juga Bali.

“Gerobak ini sudah buka sejak 2014, Mas. Dulu yang pegang Mas Ahmad Yanuar, baru terbilang sejak November lalu saya diminta untuk meneruskan bisnis yang membahagiakan ini,” ujar Seftian sambil menghias busa pesanan latte.

Di sampingnya, pria jangkung bernama Herman yang juga kawan saya itu, dengan sigap menakar biji kopi dan memasukkannya ke penggilingan.

Menurut Seftian, Kopi Layak Minum (KLM) ini tidak seramai kedai-kedai sebelah atau di pelbagai tempat yang menjanjikan kenyamanan, suasana yang nongkrongable, atau sinyal Wi-Fi yang kencang. Toh daerah Joyogrand juga cenderung masih sepi.

“Pelanggan gerobak KLM ini datang, ngobrol dengan pelanggan lainnya dengan dasar cinta dan sama-sama suka kopi. Mungkin tidak seramai tempat lain, ya. Di sini kami hanya menyediakan kursi panjang, serta tikar untuk nongkrong. Beralaskan bumi beratapkan langit, hehe,” celotehnya “ya, tapi kalau mulai gerimis agak deras dan hujan, kami biasa tidak nyeduh.” Nyeduh adalah istilah ketika kedai Kopi Layak Minum buka.

Varian kopi dan alat-alat di KLM
Varian kopi dan alat-alat di KLM | © Herman

Saya kemudian menanyakan beberapa varietas kopi dan metode pembuatannya yang tercatat di daftar menu. Saya memesan espresso kopi Karlos—namanya agak asing bagi saya.

“Oh ya, ini bisa Mas lihat toples-toples berisi biji kopi dari beragam daerah, utamanya kopi lokal seperti kopi Dampit dan Karlos,”

“Kopi Karlos?” Kedengarannya seperti nama dari negeri Amerika Latin.

“Haha. Kopi Karlos itu kopi Karang Ploso.” Saya tersenyum, tentu saja. Karang Ploso adalah satu daerah di Kabupaten Malang.

Kedai ini menyediakan pembuatan kopi metode Turkish, Vietnam Drip, rockpresso, serta tubruk. Begitupun ada Black Tea, latte, serta cappunesia.

“Cappunesia itu ya cappucino. Tapi bikinnya dengan cara ‘Indonesia’, hehe,” seloroh Seftian.

Lanjut Seftian, pengunjung KLM ini sudah dari berbagai daerah dan kalangan, baik pelajar, mahasiswa, karyawan, bahkan ulama setempat. Tempo hari, ujar Seftian, seorang pecinta kopi dari Jakarta datang untuk sekadar mencicipi beberapa kopi di KLM.

“Bahkan ada pengunjung dari Jepang, mahasiswa tamu di Universitas Brawijaya, diajak salah satu pelanggan mampir kemari. Saya tertawa mendengar dia mengeja nama-nama kopi.” Menurut Seftian, KLM ingin menunjukkan bagaimana kopi dibuat sedari awal, sehingga cita rasanya bisa dipertanggungjawabkan. Di KLM, pengunjung diperkenankan untuk membikin dan meracik kopi sendiri, serta berdiskusi terkait proses dan pengalaman ‘berkopi’ masing-masing.

“Mulai dari menakar biji, digiling, diseduh atau di-press, sampai penyajian, sehingga cita rasanya benar-benar layak untuk diminum. Ya, kalau di kedai lain, pelanggan kan tidak tahu bagaimana kopi-kopi yang mereka minum diolah sedari awal. Ini saya kira kelebihan kami, meski belum bisa dibilang seperti barista profesional,” kelakarnya “ makanya, nama gerobak kami adalah ‘Kopi Layak Minum’ untuk menjaga kekhasan itu”.

“Tidak ingin dibuka di kios?” tanya saya.

“Mungkin belum ke sana. Toh dengan konsep gerobak ini, kami bisa lebih lepas berinteraksi dengan pelanggan, begitupun satu pelanggan dengan yang lainnya. Lha ngopi kan ya asyik sambil berbagi ilmu, saling menghargai sesama, belajar berkomunikasi, istilahnya mengaji kecil-kecilan lah”.

KLM buka selepas Isya’, kurang lebih pukul 20.00 sampai lewat dini hari. Seftian menyarankan saya untuk mengikuti beberapa akun media sosial KLM, guna mendapatkan info terkini terkait KLM, termasuk info tutupnya kedai, entah karena hujan, ada kondangan, atau sang barista sedang meriang.

“Pesanan terakhir jam 00.00. Tapi kalau ada teman-teman lama kita dari madrasah mampir, biasanya obrolan ramai sampai bahkan jam setengah tiga pagi. Ya kita asyik saja,” seloroh asal daerah Sawojajar, Malang itu. “Dan lagi, kami tutup setiap akhir pekan, karena ada kegiatan pengajian rutin di kampung dekat tempat kami tinggal saat ini. Rezeki dan pengalaman boleh dicari, tapi batin kudu tetap diisi, istilahnya biar tidak kedunyan”.

Tertarik mencoba kesederhanaan, cita rasa, atau ingin meracik kopi sendiri di gerobak KLM? Sertakan waktu Anda jalan-jalan ke Kota Malang yang kreatif tapi tetap sejuk, santai dan sederhana masyarakatnya, untuk ngopi tipis-tipis di Kopi Layak Minum.

M. Iqbal Syauqi Al Ghiffary

Penulis lepas. Mahasiswa kedokteran. Penikmat Kopi.


Warning: count(): Parameter must be an array or an object that implements Countable in /home/phw/miko/xcode/class-wp-comment-query.php on line 405